Artikel Terbaru

Pancasila Sarana Keselamatan

Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC.
[NN/Dok.HIDUP]
Pancasila Sarana Keselamatan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSebagai ormas Katolik, ISKA dan Pancasila harus menjadi sarana pastoral yang ampuh untuk membawa orang pada keselamatan sejati.

Keberadaan Pancasila sebagai perekat kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang sangat majemuk begitu mengagumkan. Kebanggaan ini pernah diungkapkan Paus Yohanes Paulus II saat melawat ke Indonesia, 1989. “Saya belajar tentang Pancasila dari Indonesia, dan saya akan mendengungkan ini ke seluruh dunia.”

Pesan ini menjadi pesan utama Uskup Agung Medan Mgr Anicetus Bongsu Sinaga OFMCap dalam Misa pembukaan Munas ISKA. Mgr Anicetus mengatakan, penerapan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika membuat Indonesia semakin “macho” di mata dunia.

Dengan semangat serupa, ISKA harus berjuang mempertahankan keistimewaan sifat Gereja yang unity in diversity. Gereja Katolik harus menjadi penutur kesatuan tanpa sekat. “Meski diganggu dari manapun, kita akan berkata mana gigimu, mana dadamu, akulah saudaramu. Kita adalah bangsa yang diberkati.”

Sebagai bangsa yang diberkati, ISKA harus sadar akan identitas istimewa ini. Hal ini diungkapkan Ketua Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Vicentius Sensi Potokota. Baginya, ajaran Katolik sebagai identitas harus mewarnai kiprah anggota ISKA. Para cendekiawan Katolik, perlu memberi kesaksian hidup tentang nilai-nilai kebenaran, keadilan, kejujuran, dan bonum commune perlu diprioritaskan.

Mgr Sensi yakin, dengan Munas ISKA, ada berbagai pemikiran kritis tentang
kebangsaan dapat terurai. Yang penting, ISKA jangan sampai terbatas pada kepentingan-kepentingan pragmatis. ISKA harus memberi sumbangsih tentang nilai-nilai abadi yang universal kepada bangsa yang majemuk. Untuk misi ini, Uskup Agung Ende ini berharap, setidaknya ISKA bisa membekali diri dengan komitmen teologis Gereja Katolik. “Sebab, ketika berbicara tentang Pancasila, orang Katolik sudah mengungkit tentang keselamatan banyak orang. Inilah pastoral cura animarum atau keselamatan jiwa,” katanya.

Pastoral Pancasila untuk keselamatan jiwa banyak orang, diharapkan mampu
menggarami Ketua Presidium terpilih dan seluruh kader ISKA. Pastoral Pancasila ini juga berarti ketaatan kepada pemimpin. “Jangan sampai terjadi dualisme kepemimpinan yang bisa menghancurkan tatanan bangsa.” Terkait dualisme ini, Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC mengatakan, terkadang ormas Katolik berjalan tidak maksimal karena memunculkan dua kepemimpinan. “Saya percaya bahwa pemilihan ketua ISKA berlangsung secara musyawarah. Ini bisa menjadi cermin bagi organisasi Katolik yang lain agar saling percaya pada rekan yang mempunyai potensi untuk memimpin organisasi,” ujarnya.

Mgr Subianto mengapresiasi dengungan ISKA soal Pancasila. Tetapi Mgr Subianto berharap program-program ISKA harus lebih konkret. “Lewat semangat tersebut, ISKA dapat berkontribusi nyata bagi bangsa dan Gereja. Sebagai cendekiawan Katolik, ISKA bisa menjadi pionir Katolik”

Hal serupa disampaikan Uskup Agung Samarinda Mgr Yustinus Harjosusanto MSF. Ia mengapresiasi pesan kebhinnekaan yang ditawarkan ISKA. “Saya kira baik, namun juga harus dibarengi dengan melibatkan saudara-saudara lain. Sehingga walau berlabel Katolik, tetapi dapat diterima di masyarakat luas.” Pesan kebhinnekaan juga mendapat tanggapan positif dari Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC. Menurutnya, ISKA tetap harus mendasari diri pada iman Kristiani. ISKA merupakan persekutuan orang-orang beriman yang ingin menunjukkan Kristus. “Hal indah ini yang memang dikehendaki Kristus demi kesejahteraan bersama, berjuang demi Indonesia,” ujar Mgr Mandagi.

Sekretaris Komisi Kerawam KWI Romo Guido Suprapto mengatakan, kita harus mendukung ISKA yang berusaha merawat Pancasila. Nilai-nilai Pancasila, khususnya butir keempat, musyawarah untuk mufakat, yang muncul di Munas ISKA bisa menjadi modal bagi cendekiawan Katolik untuk berpastoral di dunia modern.

Yusti H. Wuarmanuk
Laporan: Stefanus P. Elu/Marchella A. Vieba

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 15 Tanggal 9 April 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*