Artikel Terbaru

Suara Paus bagi Para Migran

Paus Fransiskus berpidato di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat.
[reugers.org]
Suara Paus bagi Para Migran
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSejak terpilih, Paus Fransiskus tak lelah berbuat dan berseru agar Gereja dan dunia membuka hati bagi para migran. Keprihatinannya ini tak lepas dari masa lalu sebagai anak imigran.

Hassan Zahida dan istrinya, Nour Essa, tak menyangka bisa menghirup udara segar di Roma, Italia. Pasangan asal Suriah ini adalah satu dari tiga keluarga yang dibawa Paus Fransiskus ke Vatikan pada akhir kunjungannya di Lesbos, Yunani, April 2016. Di Kota Abadi, Hassan dan Essa bisa hidup “normal” berkat bantuan Paus Fransiskus lewat Komunitas Sant’Egidio.

Kepada Surat Kabar Vatikan, L’Osservatore Romano, 17 Maret 2016, Hassan menceritakan bahwa tiga hari sebelum meninggalkan Lesbos, ia berkunjung ke kamp pengungsian Kara Tape, Suriah. Di sana, ia diberitahu bahwa keluarganya terpilih ke Roma. Tetapi tidak ada kepastian dengan apa dan bersama siapa ia akan ke Roma. Hassan baru mengetahui informasi detail dari anggota Komunitas Sant’Egidio yang mengatur visa mereka. “Mereka mengatakan, kami akan pergi dengan Paus,” ungkap Hassan.

Hassan dan Essa bersama seorang putra mereka kini tinggal di Roma. Berkat Bapa Suci, Essa bisa melanjutkan kuliah di Fakultas Biologi Universitas Tre Roma. Saat kunjungan ke universitas tersebut pada 17 Februari 2017, Paus Fransiskus bertemu dengan mereka. Dalam pertemuan itu, Paus berpesan agar Essa melanjutkan hidup secara normal. “Saya akan mengatakan kepada orang Italia, kami bukan teroris. Kami hanya keluar dari negara, karena perang,” ungkap ahli mikrobiologi ini, seperti dilansir Vatican Radio, (18/2/2017).

Budaya Perjumpaan
Keprihatinan Paus bernama asli Jorge Mario Bergoglio ini sejalan dengan keprihatinan dunia terhadap fenomena migran belakangan ini. Pada 2015, Komisi PBB urusan pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR) mencatat, sekitar 13 juta warga keluar dari negaranya. Sisanya masih bertahan di negara masing-masing sebagai imigran kota (urban refugees). UNHCR merilis, hampir 480 juta orang telah tiba di Eropa dan sedikit nya 600 ribu imigran masih berjuang melewati Laut Mediterania menuju Yunani dan daratan Eropa yang lain. Dalam eksodus besar-besaran itu, tak sedikit yang meregang nyawa sebelum sampai tujuan.

Dalam forum Integration and Development: From Reaction to Action di Scalabrini Internasional Migration Network, Vatikan, 21-22 Februari 2017, Paus Fransiskus mengatakan, para imigran terkadang dianggap “tidak layak”. Mereka sering dicap pendatang, bahkan penyelundup, atau “manusia perahu”. Ketakpedulian terhadap imigran, kata Paus, karena retorika populis yang berkembang saat ini yaitu imigran bukan bagian dari kita. “Perlu ada perubahan sikap; bermurah hatilah kepada mereka. Kita harus membuka hati agar mereka menemukan tanah terjanji,” kata Paus, seperti dilansir Catholic News Service, (21/2/2017).

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*