Artikel Terbaru

Beato Engelmar Unzeitig CMM (1911-1945): Jalan Kudus Malaikat Dachau

Beato Engelmar Unzeitig CMM.
[cmmmariannhill.org]
Beato Engelmar Unzeitig CMM (1911-1945): Jalan Kudus Malaikat Dachau
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comKamp konsentrasi Dachau disebut sebagai “biara terbesar di dunia”, karena begitu banyak imam yang ditahan di sana. Di sana pula Pastor Engelmar menyusuri jalan sucinya.

Musim semi 1941, bunga-bunga pohon Zierkirsche sudah sepenuhnya mekar di seantero Jerman. Negara itu seketika berubah merah jambu. Udara sejuk berhembus tiada henti menyelinap di setiap sudut kota. Wajah penduduk berseri, meski sadar bahwa Perang Dunia (PD) II (1939-1945) masih terus berkecamuk.

Bagi Pastor Engelmar Unzeitig CMM, keindahan itu sontak berubah kelabu. Hari itu Senin, 21 April 1941, seminggu setelah Paskah. Segerombolan tentara Gestapo, tentara Nazi, menjemput paksa Pastor Engelmar. Ia digelandang ke kamp konsentrasi di Dachau.

Dunia seakan berakhir ketika Pastor Engelmar pertama kali melihat lambang Nazi di atas pintu gerbang kamp konsentrasi itu. Pertama kali menginjakkan kaki, bayangan kengerian menyelimuti imam Congregatio Missionariorum de
Mariannhill
(CMM) ini. Di hadapannya ribuan tahanan Yahudi sudah lebih dahulu terkurung di sana. Siapa sangka, di sinilah Pastor Engelmar akan mengakhiri peziarahannya di dunia.

Keluarga Petani
Pastor Engelmar lahir di Greifendorf, Zwittau, Schönhengstgau, Jerman, dengan nama kecil Hubert Unzeitig,

1 Maret 1911. Pada masa kecil, Hubert dikenal sebagai anak yang rajin membantu orangtua. Keluarga Unzeitig telah menanamkan nilai-nilai kekatolikan kepada buah hatinya itu sejak belia. Keluarga ini tumbuh sebagai keluarga Katolik yang bahagia. Tanah pertanian mereka di Greifendorf tak begitu luas, tapi cukup untuk memberi nafkah keluarga.

Sayang, kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Beberapa waktu kemudian, kawasan Eropa dilanda PD I (1914-1918). Greifendorf yang indah tak luput dari kesengsaraan akibat perang. Perang yang melanda sebagian besar wilayah Eropa ini merenggut nyawa ayah Hubert.

Sepeninggal sang ayah, Hubert dengan kelima saudaranya dirawat sang ibu. Kondisi ini memaksa Hubert yang baru saja lulus Sekolah Dasar untuk ikut membanting tulang membantu ibunya mengolah lahan pertanian. Meski begitu, Hubert tak pernah lupa pada imannya. Ia bisa menghabiskan sisa waktu di kebun untuk berdoa. Semangat ini membuat sang ibu yakin, ada panggilan lain dalam diri putranya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*