Artikel Terbaru

Bukan Mengejar “Mukjizat”

Bukan Mengejar “Mukjizat”
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tahun ini, Gereja merayakan seabad penampakan Bunda Maria di Fatima, Portugal. Fatima merupakan sebuah kota kecil yang terletak di sebelah utara Lisbon. Pada 1917, Bunda Maria menampakan diri kepada tiga anak gembala: Lucia dos Santos, Fransisco Marto, dan Jacinta Marto. Setahun sebelum penampakan itu, tiga anak gembala ini mendapat penampakan malaikat.

Secara berturut-turut, selama enam bulan pada 1917, Lucia, Jacinta, dan Fransisco menerima penampakan Bunda Maria. Penampakan pertama Bunda Maria terjadi pada 13 Mei 1917 di Cova da Iria, Fatima, tatkala tiga anak ini tengah menggembalakan ternak. Penampakan berikutnya terjadi setiap tanggal 13 hingga 13 Oktober 1917, kecuali Agustus 1917.

Dalam setiap penampakan, Bunda Maria menyampaikan pesan kepada tiga anak ini. Inti pesan Bunda Maria adalah ajakan untuk berkanjang dalam doa dan bertobat, serta mendoakan jiwa-jiwa dalam api penyucian. Bunda Maria mengajak setiap orang memperbaiki diri, bertobat, dan menyerahkan jiwa-jiwa dalam api penyucian kepada pelukan Hati Maria tak Bernoda.

Devosi kepada Bunda Maria Fatima menjadi salah satu devosi yang banyak dipilih umat dan kaum religius. Beberapa Paus juga memiliki devosi kepada Bunda Maria Fatima. Salah satu Paus yang paling legendaris adalah Paus Yohanes Paulus II. Dalam peristiwa penembakan dirinya oleh Mehmet Ali Agca pada 13 Mei 1981 di Lapangan St Petrus Vatikan, Bapa Suci percaya bahwa tangan Bunda Maria Fatima menyelamatkan hidupnya. Peluru yang menembus dada Paus Yohanes Paulus II hingga kini masih bertakhta di mahkota Bunda Maria Fatima.

Setahun berselang, 1982, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi tempat ziarah Bunda Maria Fatima. Dalam homilinya, Bapa Suci mengatakan, jika Gereja menerima pesan Fatima itu terutama karena pesan tersebut mengandung kebenaran dan panggilan yang isinya berdasarkan kebenaran dan panggilan Injil: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). “Inti pesan Fatima adalah sebuah panggilan untuk pertobatan dan pertobatan, seperti dalam Injil.”

Meskipun penampakan Bunda Maria Fatima terjadi seabad lalu, namun ajakan untuk bertobat ini masih relevan hingga saat ini. Gereja, sebagai persekutuan umat Allah, dipanggil untuk terus-menerus membenahi diri, peduli, dan ambil bagian dalam kesesakan yang dialami masyarakat. Sehingga pesan Bunda Maria Fatima bukan sekadar diimani, namun diwujudkan dalam perbuatan dan kesaksian hidup sehari-hari. Di tengah situasi carut-marut yang mewarnai kehidupan: perang, korupsi, kekerasaan, ketidakadilan, pengrusakan lingkungan, sikap mementingkan dan mencari keuntungan diri, dan lain-lain, setiap pribadi diajak membenahi diri, bertobat, dan mengambil langkah nyata sebagai buah pertobatan.

Semoga doa-doa yang kita daraskan melalui devosi-devosi, terutama devosi kepada Bunda Maria Fatima bukan semata demi mengejar atau mencari “mukjizat” untuk hidup kita sendiri. Tetapi, semoga darasan doa-doa itu bisa menjadi napas dan “roh” yang menggerakkan laku tobat dan laku hidup sebagai seorang beriman. Hal yang kita cari bukan semata “mukjizat”, tetapi kasih dan Kerahiman Allah, melalui belarasa dan berbagi kepada sesama.

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 19 Tanggal 7 Mei 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*