Artikel Terbaru

Benediktus Patal Kedang: Migran di Sekitar Kita

Benediktus Patal Kedang.
[HIDUP/Stefanus P. Elu]
Benediktus Patal Kedang: Migran di Sekitar Kita
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Indonesia termasuk lima negara dengan pertumbuhan penduduk tertinggi di dunia; menempati urutan ketiga, setelah India dan Tiongkok, di atas Nigeria dan Pakistan. Dalam hal populasi penduduk dunia, data CIA World Factbook 2016 menempatkan Indonesia di urutan keempat (258.316.051), setelah Tiongkok (1.373.541.278), India (1.256.883.598) dan Amerika Serikat (323.995.528).

Pertumbuhan penduduk Indonesia di atas 1,4 persen per tahun dan pertumbuhan ekonomi di atas lima persen pada 2016, dengan jumlah pengangguran terbuka sekitar 7,2 juta orang (data BPS 2016). Dengan angka ini, tenaga kerja yang terserap berkisar 1,5-2 juta orang, sehingga jumlah pengangguran terbuka masih tetap tinggi. Sementara di negara lain, tingkat pertumbuhan penduduk rendah, sementara populasi penduduk usia tua tinggi. Maka permintaan tenaga kerja asing tinggi. Karena itu, tidaklah mengherankan apabila migrasi penduduk Indonesia dengan tujuan bekerja tak dapat dihindari.

Sayangnya, peningkatan jumlah migran keluar negeri belum diimbangi dengan peningkatan kualitas pekerja. Efeknya, banyak pekerja migran Indonesia yang bekerja di sektor informal, kotor, kasar, dan berisiko tinggi. Dari sanalah seringkali terdengar kisah pilu yang menimpa para migran dan keluarga yang ditinggalkan.

Kurun waktu Maret 2016-Januari 2017, empat kali kapal pengangkut TKI ilegal di perairan Riau tenggelam. Banyak orangtua memaksa anak perempuan di bawah umur bekerja ke luar negeri. Karena maraknya tindak pidana perdagangan orang ini, sampai ada daerah yang mendapat catatan “darurat trafficking”. Belum lagi sekian banyak kisah sedih lain yang patut menjadi keprihatinan.

Pertanyaannya, mengapa tetap ada sekian banyak anak manusia yang nekad
mempertaruhkan nyawa untuk bekerja lewat jalan yang membahayakan? Sepuluh tahun lebih, saya berkecimpung di Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau Konferensi Waligereja Indonesia (KKP-PMP KWI). Dunia yang membuat saya semakin memahami, di masa sekarang, migrasi adalah sebuah keniscayaan.

Gereja tidak dapat melarang umat yang akan bermigrasi sebagai pekerja dan sebaliknya, tidak bisa menyuruh umat untuk bermigrasi sebagai pekerja. Gereja berkewajiban memberikan pendampingan pastoral sesuai dengan kebutuhan umat.

Dalam rangka mewujudkan kewajiban Gereja itu, KKP-PMP KWI memetakan persoalan migran menjadi dua wilayah. Wilayah sumber sebagai daerah asal migran dan wilayah transit atau daerah tujuan para migran. Di kedua wilayah ini, masing-masing memiliki karasteristik permasalahan yang berbeda dengan kebutuhan akan pendampingan yang berbeda pula. Persoalan yang timbul berkisar pada desakan ekonomi, keterbatasan informasi akan proses migrasi yang benar, juga rentenir. Keterpurukan keluarga karena ditinggal kepala keluarga untuk pergi bekerja dan berbagai kasus moral akibat relasi pasangan yang terganggu, menjadi persoalan lain yang patut juga diperhatikan.

Menghadapi fenomena migrasi sebagai dampak dari globalisasi dunia saat ini, kita perlu belajar dari Paus Fransiskus. Dalam pesannya pada Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ke-101, 2015, Paus menyebutkan, perutusan Gereja adalah mencintai Yesus Kristus, menyembah dan mengasihi-Nya, khususnya dalam diri mereka yang paling miskin dan terbuang. Pesan bertajuk “Gereja Tanpa Batas, Ibu bagi Semua Orang”, Paus juga menyebutkan bahwa Gereja adalah peziarah di dunia dan Ibu bagi semua orang. Tentu saja, di antara mereka adalah kaum migran dan pengungsi, yang berjuang untuk menyelamatkan diri dari keadaan hidup yang sulit dan segala bentuk marabahaya. Gereja membuka tangan untuk menyambut semua orang, tanpa pembedaan atau pembatasan, untuk mewartakan bahwa “Allah adalah kasih” (1Yoh 4:8,16).

Sebagai bagian dari Gereja Universal, keteladanan dan sikap Paus Fransikus terhadap migran dan pengungsi dapat menjadi inspirasi bagi kita. Kita diajak merasakan dalam hati dan budi, panggilan untuk berbelarasa terhadap penderitaan manusia dan mewujudnyatakan perintah cinta kasih yang diberikan Yesus. Ia ada dalam diri orang asing, orang yang menderita, dan dengan semua orang menjadi korban kekerasan dan eksploitasi.

Di setiap Gereja Lokal, baik Keuskupan maupun Paroki, boleh jadi wajah migran dan perantau tampil dalam wujud lain. Misal kuli bangunan, pekerja ladang sawit, pekerja tidak tetap yang sering kehilangan arah dan harapan hidup. Mereka juga terlihat dalam diri pekerja ilegal juga orang asing yang tak dapat berkomunikasi karena tidak dapat berbahasa setempat. Anak kos dari luar daerah dengan kehidupan yang memprihatinkan. Mereka membutuhkan sentuhan kasih Gereja. Paus Fransiskus sudah melakukan. Sekarang, giliran kita.

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 13 Tanggal 26 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*