Artikel Terbaru

Anakku Malas ke Gereja

Anakku Malas ke Gereja
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh, anak pertama saya hampir selalu saja ada alasan untuk tak mau ke gereja. Saya dan suami dibuatnya geregetan. Ia malas mandi, minta dimasakin ini-itu, sampai-sampai kami harus “membayar”-nya, agar ia mau ke gereja. Tak heran, tiap pagi sebelum ke gereja selalu diwarnai keributan antara kami dengan putra sulung. Bagaimana kami menanganinya?

Adelheid Chrysana, Yogyakarta

Ibu Adelheid terkasih, pada era digital di mana gadget menjadi bagian anak sehari-hari, tantangan orangtua menjadi semakin besar. Bila anak enggan ke gereja, bisa terbersit rasa bersalah, karena janji di depan altar adalah mengajarkan iman Katolik kepada anak, salah satunya adalah membantu anak untuk mencintai Misa.

Langkah penting pertama adalah mengenali apa yang membuat anak enggan ke gereja. Membicarakan hal ini dengan anak akan membantu orangtua memahami permasalahan. Setelah itu, mendiskusikan solusi alternatif dan menyepakati keputusan bersama antara anak dengan orangtua.

Ada sejumlah faktor eksternal dan internal penyebab anak enggan ke gereja. Pertama ritual di sejumlah gereja dianggap membosankan, dibanding gadget yang sangat interaktif. Kedua, cara orangtua membiasakan anak ke gereja kurang mengedepankan komunikasi yang baik, mungkin memaksa atau membiarkan.

Ketiga, bila orangtua sering duduk di barisan belakang, luar, atau datang terlambat, anak merasa kurang terlibat atau connected dengan Misa. Lama-kelamaan, mereka tak ada ikatan emosi dengan Ekaristi. Keempat, anak merasa ke gereja hanya sebagai perintah orangtua. Kelima, sejumlah anak kesulitan duduk hening dalam kurun waktu tertentu. Keenam, anak mungkin pernah mengalami peristiwa yang tak menyenangkan di gereja. Ketujuh, perkembangan remaja awal, ada kecenderungan tak ingin melakukan sesuatu karena terpaksa.

Bila menemukan akar masalah, diskusikanlah hal-hal yang akan membuatnya lebih senang ke gereja. Bila anak belum mau diajak diskusi atau tak tahu apa yang membuatnya senang, orangtua perlu lebih peka mengenali kesukaan anak. Ada anak yang suka duduk di depan, sehingga bisa menyaksikan dari dekat semua jalannya perayaan Ekaristi.

Bagi anak yang cepat bosan dan kesulitan duduk dengan diam dalam waktu lama, kesempatan baginya untuk melihat semua proses dengan jelas dari dekat sehingga membantunya bertahan dan merasa terlibat. Lokasi duduk terkadang menjadi salah satu faktor penting bagi sejumlah anak.

Bila anak masih di bawah lima tahun, izinkan membawa hal-hal yang membuatnya senang ke gereja, misal alat tulis untuk mewarnai, mainan kecil yang ia sukai, atau minuman kesukaan. Pastikan saat berangkat anak sudah kenyang. Tekankan bahwa karena masih berusia di bawah lima tahun, anak-anak boleh melakukan itu di dalam gereja. Tapi jika di atas lima tahun, menyesuaikan dengan peraturan di gereja masing-masing.

Salah satu kebiasaan menarik keluarga usai Misa adalah membeli makanan di sekitar gereja. Kesan positif yang ditangkap anak adalah setelah Misa ada acara menyenangkan bersama keluarga. Ini penting untuk menimbulkan emosi bahagia ketika ke gereja, bukan karena terpaksa.

Kecintaan anak terhadap aktivitas doa dan ke gereja tak dapat dilepaskan dari peran orangtua dalam membangun budaya bersama dalam keluarga. Kebiasaan itu memupuk rasa positif.

Yohana Ratrin H.

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 14 Tanggal 2 April 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*