Artikel Terbaru

Kisah Harapan Para Prajurit

Mgr Ignatius Suharyo menyapa para prajurit TNI-POLRI dalam acara di Gereja Katedral Jakarta.
[Dok. HIDUP]
Kisah Harapan Para Prajurit
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comOrdinariat Militer Indonesia (Ordinariatus Castrensis Indonesia/OCI) muncul dalam situasi peperangan. Hingga kini, peperangan masih terjadi meski telah berubah rupa.

Pukul 11.59 WIB, telepon selular Mayjen TNI Jacob Djoko Sarosa berdering. Rupanya ada panggilan masuk. Dugaan itu ternyata meleset. “Oh, ini panggilan saya untuk (berdoa) Angelus,” kata Jacob, saat ditemui di kantor Staf Ahli Bidang Komsos Panglima TNI, Gedung Pimpinan, Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 20/3.

Selang semenit kemudian, ia mengajak doa Angelus bersama. Jacob yang memimpin doa Malaikat Tuhan. Suami Rainy Alce Mawuntu ini juga melakoni hal yang sama bersama keluarganya di rumah. Sebagai warning untuknya, telepon genggam ia setting satu menit sebelum jadwal doa Angelus.

Kebiasaan itu merupakan salah satu buah yang ia petik dari “pohon” pendampingan OCI selama kariernya di militer. Doa itu kian membangkit keyakinannya, Tuhan selalu hadir dalam setiap karyanya.

Mengenal OCI
Jacob mengetahui OCI sudah lama. Pada 1984, ia bersama 15 taruna seangkatannya mengikuti retret selama tiga hari di Pertapaan Trappist Rawaseneng, Jawa Tengah. Kegiatan itu diadakan oleh OCI setempat. Namun, umat Paroki St Yoseph Matraman, Keuskupan Agung Jakarta ini, mengenal OCI dari Pastor Bantuan Militer Polisi (Pasbanmilpol), Romo Rufinus Neto Wuli. Bagi alumnus Akademi Militer Korps Infantri Magelang ini, pendampingan rohani bagi para prajurit Katolik sangat dibutuhkan. “Dalam tugas, ada persoalan-persoalan rohani yang tak bisa saya selesaikan sendiri tanpa konsultasi dengan rohaniwan,” akunya.

Jenderal bintang dua ini mengenang, saat retret waktu itu, ia mendapat pengalaman rohani yang sangat berpengaruh dalam perjalanan karier militernya. Jacob mengalami dilema. Di satu sisi, ada doktrin kill or to be killed; tapi di sisi lain, ada larangan jangan membunuh dalam Sepuluh Perintah Allah.

Hal ini sangat mengganggunya. Ia membawa problem itu kepada pembimbing
rohaninya, Romo Sebastian OCSO. Sang rahib berkata kepada Jacob, “Kalau kamu sudah memilih profesi sebagai tentara, tak ada pilihan lain kecuali mengikuti perintah negaramu. Kalau di sana ada benturan dengan masalah agama, ada dosa, itu ditanggung negaramu.”

Dalam refleksinya, ia menemukan, dua hal itu tak perlu dipertentangkan, lihat
situasi dan konteksnya. Pergumulan Jacob bermuara pada pemahaman terhadap prinsip minus malum, sebagai salah satu upaya mencari kebaikan dalam situasi sulit demi tetap memuliakan nama Tuhan dalam kedinasan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*