Artikel Terbaru

Duh, Anakku Koleksi Film Porno

Duh, Anakku Koleksi Film Porno
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh budiman, saya terkejut menemukan koleksi film porno di lemari anak saya. Saya tak ingin “mengadili” kebiasaannya itu, tapi saya perlu memberikan pendidikan seksual yang baik bagi dia. Bagaimana cara agar nasihat saya bisa diterima baik, tanpa membuat ia merasa malu, minder, dan enggan menceritakan kepada orangtuanya?

Antonia Hendrina, Malang

Ibu Hendrina, saya cukup bisa memahami perasaan dan kekhawatiran Ibu mengenai hal itu. Jika ananda masih tergolong usia remaja atau masa puber, Ibu harus mampu bersikap tenang, tak emosional, dan tetap dekat dengan dia. Kita perlu memahami gejolak yang biasa terjadi pada masa remaja, terutama emosionalnya yang mudah meledak.

Mereka juga lebih memandang penting teman sebaya daripada orangtua, sehingga lebih banyak mengikuti perilaku atau kebiasaan teman daripada mendengarkan saran orangtua. Di sisi lain, mereka kurang percaya diri, merasa berbeda dengan orang lain, dan terkadang menganggap diri mampu sehingga tak butuh orangtua.

Masa remaja sering diartikan sebagai masa pencarian jati diri atau identitas diri. Pada masa ini terkadang orangtua tak ada artinya bagi mereka, atau mengesampingkan peran orangtua, sebab mereka lebih percaya dan mengikuti kata teman. Ini terjadi agar mereka diterima oleh teman-teman. Intinya, teman adalah segalanya bagi mereka.

Orangtua jangan merasa sakit hati atau tak penting bagi anak. Orangtua sebaiknya lebih memahami dan masuk ke dalam dunia remaja. Orangtua juga sebaiknya bertindak seolah-olah sebagai teman, memposisikan diri sejajar dengan anaknya, dan tak lagi menjadi pribadi yang harus selalu didengar atau dituruti oleh anak.

Jika anak sudah lebih nyaman menjalin hubungan dengan orangtua, carilah waktu yang tepat untuk berdiskusi. Tetap posisikan diri sebagai “teman”. Awalilah dengan topik umum, seperti sekolah, teman, atau kegiatan anak. Begitu komunikasi lancar, perlahan-lahan masuk ke pembicaraan dunia remaja, misal pacaran, ketertarikan antara pria dan wanita, dan seksualitas.

Hati-hati dan jangan terlalu serius. Bila anak Ibu hobi membaca, belikan buku-buku seputar remaja, berkaitan dengan masalah seksualitas. Bila semua berjalan baik, mulailah menyinggung soal koleksi film porno miliknya. Perlu diungkapkan juga seandainya dia ingin tahu tentang perilaku seksualitas, itu lumrah terjadi bagi semua orang.

Setelah ia mengetahui, perlu memahami perilaku yang pantas atau tidak dilakukan. Ajak anak berdiskusi terbuka agar mereka jangan sungkan. Orangtua jangan menganggap, menjelaskan perilaku seksual sebagai hal tabu. Anak perlu mendapatkan informasi yang tepat tentang seksualitas.

Anak butuh pendampingan orangtua soal seksualitas, agar tak mencari dan bertanya sendiri, demi menghindari kemungkinan menerima informasi yang tak tepat. Anak juga bisa mencari informasi tentang seksualitas dari buku atau sumber online. Meski demikian mereka harus tetap berada dalam pengawasan dan pendampingan orangtua masing-masing.

Emiliana Primastuti

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 12 Tanggal 19 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*