Artikel Terbaru

Dosa Ekologis

Dosa Ekologis
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comHimbauan untuk melakukan pertobatan ekologis menyiratkan ada dosa-dosa ekologis. Apakah dosa-dosa ekologis itu juga harus diakukan dalam Sakramen Pengakuan Dosa? Apakah dosa-dosa ekologis itu termasuk dosa berat atau ringan? Perintah mana dari Sepuluh Perintah Allah dan Lima Perintah Gereja yang dilanggar oleh dosa-dosa ekologis? Apakah mencampurkan plastik dalam makanan gorengan yang dijual secara umum itu juga adalah dosa ekologis?

Emi Yulianis, 081333501xxx

Pertama, memang benar bahwa himbauan untuk melakukan pertobatan ekologis dilakukan karena ada dosa-dosa ekologis yang dilakukan manusia. Misal banjir disebabkan oleh penebangan pohon yang berlebihan atau oleh pembuangan sampah secara sembarangan sehingga menyumbat saluran air. Pembangunan perumahan yang tidak memperhitungkan peresapan air atau berbagai tindakan yang menyempitkan lebaran sungai. Tindakan-tindakan itu adalah perbuatan dosa. Setiap dosa perlu dimohonkan pengampunan dari Allah. Karena itu, perbuatan dosa itu perlu diakukan dalam Sakramen Rekonsiliasi.

Kadar berat atau ringannya dosa-dosa ekologis tergantung pada berat atau ringannya dampak perbuatan dosa yang dilakukan. Membuang sampah sembarangan atau lupa mematikan listrik yang tak digunakan tentu lebih ringan dosanya dibandingkan dengan menebang pohon untuk keuntungan sendiri.

Kedua, mengakukan dosa-dosa ekologis mempunyai dampak positif, yaitu pembentukan kepekaan rohani yang berwawasan ekologis. Sikap batin ekologis akan dibentuk melalui pengakuan dosa-dosa ekologis, sekalipun ringan. Katekismus berkata, “Pengakuan kekurangan sehari-hari, yakni dosa-dosa ringan, sebenarnya tidak perlu, tetapi sangat dianjurkan oleh Gereja. Pengakuan dosa-dosa ringan secara teratur adalah suatu bantuan bagi kita. Tindakan ini membentuk hati nurani kita melawan kecondongan kita yang jahat. Dengan ini kita memberi diri disembuhkan oleh Kristus dan bertumbuh dalam hidup rohani. Kalau kita dalam Sakramen ini sering menerima anugerah belas kasihan Allah, Ia lalu mendorong kita, agar kita berbelaskasihan seperti Dia” (KGK 1458).

Ketiga, Sepuluh Perintah Allah dan Lima Perintah Gereja sangat berguna untuk membantu pemeriksaan batin sebelum maju untuk mengakukan dosa. Kedua perangkat hukum ini mengatur relasi kita dengan Allah dan dengan sesama. Di dalamnya tidak ada ketentuan tentang hubungan manusia dengan lingkungan atau dengan alam semesta. Karena itu, dosa-dosa ekologis tidak bisa dirujukkan ke kedua perangkat hukum tersebut secara langsung.

Dosa ekologis merupakan pelanggaran atas penugasan Allah kepada manusia untuk “mengusahakan dan memelihara” alam semesta (Kej 2:15). Manusia tidak melayani alam semesta tetapi memanipulasi untuk kepentingan egoistis dirinya. Dosa ekologis tidak bisa dibenarkan oleh perintah Allah untuk menaklukkan dan menguasai alam semesta (Kej 1:28). Sebab dengan demikian seolah-olah perintah Allah ini memberikan izin kepada manusia untuk memanfaatkan alam semesta secara sewenang-wenang. Perintah “taklukkanlah itu, berkuasalah …” ini diberikan Allah kepada manusia yang diciptakan-Nya menurut citra-Nya (Kej 1:26-27). Maka itu berarti bahwa manusia harus menaklukkan dan menguasai alam semesta sebagaimana yang dilakukan Allah kepada alam semesta. Allah selalu tetap mempertahankan keselarasan dengan alam semesta dan tidak merusak
keselarasan tersebut.

Keempat, mencampurkan plastik ke dalam gorengan yang dijual secara umum tidak termasuk dosa ekologis, tetapi merupakan kejahatan terhadap kesejahteraan manusia. Plastik dicampurkan ke dalam makanan gorengan agar makan itu tetap gurih (crispy), padahal bahan plastik sangat berbahaya bagi kesehatan manusia yang memakannya karena bisa menjadi pemicu penyakit kanker. Tentu saja mencampurkan plastik ke dalam gorengan adalah perbuatan manipulasi untuk mendapatkan keuntungan sendiri dengan mengorbankan keselamatan orang lain. Jadi, ini adalah perbuatan yang melanggar perintah cinta kepada sesama.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 12 Tanggal 19 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*