Artikel Terbaru

Anton S. Wahjosoedibjo: Berkarya Demi Keadilan Energi

Anton S. Wahjosoedibjo.
[HIDUP/Edward Wirawan]
Anton S. Wahjosoedibjo: Berkarya Demi Keadilan Energi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengalaman adalah guru terbaik. Lebih dari separuh perjalanan hidupnya berkutat seputar dunia energi. Ia membagikan pengalamannya untuk pengembangan energi.

Mendung menyelubungi langit ibukota. Di lantai I Graha CIMB Niaga Sudirman, orang berlalulalang. Mereka tampak tergesa-gesa mengibaskan bulir hujan yang menempel di pakaian. Beberapa orang menyelinap masuk ke sebuah kafe, yang terletak persis di tengah lantai dasar gedung pencakar langit itu. Di sebuah meja, Anton S. Wahjosoedibjo duduk dengan tenang. “Saya sedang mempersiapkan paper untuk seminar internasional di ITB (Institut Teknologi Bandung-Red) pekan depan,” ujarnya sembari tersenyum, saat ditemui pekan lalu.

Anton kerap dipanggil menjadi pembicara dalam workshop atau seminar seputar energi, baik tingkat nasional maupun internasional. Ia bukan akademisi, namun berpengalaman kerja puluhan tahun di bidang energi, seperti listrik dan migas.

Sejak 2012, ia didapuk menjadi satu dari sembilan anggota Dewan Juri Penghargaan Energi Nasional. “Itu ditetapkan oleh Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Saya mewakili Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI),” ujarnya.

Pengalaman Besar
Semasa kecil, Anton bercita-cita menjadi dokter. “Itu karena saya sering sakit-sakitan,” kenangnya. Ia juga ingin menjadi seorang guru, lantaran orangtua dan kakak-kakaknya menjadi guru. Lulus SMA, ayahnya meminta ia masuk ke ITB. Prestasi akademik Anton yang menonjol adalah musabab permintaan ayahnya itu. Anton patuh. “Ayah bahkan sampai menjual rumah di Muntilan untuk membiayai kuliah saya, dan itupun hanya cukup untuk biaya satu tahun pertama.”

Pada tahun kedua, Anton berusaha mendapatkan beasiswa, tetapi gagal. Namun ada jalan lain, Romo Joseph Wahjosoedibjo OFM, kakak kandung Anton, ketika itu bertugas di Paroki Hati Kudus Kramat, Keuskupan Agung Jakarta. Di sana, Romo Joseph bertemu dengan seorang marinir bertugas menjaga kedutaan Amerika dan bermarkas di depan Asrama Vincentius Kramat Raya. Marinir ini sering mengikuti perayaan Ekaristi di Gereja Hati Kudus Kramat. “Kebetulan marinir ini bertemu dengan kakak saya, lalu mereka menyisihkan sedikit dana untuk mendukung saya belajar selama setahun,” kenang Anton.

Anton terus giat belajar. Prestasinya pun meningkat. Buahnya, pada tahun
ketiga hingga tamat, ia mendapat beasiswa dari Caltex. Lulus Teknik Elektro
ITB, Anton bekerja di Caltex Pasific Indonesia yang merupakan afiliasi perusahaan energi Chevron. Di sana, ia bekerja di bidang perbengkelan. Tapi ia merasa pekerjaan itu tak sejalan dengan latar belakang pendidikannya. Ia ingin mengundurkan diri. Seorang kakaknya menyarankan untuk bertahan karena perusahaan itu banyak mengirimkan insinyurnya belajar ke luar negeri.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*