Artikel Terbaru

Tujuh Sabda Terakhir Yesus

Tujuh Sabda Terakhir Yesus
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comApakah Ibadat Tujuh Sabda itu? Saya perhatikan, ada paroki yang mengadakan Ibadat Tujuh Sabda, tetapi tidak semua. Mengapa? Apakah tidak wajib? Apa saja tujuh Sabda Yesus itu?

Caecilia Artana Tirtawati, Kepanjen, Malang

Pertama, Ibadat Tujuh Sabda adalah sebuah ibadat yang diadakan pada hari Jumat Agung untuk merenungkan tujuh sabda terakhir Yesus. Ibadat ini diadakan sesudah Ibadat Jalan Salib pada pagi hari, dan sebelum ibadat Jumat Agung pada sore hari.

Kedua, ibadat ini bertujuan untuk merenungkan tujuh sabda terakhir Yesus. Kata-kata terakhir dari orang yang akan meninggal dunia dipandang sebagai sangat bermakna. Melalui Ibadat Tujuh Sabda, kita diundang untuk merenungkan, bukan hanya penderitaan Yesus ketika Dia tergantung di salib, tetapi juga pergulatan batin-Nya pada saat-saat terakhir, perhatian-Nya terhadap Ibu dan murid-murid-Nya serta penyerahan Yesus yang total kepada Bapa. Tujuh Sabda ini membuka banyak hal, yang selama ini tidak atau kurang direnungkan tentang keadaan Yesus ketika tergantung di salib.

Ketiga, memang Ibadat Tujuh Sabda ini tidak wajib dilakukan, karena itu tidak semua paroki mengadakan. Surat Edaran tentang Perayaan Paskah dan Persiapannya (No. 58-72) memang tidak mengatakan secara eksplisit tentang Ibadat Tujuh Sabda. Tetapi Surat Edaran sangat menganjurkan untuk “merayakan ibadat bacaan dan ibadat pagi dalam gereja bersama umat” (No. 62). Jadi, Ibadat Tujuh Sabda bisa dipandang sebagai pelaksanaan ibadat bacaan bersama umat.

Keempat, ketujuh Sabda itu ialah, (1) “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan” (Luk 23:24). (2) “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk 23:43). (3) “Wanita, inilah anakmu! Inilah Ibumu!” (Yoh 19:26-27). (4) “Eli, Eli Lema Sabachtani? Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46). (5) “Aku haus!” (Yoh 19:28). (6) “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku!” (Luk 23:46). (7) “Sudah selesai!” (Yoh 19:30).

Mengapa pada perarakan Kamis Putih tidak boleh digunakan monstrans? Mengapa tempat tuguran tak boleh berbentuk “makam suci”? Karena kapel di Stasi sangat terbatas, apakah boleh tempat penyimpanan dibuat dalam kapel yang sama?

Bernadette Hashimawati, 081234530xxx

Pertama, perarakan Kamis Putih adalah perarakan yang menyertai Yesus berjalan dari tempat perjamuan malam terakhir sampai di Taman Getsemani. Umat menyertai Yesus yang sedang prihatin dan sedih. Suasananya adalah kesederhanaan. Puncak keprihatinan dan kesedihan itu nampak dalam peluh darah yang mengalir dari tubuh Yesus ketika Dia berdoa. Suasana prihatin dan sedih ini tidak nampak jika perarakan menggunakan monstrans, karena kebanyakan monstrans dihiasi dan bercorak kebangkitan dan kemenangan. Jadi, monstrans tidak mencerminkan suasana yang mau dihayati pada saat tuguran Kamis Putih.

Kedua, tempat tuguran memang bukanlah makam, karena membuat tempat tuguran seperti makam berarti tidak sesuai dengan tujuan tuguran. Surat Edaran menegaskan, “tempat penyimpanan tidak dimaksudkan untuk menunjukkan pemakaman Tuhan, melainkan untuk menyimpan Hosti Suci untuk komuni pada Jumat Agung” (No. 55). Di samping itu, juga harus diingat bahwa peringatan akan sengsara dan wafat Yesus masih akan diadakan hari berikutnya, yaitu pada Jumat Agung. Membuat tempat tuguran seperti makam berarti mendahului tema Jumat Agung.

Ketiga, tidak ada larangan membuat tempat tuguran di dalam kapel itu sendiri. Hendaknya tempat yang dipilih memudahkan untuk berdoa dan bertirakat bersama Tuhan. Tentu, tetap perlu menunjukkan tabernakel kosong sebagai simbol Yesus “mengungsi” dalam keprihatinan.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 13 Tanggal 26 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*