Artikel Terbaru

Beato Frédéric Janssoone OFM: Misionaris Penjaga Kota Suci

Sebuah lukisan di Museum Beato Frédéric Janssoone OFM.
[tourismetroisrivieres.com]
Beato Frédéric Janssoone OFM: Misionaris Penjaga Kota Suci
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comIa menjadi misionaris di Kota Suci. Bakat dan kemampuannya mencari derma menjadi berkat bagi usaha pemugaran situs-situs suci di Yerusalem.

Ribuan peziarah memadati lorong-lorong batu yang sempit di Kota Tua Yerusalem. Mereka akan mengikuti prosesi tradisional Jumat Agung melewati Via Dolorosa, ‘jalan duka’. Mereka menyanyikan madah Paskah ketika tiba di perhentian ke-14. Menakjubkan dan mengharukan ketika mengenang penderitaan Yesus di tempat dulu ia menjalani penderitaan itu.

Sejurus kemudian, Pater Frédéric Janssoone OFM bersama para peziarah mengadakan Ibadat Jumat Agung. Biarawan Ordo Saudara-saudara Hina Dina (Ordo Fratrum Minorum/OFM) ini mendapat tugas memimpin ibadat di Kapel Kalvari yang berada di perhentian ke-11: “Yesus Dipaku pada Kayu Salib”. Di kapel yang kini dilayani para Fransiskan ini, Pater Frédéric mengajak umat merenungkan kisah sengsara Yesus. Prosesi Jumat Agung berakhir dalam labirin gua dari Gereja Makam Kudus, tempat Yesus dimakamkan. Kisah Jumat Agung tahun 1870-an ini menjadi kisah manis Pater Frédéric. Ia dikenang sebagai misionaris Fransiskan yang merintis pemugaran situs-situs suci di Yerusalem.

Keluarga Pemaaf
Frédéric lahir dalam keluarga petani kaya. Sejak kecil, bungsu dari 13 bersaudara ini hidup serba berkecukupan. Sang ayah, Pièrre Janssoone, tak pernah menolak apa saja keinginan dari anak-anaknya. Sementara Isabelle Bollengier, sang ibu, seorang perempuan taat dan bestari. Kendati memiliki banyak anak, Pièrre dan Isabelle berusaha memberikan kasih sayang sama rata kepada anak-anak-nya. Karena itu, kultur saling memaafkan dan sikap adil menjadi habitus dalam keluarga Janssoone. Para tetangga acapkali memanggil mereka famille pardonnant, “keluarga pemaaf”. Demikian pula soal hidup rohani. Mereka selalu menghadiri Misa Harian dan Doa Rosario. Isabelle juga gemar Novena Keluarga Kudus untuk keluarganya. Suatu ketika, kabar duka menghampiri. Pièrre meninggal tatkala melakukan perjalanan bisnis. Kematian itu mendatangkan duka yang amat mendalam. Keluarga ini pun jatuh miskin.

Peristiwa ini terjadi ketika Frédéric baru menginjak usia sembilan tahun. Frédéric terpaksa meninggalkan bangku sekolah di Notre Dame des Dunes Institute, Dunkirk, Perancis karena keluarganya tak bisa lagi membiayai pendidikannya. Rupanya, kepiawaian sang ayah berdagang mengalir dalam diri Frédéric. Lelaki kelahiran Ghyvelde, 19 November 1838 (kini Ghyvelde, sebuah desa di Keuskupan Agung Lille, Perancis) ini punya keahlian dalam berkelontong. Ia lalu menjadi salesman di pabrik tekstil. Dalam bekerja, ia pandai mengambil hati orang. Kehadirannya membawa spirit baru dalam pabrik yang dulunya hampir bangkrut itu.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*