Artikel Terbaru

Kita Pergi, Kita Diutus

Kita Pergi, Kita Diutus
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Saban Kamis petang, ketika melintas di depan Istana Negara Jakarta, kita akan melihat segelintir orang berpakaian hitam-hitam melakukan aksi. Mereka menuntut keadilan kepada negara agar segera menuntaskan kasus-kasus penghilang orang dan penembakan para aktivis menjelang dan sesudah rezim Orde Baru ambruk. Sebelumnya, di tempat yang sama, beberapa petani beraksi memasung kaki dengan semen. Mereka menolak pembangunan pabrik semen di wilayah kehidupan mereka. Sebentar lagi, pada 1 Mei, para buruh juga pasti akan memerahkan jalanan ibukota. Mereka akan menuntut keadilan dan kesejahteraan bagi para buruh.

Bisa jadi, hampir setiap hari, kita melihat ketimpangan, bahkan ketakadilan
yang mencoreng kemanusiaan terjadi di sekitar kita. Lantas, apa yang bisa
kita buat?

Masa Prapaskah, masa pertobatan telah kita lalui. Pada masa Prapaskah, Gereja Keuskupan Agung Jakarta mengajak kita merenungkan kata “adil” dan “beradab” seperti yang termaktub dalam Pancasila, sila kedua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Ajakan untuk “bergerak keluar” seperti ini bukanlah hal yang baru sama sekali.

Kitab Suci sudah menunjukkan kepada kita, bagaimana Allah senantiasa mengutus mereka yang percaya kepada-Nya agar “bergerak keluar”. Abraham menerima panggilan untuk pergi ke negeri baru (Kej 12:1-3). Musa mendengar panggilan Allah untuk menuntun Israel menuju tanah terjanji (Kel 3:17). Kepada Yeremia, Allah bersabda, “Kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi” (Yer 1:7). Melalui Amos, Allah juga menyampaikan kepada umat agar bertobat dan mengubah cara hidup. Amos pun memperingatkan mereka agar menghentikan ketakadilan dan penindasan serta mengubah menjadi sikap peduli kepada sesama. Amos menyerukan gerakan pembaruan, bukan pembaruan cara ibadat, melainkan cara berelasi dengan sesama.

Yesus juga memerintahkan kita agar “Pergi dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Dalam tugas perutusan, kita semua dipanggil kepada tugas perutusan “bergerak keluar”. Dan bukankah perayaan Ekaristi juga berakhir dengan seruan, “Marilah kita pergi, kita diutus”.

Dengan perutusan ini, kita diajak melangkah keluar untuk masuk ke dalam dinamika masyarakat, agar Gereja bisa semakin merasakan harapan dan kecemasan, duka dan kegembiraan dunia. Dalam Evangelii Gaudium (Sukacita Injil), Paus Fransiskus juga berpesan, “Kita semua diminta untuk mematuhi panggilan-Nya untuk keluar dari zona nyaman kita untuk menjangkau seluruh “periferi” yang memerlukan terang Injil” (EG – 20).

Melalui misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya, kita merenungkan totalitas penyerahan diri-Nya untuk dunia. Dia telah menjadi korban ketidakadilan penguasa masa itu. Namun, itulah jalan Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya atas ketakadilan, ketidakberadaban para penguasa di dunia. Dia yang sengsara, wafat, dan bangkit, menunjukkan Allah yang dengan penuh kemurahan menjadi penyelamat dunia.

Kebangkitan-Nya juga telah membuat orang-orang di sekitar-Nya mengalami
perubahan. Paskah memiliki daya ubah. Pertobatan yang kita lakoni sepanjang Prapaskah juga mesti mengubah cara berpikir, cara memandang, dan cara bersikap kita, agar semakin adil, dan semakin beradab.

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 16 Tanggal 16 April 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*