Artikel Terbaru

Sr Maria Marta SND: Taat Memegang Wasiat

Sr Maria Marta SND.
[HIDUP/Nicolaus Heru Andrianto]

HIDUPKATOLIK.comWajahnya tergerus dalam benak ibunda. Lama tak kembali jadi pemicunya.

Suster Maria Marta SND sudah 28 tahun meninggalkan kampung halamannya, sejak masuk biara Tarekat Suster-suster Notre Dame (Soeurs de Notre Dame/SND) di Pekalongan, Jawa Tengah pada 1974. Dari saat itu sampai menjalani aneka perutusan, belum sekali pun ia bertemu dengan ibu dan adik semata wayangnya di Sleman, DI Yogyakarta.

Bukan karena perseteruan dengan keluarga yang memaksa dia tak menginjak rumah. Bukan pula karena aneka karya yang menghalanginya kembali. Semua semata-mata karena ketaatan kepada ibunda. “Kalau kamu sudah masuk biara jangan menoleh ke belakang. Kalau terjadi, kamu bukan anakku lagi,” ungkapnya, mengenang pesan sang ibu.

Maria Magdalena Kasemi, sang ibu, pun tak mau melihat dan mendengar kesulitan serta kesedihan putri sulungnya. Sebab bagi istri Redemptus Radiyo, situasi itu buah dari pilihan hidup yang dikehendaki putrinya. Karena itu, Sr Marta membungkus rapat segala pergumulan hidup dalam hati. Hanya satu pribadi yang menjadi muara curahan hatinya. Dia adalah Yesus.

Ibu Menolak
Theresia Ponirah hobi membaca sejak kecil. Tapi bahan bacaannya agak nyeleneh dibandingkan anak-anak seusianya. Ia suka membaca buku “Among Sukma”, kisah para orang kudus. Lebih mencengangkan lagi, kendati masih duduk di bangku sekolah dasar, bocah itu sudah menyantap buku Imitatio Christi karya Thomas Kempis.

Ponirah begitu menikmati buku-buku itu. Saat beranjak dewasa, ia mengakui, buku-buku yang ia baca ketika kanak-kanak memberi banyak inspirasi soal kesetiaan, ketulusan, dan kepasrahan. Buku-buku itupun punya andil dalam menumbuhkan ketertarikan menjadi biarawati.

Ponirah ingin mengenakan habet kelak. Keinginan itu tertanam sejak ia kelas 3 SD. Orangtua Ponirah sama sekali tak mengubris keinginan putrinya itu. Sebab bagi mereka, tiap anak pasti selalu memiliki impian menjadi ini dan itu. Namun sering terjadi, profesi yang kemudian digeluti justru berseberangan dengan cita-cita masa kecil.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*