Artikel Terbaru

Istriku Terlalu Sibuk

Istriku Terlalu Sibuk
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh, saya dan istri sama-sama bekerja. Syukur, kami libur tiap Sabtu dan Minggu. Sayangnya, sering kali istri saya mengorbankan waktu keluarga di rumah dengan segudang kegiatannya di gereja. Ia sering diminta kor perkawinan. Saya selalu menasihatinya, agar jangan selalu menerima tawaran itu. Tapi ia justru balik memarahi saya. Saya bingung, apa yang sebenarnya ia cari? Tambahan uang? Gaji kami lebih dari cukup. Pengakuan dan popularitas? Sayang, ia justru mengorbankan waktu keluarga, terutama anak-anak yang sedang tumbuh dan butuh pendampingan orangtua. Bagaimana agar istri saya berubah dan lebih bijaksana memutuskan segala sesuatu?

Robertus da Silva, Ende

Bapak Robertus terkasih, pada masa kini, banyak ayah tak mau terlibat dan kurang perhatian kepada perannya sebagai suami dan ayah dalam keluarga. Namun, Bapak justru menunjukkan perhatian istimewa kepada keluarga. Bagaimana menyikapi situasi dalam keluarga Bapak? Pertama, peran orangtua di rumah. Saat seorang laki-laki dan seorang perempuan menikah, mereka diharapkan siap menjalankan kehidupan berkeluarga, termasuk menjadi orangtua.

Menurut pandangan tradisional, suami atau ayah bertanggung jawab atas persoalan ekonomi dan pelindung keluarga. Sementara istri atau ibu mengatur internal keluarga, termasuk mengasuh anak. Tapi pandangan itu berubah kala para istri bekerja untuk membantu dan mendukung ekonomi keluarga.

Perubahan itu memunculkan harapan agar suami terlibat dalam urusan domestik, termasuk mengasuh dan mendidik anak. Kelihatannya, ini yang mungkin terjadi dalam keluarga Bapak. Kedua, istri yang bekerja dan memiliki kegiatan di luar rumah biasanya dilatarbelakangi oleh sejumlah alasan, misal membantu keuangan keluarga dan mengaktualisasikan dirinya, serta membagi pengetahuan dan keterampilan untuk orang lain.

Demi menjaga keseimbangan, selain bekerja, setiap orang punya hobi dan kesempatan untuk terlibat di dalam lingkungan sosialnya, termasuk lingkungan keagamaan. Aktif dalam kegiatan Gereja juga sangat dianjurkan. Orangtua merupakan perpanjangan tangan Gereja dan menjadi contoh atau model serta teladan bagi anak-anak.

Keaktifan ini harus berimbang, sebagai aktivis Gereja dan orangtua dalam keluarga. Seimbang bila orangtua dapat membagi waktu dengan tepat antara kepentingan menggereja dan keluarga. Ketiga, komunikasi dalam keluarga. Pola komunikasi efektif bisa tercapai dengan saling mendengarkan, peka, dan menghargai pendapat masing-masing.

Terkait keluarga Bapak, bisa dimulai dengan mengevaluasi frekuensi dialog
antara suami dengan istri, dan orangtua dengan anak. Pilihlah waktu yang tepat, tempat yang nyaman, dan perasaan sedang bahagia, cobalah untuk berdialog mengenai isi perasaan Bapak dan juga istri. Setelah itu, mulai menggali motif istri atas keterlibatan dalam berbagai kegiatan.

Telaah kembali peran sebagai orangtua, termasuk harapan Bapak terhadap istri dan sebaliknya, terutama dalam pendampingan dan pengasuhan anak di rumah, selain itu bisa membuat kesepakatan baru terkait kegiatan di dalam keluarga maupun di luar rumah. Kebahagiaan dan kehamonisan keluarga tak datang tiba-tiba, harus diolah dan diusahakan. Mari kita mengusahakan keharmonisan keluarga bersama seluruh anggota keluarga.

Fransisca Rosa Mira Lentari

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 13 Tanggal 26 Maret 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*