Artikel Terbaru

Mgr Dominikus Saku: Jadilah Teman Para Migran

Mgr Dominikus Saku.
[NN/Dok.HIDUP]
Mgr Dominikus Saku: Jadilah Teman Para Migran
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comGereja Katolik mesti menjadi hati Tuhan dan teman seperjalanan bagi para migran dan perantau. Para korban harus diberi kesempatan berbicara.

Isu migran yang mencuat beberapa tahun terakhir tak lepas dari sosok Paus
Fransiskus. Selain karena sedang terjadi eksodus besar-besaran ke Eropa, tindakan pastoral Paus Fransiskus juga turut memanaskan isu ini. Paus Fransiskus berulang kali mengetuk pintu negara-negara Eropa untuk membuka gerbang guna menerima dan memberi rasa aman bagi para imigran. Paus juga menghendaki agar Gereja menjadi rumah berdiam bagi mereka yang terpaksa meninggalkan negaranya karena perang, kemiskinan, dan kekerasan sosial.

Indonesia tentu juga terkena imbas isu global ini. Di Indonesia, bisa jadi para pencari suaka bukan melulu mereka yang terdepak akibat perang, tetapi mereka yang tercerabut dari lingkungan sosial akibat tekanan sosial dan strukturisasi kemiskinan. Maka Gereja Indonesia pun harus berbuat sesuatu. Berikut petikan wawancara dengan Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Konferensi Waligereja Indonesia (KKP-PMP KWI) Mgr Dominikus Saku.

Paus Fransiskus menegaskan keberpihakan kepada kaum migran. Bagaimana tanggapan Bapak Uskup?

Tindakan Paus Fransiskus yang penuh perhatian kepada kaum migran adalah ungkapan pastoral terhadap situasi hidup malang yang dialami orang-orang kecil, lemah, tak berdaya, yang terpaksa mengungsi ke negara lain karena keberingasan dan kekejaman mereka yang merasa berkuasa, yang berkemampuan, dan kebetulan punya kesempatan. Itulah ungkapan solidaritas, cinta kasih dan perhatian pastoral, preferential option of the poor with the fellow poors. Tindakan Paus Fransiskus juga merupakan ungkapan rasa tanggung jawab terhadap kemanusiaan yang terluka, ternodai, dan tercederai. Lewat tindakan itu, ia juga mengoreksi sikap tak bermalu banyak orang yang lebih suka membunuh dan membinasakan, dan tidak pernah merasa terpanggil untuk merawat, memelihara, dan mengembangkan rasa cinta, damai, dan solidaritas.

Bercermin pada Paus Fransiskus, bagaimana Gereja Katolik harus bersikap?

Pertama, menjadi hati Tuhan melalui perhatian dan kehadiran nyata, menjadi teman dan pemerhati para migran dan perantau, agar semakin banyak orang mengalami kehadiran kasih Allah melalui Gereja. Kedua, menggalang kerjasama untuk mencegah makin meluas dan berlanjutnya tindak kekerasan dan main hakim sendiri. Ketiga, bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mencari jalan keluar agar tindak kekerasan, konflik, dan perang karena kepentingan segera dihentikan atau dikurangi. Keempat, mendorong lembaga-lembaga internasional, regional, dan nasional untuk meretas jalan perdamaian. Kelima, menggalang dan makin mengembangkan semangat cinta damai, keadilan, dan kesejahteraan hidup umat manusia.

Apa sumbangsih Gereja Katolik bagi pemerintah Indonesia terkait isu migran?

Sumbangsih Gereja Indonesia untuk isu migran dan perantau bisa dilakukan lewat promosi dan animasi Gerakan Aksi Tanpa Kekerasan (GATK), advokasi dan pendampingan bagi para korban, dan kerjasama berjejaring untuk gerakan pemberdayaan hidup umat dan masyarakat.

Bagaimana KKP-PMP KWI menyikapi isu migran?

Masalah migran dan perantau bukan hanya soal isu global, tapi realitas hidup yang makin memprihatinkan karena kesenjangan dan ketimpangan sosial. Ada banyak imigran dan perantau yang terpaksa melakukan hal ini karena terjebak, terpaksa, terbius, atau terobsesi oleh bujuk rayu dan informasi sesat. Maka pendampingan, animasi, dan penguatan kelembagaan dan kerjasama dengan berbagai pihak perlu terus-menerus digalakkan. Dialog dan retasan kerjasama perlu terus diinisiasi dengan memberi kesempatan kepada para korban untuk berbicara.

Ada anjuran praktis kepada umat Katolik?

Umat Katolik di Indonesia dihimbau untuk semakin menunjukkan keberpihakan dan sikap berbelarasa terhadap keadaan hidup para migran dan perantau, memberikan bantuan kemanusiaan, menghentikan korporasi kejahatan dalam carut-marut urusan migran dan perantau. Kita harus berjuang memutus mata rantai tindak kekerasan, mengurai lingkaran setan masalah kemiskinan, ketertinggalan pendidikan, dan membangun budaya cinta tanah air, rumah tangga, dan persaudaraan hidup Kristiani.

Stefanus P. Elu

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 13 Tanggal 26 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*