Artikel Terbaru

Dramaturgi Politik Kesantunan

Dramaturgi Politik Kesantunan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Beberapa pemeran utama iklan politik kesantunan Partai Demokrat dipenjara sebagai pelaku korupsi. Hal ini mengonfirmasi bahwa kesantunan yang menjadi patron partai berlambang bintang mercy itu hanyalah dramaturgi untuk mengelabui rakyat. Keyakinan ini menguat tatkala cukup banyak menteri pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga terjerat korupsi. Ditambah lagi beberapa peristiwa politik tanah air akhir-akhir ini yang menunjukkan kekurang-negarawan SBY. Manufer SBY ini semakin mengonfirmasi bahwa kesantunan yang menjadi patron politik dinasti Cikeas dan Partai Demokrat hanyalah dramaturgi untuk mengelabui publik.

Kesantunan, kini pantas dicurigai karena semakin banyak orang berkemasan santun justru mengkianati harapan rakyat. Semakin santun seorang pejabat publik, semakin harus dicurigai, karena mungkin ada kebusukan yang sengaja dibungkus dalam kesantunannya itu.

Antagonisme Kesantunan
Tentu saja kesantunan sebagai etika bukan menjadi sasaran kemarahan publik. Sebab kesantunan merupakan nilai etis yang pantas dihidupi. Maka amat tepat jika di panti pendidikan, kini para pelajar dan mahasiswa mempelajari pendidikan karakter agar mereka memiliki sejumlah karakter etis, termasuk kesantunan. Bahkan saking tingginya masyarakat melihat kesantunan, maka sejak dini para orangtua mengajarkan kesantunan kepada anaknya. Namun kesantunan menjadi kekuatan antagonis tatkala dia menjadi senjata pamungkas untuk mengelabui publik. Kesantunan pantas diratapi ketika ia hanya dimanfaatkan sebagai mantel demi menutupi kelicikan dan ambisi tak terkendali, serta untuk memanipulasi niat jahat dalam mantel kemunafikan.

Parahnya, dalam konteks Indonesia, negeri “serba agama”, dramaturgi kesantunan itu justru diperkuat oleh kesalehan simbolik berjubahkan agama. Hal serupa ini pernah dikecam Paus Fransiskus pada 8 November 2013. Pada saat itu, Paus Fransiskus blak-blakan menegur mafia Italia dengan menyebut mereka sebagai devotees of goddess of kickbacks yang membawa pulang dirty bread yang menyebabkan starved of dignity pada keluarganya (catholicnews.com). Kecaman Bapa Suci tersebut lahir dari kecemasannya karena para mafia Italia dimaksud, sering menampilkan kesalehan religius, seperti mengenakan barang-barang kudus keagamaan, termasuk bahkan mencium berbagai perlengkapan kudus sebelum mereka membunuh orang. Paus Fransiskus mencemaskan adanya pembauran antara kesalehan simbolik dengan kejahatan yang dilakukan.

Hal yang menjadi kerisauan Paus Fransiskus itu sebenarnya tidak saja terjadi dalam diri mafia Italia, tetapi juga dalam diri para penyelenggara negara di negeri ini. Para koruptor bukan orang kurang santun atau kurang religius. Bahkan banyak dari mereka yang sering mengadakan pengajian di rumah mereka. Bukan tidak mungkin sebagian koruptor menyumbangkan sebagian uang curiannya di tempat-tempat ibadah atau lembaga amal.

Fenomen ini membahasakan sisi paradoks dari keberagamaan kita. Pejabat yang biasanya duduk paling depan dan diistimewakan dalam upacara keagamaan justru merupakan pelaku korupsi kelas wahid. Kesalehan dalam beragama belum sampai menginspirasi pelayanan publik. Sialnya, masih banyak orang terpukau dengan kesantunan dan kesalehan ritual itu. Pejabat publik yang taat beribadah disanjung bahkan dibela, walaupun yang bersangkutan terbukti melakukan banyak penyimpangan.

Politik Kesaksian
Dalam konteks politik Indonesia, kesantunan sebagai bagian integral moralitas justru terpisah dari realitas politik masa kini. Kesantunan hanya digunakan sebagai komoditas politik demi meraih simpati publik dalam pemilu atau pilkada dan jarang terbukti dalam pengabdian. Maka kini publik lebih mencintai politisi yang tampil apa adanya, tetapi sungguh berkomitmen menciptakan pemerintahan bersih tanpa korupsi. Publik butuh kesaksian dan kerja nyata, bukan retorika penuh polesan indah.

Tentu itu tidak berarti kesantunan tidak penting lagi. Kesantunan tetaplah penting, namun kesantunan itu amat perlu dibuktikan dalam kerja nyata. Di sini kesalehan ritual mesti diwujudkan dalam kesalehan sosial, dalam pengabdian dan pelayanan publik.

Romo Benny Denar

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 14 Tanggal 2 April 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*