Artikel Terbaru

Pastor Paroki Bukan Manajer

Pastor Paroki Bukan Manajer
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Dewasa ini banyak paroki dijalankan menurut prinsip manajemen modern. Tata kelola manajerial berdasarkan prinsip tersebut bisa mencegah antara lain inefisiensi, korupsi, dan kesibukan yang tak menghasilkan sesuatu yang konkret. Cara ini bahkan mencegah terjadi pengangguran terselubung bagi banyak karyawan paroki dan karyawan lain. Tata kelola manajemen mendorong perumusan tujuan obyektif yang jelas, patokan aturan tertentu, dan cara kerja sebuah tim yang terpadu.

Top manajement menetapkan kebijakan tertinggi dan menyeluruh. Sedangkan middle dan lower manajement melaksanakannya dalam bidang-bidang terbatas. Manajemen paroki pun ditunjang alat-alat komunikasi modern dan teknologi informatika yang canggih. Muncul pertanyaan: Apakah pastor paroki itu seorang manajer? Apakah karya pastoral disamakan begitu saja dengan tata kelola perusahaan? Apakah pastor paroki lebih banyak waktu duduk di kursi dalam sekretariat paroki sambil mengutak-atik komputer dan lain lain?

Kitab Hukum Kanonik menegaskan bahwa pastor paroki adalah gembala paroki, melayani paroki dengan menjalankan tugas mengajar, menguduskan, dan memimpin jemaat (Kan. 519). Tugas seorang pemimpin adalah menentukan arah, membangun visi masa depan, menjalin kerjasama dengan umat, menyampaikan visi, memberi motivasi dan inspirasi, bahkan diharapkan mampu membuat perubahan.

Seorang mantan Jesuit menulis: “Pemimpin mencari tahu kemana kita harus melangkah, menunjukkan arah yang benar, membuat kita sepakat bahwa kita perlu sampai ke sana dan menyatukan kita untuk melewati rintangan-rintangan tak terhindari yang memisahkan kita dari tanah terjanji” (Chris Lowney 2005: Heroic Leadership). Kepemimpinan bukanlah sekadar teknik dan taktik. Kepemimpinan dilaksanakan dalam kehidupan setiap hari. Setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri dan bagi lingkungan sekitar. Kekuatan terbesar kepemimpinan seorang pastor paroki adalah visi pribadinya yang diwujudkan dalam contoh hidup setiap hari.

Banyak situasi tak terduga dalam kehidupan seorang pastor paroki. Tiba-tiba saja ia harus memberi pelayanan Sakramen Perminyakan kepada umat dalam bahaya mati, pelayanan viatikum dan menyelenggarakan upacara pemakaman (Kan.530). Ketika pastor paroki dipandang sebagai seorang manajer, maka pada saat itu juga ia terperangkap dan menjadi korban Peter Principle, yang berlaku dalam praktik manajemen. Prinsip manajemen dari ahli manajemen Peter Ducker berbunyi: “Setiap pejabat dalam hierarki naik pangkat sampai mencapai tingkat di mana nyata dia inkompeten.”

Manajemen berurusan dengan kepangkatan. Pastor rekan yang kompeten diangkat menjadi pastor kepala. Kalau ia tak kompeten tetap sebagai pastor rekan. Pastor kepala yang cakap menjadi Uskup. Kalau inkompeten tetap pastor kepala. Tetapi banyak pastor yang cakap akhirnya harus menerima terminal terakhir hanya menjadi pastor kepala sebuah paroki. Secara vertikal ia bisa naik lagi. Maka tidak heran, beberapa pastor paroki harus keluar dari Peter Principle secara horizontal. Mereka menambah kegiatan, seperti memberi kuliah, kegiatan sosial, dan tugas-tugas lainnya (A.M. Kadarman SJ).

Jelaslah, tata kelola manajemen membantu karya pastoral tetapi bukan segalanya. Kaum awam yang terlibat dalam dewan paroki dan seksi-seksi, berkarya dengan sukarela. Mereka tak dapat diatur secara manajerial. Pastor Paroki pun perlu waspada agar tidak menjadi korban tata kelola manajemen. “Bahaya-bahaya dari dalam bagi pelayanan imam juga ada: birokrasi, fungsionalisasi, demoderatisasi, perencanaan yang lebih manajerial dari pada pastoral. Sayang, dalam beberapa keadaan, imam dapat dikuasai struktur yang menindihnya yang membawa konsekuensi psikofisik yang negatif dan merugikan hidup rohani serta pelayanan itu sendiri” (Kongregasi Klerus 2002: Instruksi Imam, Gembala dan Pemimpin paroki, No.29).

Pastor paroki bukan top manager di Paroki. Ia adalah pemimpin dan pembantu Uskup. Paroki adalah komunitas umat beriman, bukan perusahaan. Begitu kita menerapkan prinsip manajerial di Paroki, maka pada saat itu juga paroki menjadi organisasi. Akan tetapi tanpa prinsip-prinsip manajerial selektif-akomodatif, karya pastoral cenderung liar, subyektif, sulit dipertanggungjawabkan karena tak terukur.

Jacobus Tarigan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 11 Tanggal 12 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*