Artikel Terbaru

Komunitas Katolik Sampoerna Strategic Square (KKSSS): Memuji Tuhan di Kantor

Komunitas Katolik Sampoerna Strategic Square (KKSSS): Memuji Tuhan di Kantor
1 (20%) 1 vote

Setelah rutin mengadakan doa Rosario, KKSSS mencoba mengadakan Misa Jumat Pertama. Itu terjadi pada 3 Februari 2012, dan dihadiri 18 orang. Tuti Suwandari adalah salah satu orang yang rutin mengikuti kegiatan rohani KKSSS. Ia prihatin karena ruangan yang dipakai untuk berdoa sangat sempit. Tuti pun menawarkan bantuan. Kebetulan, di Manulife tempat ia bekerja, tersedia ruangan yang cukup luas dan bisa dipakai. Beberapa bulan kemudian, kegiatan KKSSS pindah lokasi ke ruangan di kantor Manulife.

Untuk publikasi informasi kegiatan, KKSSS mengandalkan surat elektronik. Semakin lama, informasi soal Misa Jumat Pertama beredar luas hingga ke semua tenant yang berkantor di sana. Maria Worotikan mengakui, ia mau bergabung karena informasi yang terus disebarkan. “Karena informasi dipublikasikan semakin luas, jadi ya, saya ikut berpartisipasi,” kata Maria.

Setelah berhasil membuat Misa Jumat Pertama, anggota KKSSS sepakat mengadakan Misa Rabu Abu. Pertama kali Misa Rabu Abu diadakan pada 2015. Pada 2017 ini, KKSSS mengundang Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo untuk mempersembahkan Misa Rabu Abu.

Kegiatan rohani yang diprakarsai KKSSS ini dirasa memudahkan para karyawan Katolik yang bekerja di Sampoerna Startegic Square. Dulu, kalau mau ikut Misa mereka harus pergi ke gedung lain. Padahal waktu istirahat dan makan siang tidak terlalu panjang.

“Dulu, temen-temen Manulife lari ke Kapel Atma Jaya,” ujar Tuti. Sementara Yudana dan Alva serta rekan-rekannya yang lain ikut Misa di Gedung Intiland. Sekarang, mereka bersyukur, karena tidak harus pergi jauh-jauh. Mereka sudah bisa mengadakan Misa di gedung kerja mereka sendiri. Bahkan, mereka juga sudah punya jadwal para imam yang akan memimpin perayaan Ekaristi selama satu tahun. Selama masa Prapaskah ini, KKSSS juga mengadakan ibadat Jalan Salib.

KKSSS juga telah memiliki kelompok kor, Sinten Purun. Nama ini diambil dari bahasa Jawa yang berarti, siapa yang mau. Nama ini merujuk pada sifat dari kor ini, yakni cair atau tak ada keanggotaan resmi. “Anggotanya datang dan pergi. Makanya dikasih nama Sinten Purun. Siapa yang mau ya boleh gabung. Kadang ada yang hilang, entah karena meeting di luar kota atau karena resign,” kata Yudana yang diamini oleh rekan-rekannya. Kor Sinten Purun mengadakan latihan empat kali dalam sebulan. Anggotanya sekitar 25 orang.

Anggota KKSSS berkunjung ke Panti Asuhan Parapattan, Jatinegara, Jakarta. [NN/Dok.Pribadi]
Anggota KKSSS berkunjung ke Panti Asuhan Parapattan, Jatinegara, Jakarta.
[NN/Dok.Pribadi]

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*