Artikel Terbaru

Selubung Masa Prapaskah

Selubung Masa Prapaskah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comApakah wajib menyelubungi salib dan patung pada Minggu Prapaskah kelima? Dari mana kebiasaan ini? Apa maknanya? Apakah Stasi-stasi jalan salib dan juga gambar kaca-timah di jendela juga harus ditutupi? Kapan selubung itu dibuka? Apakah ada upacara atau doa khusus untuk membuka selubung itu?

Agnes Sanny Leni, Makassar

Pertama, pemberian selubung pada salib dan patung-patung pada hari Minggu Prapaskah kelima sangat dianjurkan, tetapi tidak wajib dilakukan. Kebijakan untuk menetapkan hal ini diserahkan kepada Konferensi Waligereja setempat. “Kebiasaan memberi selubung pada salib-salib dalam Gereja sejak Minggu Prapaskah ke-5, dapat dipertahankan, bila diperintahkan demikian oleh Konferensi Waligereja” (Surat Edaran PPP, No. 26).

Kedua, menurut Romo Francis X. Weiser SJ, seorang ahli sejarah, kebiasaan ini berasal dari kebiasaan Romawi sebelum 500 M. Waktu itu, ada kebiasaan pada vigilia Minggu Sengsara (sekarang Minggu Prapaskah V) untuk menutupi salib, patung dan gambar-gambar suci di gereja dengan kain ungu selama dua minggu terakhir masa Prapaskah. Kebiasaan ini nampaknya diawali di kapel kepausan di Vatikan. Praksis memberi selubung ini dikaitkan dengan ayat terakhir dari Injil hari Minggu Sengsara itu, yaitu Yohanes 8:59, “… tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.” Biasanya yang ditutupi ialah salib dan patung-patung. Stasi-stasi Jalan Salib dan gambar di jendela kaca-timah tidak ditutupi.

Ketiga, salib-salib diselubungi sampai akhir liturgi Jumat Agung, sedangkan patung-patung dan gambar suci tetap terselubung sampai awal perayaan Malam Paskah. Untuk membuka selubung itu, tidak ada upacara liturgi atau doa khusus yang dilakukan.

Keempat, ada beberapa tingkat pemaknaan yang diberikan pada pemberian selubung pada salib dan patung-patung. Berdasarkan teks Yoh 8:59, makna pemberian selubung adalah sebagaimana Kristus dulu menyembunyikan diri dari kemarahan para pemimpin Yahudi, maka sekarang Kristus juga menyembunyikan keilahian-Nya sebagai persiapan untuk menjalani misteri sengsara-Nya. Kristus merendahkan diri-Nya sedemikian sampai seolah keilahian-Nya tersembunyi. Salib sebagai tanda kemuliaan disembunyikan dari mata jasmani untuk menyiapkan kita menjalani sengsara dan wafat Yesus di salib. Karena kemuliaan Sang Junjungan disembunyikan, maka kemuliaan para kudus (patung-patung) juga disembunyikan.

Dengan penyelubungan ini, kita disiapkan menjalani peristiwa Jumat Suci, yaitu melihat salib bukan sebagai tanda kemenangan Kristus, tetapi sebagai tanda kesengsaraan, penderitaan, dan penghinaan-Nya. Saat itu, keilahian Kristus seolah tertutup, seolah Dia adalah seekor ulat dan bukan manusia (Mzm 21:7). Tubuh dan seluruh sosoknya dirusak oleh deraan dan luka-luka sampai Dia tak dapat dikenali lagi. Luka-luka itu menyembunyikan keilahian dan kemanusiawian-Nya. Itulah makna selubung kain ungu yang menyembunyikan Sang Penyelamat. Ini adalah persiapan jangka pendek untuk menyertai Kristus dalam sengsara dan wafat-Nya.

Dari pengalaman umat, penyelubungan salib dan patung-patung ini membuat umat “merasa kehilangan salib” selama dua minggu. Salib yang biasa menjadi arah doa kita seolah “menghilang” dari pandangan. Rasa kehilangan ini akan menimbulkan kerinduan akan salib Kristus. Kerinduan ini menjadi pendorong yang baik untuk menyambut kehadiran dan penghormatan salib dalam upacara Jumat Suci. Kerinduan ini juga menghangatkan kembali kesadaran umat akan salib Tuhan sebagai tanda sengsara dan wafat Tuhan yang menebus kita. Kesadaran ini akan menimbulkan rasa syukur dan terima kasih atas semua sengsara yang sedemikian hebat yang dijalani Kristus untuk keselamatan kita. Maka balas budi atas semua kebaikan Tuhan ini adalah pertobatan dan kasih kita kepada Tuhan Yesus Kristus.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 14 Tanggal 2 April 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*