Artikel Terbaru

Kawal Pancasila, Kikis Radikalisme

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Hamonangan Laoly memukul gong dalam pembukaan Munas ISKA.
[HIDUP/Yusti H. Wuarmanuk]
Kawal Pancasila, Kikis Radikalisme
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPancasila merupakan fundamen yang tak terpisahkan dari semangat pembentukan Indonesia. ISKA sebagai lembaga Katolik diharapkan merawat Pancasila dan keutuhan negara.

Setahun hidup di pengungsian, kondisi para pengungsi akibat erupsi Gunung
Sinabung semakin memprihatinkan. Pada 2016, gunung api di Tanah Karo, Sumatera Utara itu memaksa lebih dari 5000 warga mengungsi. Di Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo, sembilan posko Badan Nasional Penanggulangan Bencana dibangun untuk para pengungsi. Kini, 400 kepala keluarga masih menetap di posko-posko tersebut dengan fasilitas seadanya. Mereka hidup dengan mengandalkan bantuan pemerintah dan para donatur.

Keprihatinan ini menggerakkan anggota Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) untuk berbuat sesuatu. ISKA menggelar acara bakti sosial dan bertemu para pengungsi di posko Gedung Serba Guna milik Gereja Batak Karo Protestan. Mereka membagikan sumbangan kepada 220 pengungsi yang masih bertahan di posko itu. “Di posko ini ada dapur umum, tempat logistik, dan klinik kesehatan, tetapi masih jauh dari harapan,” ungkap pengelola posko, Samuel Gultom.

Bakti sosial ISKA tak lain untuk mengamanatkan nilai keadilan sosial yang terkandung dalam sila kelima Pancasila. Dalam sila ini, terkandung harapan akan keadilan dan bonum commune. Refleksi Pancasila sebagai tonggak sejarah peradaban bangsa menjadi hal penting bagi ISKA dalam Musyawarah Nasional (Munas) yang digelar di Gedung Catholic Center Christosophia Medan, Sumatera Utara, Jumat-Senin, 24-27/3.

Jiwa Pancasila
Munas ISKA kali ini mengusung tema “Revitalisasi Peradaban Pancasila Menuju Seabad Indonesia”. Dalam merevitalisasi Pancasila sebagai manifestasi identitas nasional, ISKA setuju bahwa hendaknya revitalisasi ini dikaitkan dengan wawasan spiritual, akademis, kebangsaan, dan mondial. Sikap seperti ini, dapat menunjang pribadi seseorang dalam memahami Pancasila,” ujar Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Yasonna Hamonangan Laoly saat membuka Munas ISKA.

Pria kelahiran Tapanuli, 27 Mei 1953 ini menambahkan, yang membuat Indonesia lahir sebagai bangsa adalah Pancasila. Dasar negara ini mengikat bangsa yang heterogen, baik agama, suku, bahasa, maupun budaya. “Pancasila mengikat bentuk fisik yang hitam sampai putih, dari tarian gemulai sampai tarian perang,” ungkapnya. Sampai saat ini, katanya, Pancasila tetap eksis sebagai ideologi bangsa, karena ia lahir dari heterogenitas dan pluralitas. Dua pesan ini harus dilihat sebagai mahakarya Tuhan untuk Indonesia. “Bila Pancasila dirongrong karena Pilkada sebagai recruitment elit politik, maka Indonesia belum dewasa secara ideologi.”

Kristalisasi pesan Pancasila ini sangat penting bagi para cendekiawan Katolik
untuk merawat Pancasila dengan mengindahkan keberagaman. Yasonna berpesan, agar manusia perlu membangun relasi dengan Tuhan secara vertikal. Tetapi secara horizontal, Pancasila menjadi way of life yang menguatkan relasi antarmanusia. “Barangsiapa yang melawan heterogenitas dari Tuhan, dia akan binasa,” tegas Yasonna.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*