Artikel Terbaru

M. Elisabeth K. Lita Novianti: Karena Kemurahan Tuhan

M. Elisabeth K. Lita Novianti.
[HIDUP/Karina Chrisyantia]
M. Elisabeth K. Lita Novianti: Karena Kemurahan Tuhan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSakit merupakan pengalaman tak mengenakan. Tapi, Lita justru menganggap kanker yang menggerogoti tubuhnya sebagai suatu berkah.

Nas Matius 6:17 menjadi tuntunan bagi M. Elisabeth K. Lita Novianti, bersahabat dengan gering dalam tubuhnya. “Tetapi, apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang bepuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi”.

Lita selalu tampil rapi. Rambutnya yang hitam, ia biarkan jatuh di atas bahu. Bedak menyapu tipis wajahnya. Polesan gincu pun terbentang di bibir. Ia juga tak alpa membagi senyum kepada setiap peserta doa batin di Gedung Yohanes, Gereja St Yohanes Penginjil Blok B, Keuskupan Agung Jakarta.

Banyak orang tak tahu, di balik penampilannya yang necis dengan pancaran
rona gembira, ada sel-sel kanker ganas yang terus menggerogoti raganya. Alumna Kursus Evangelisasi Pribadi Paroki Blok B angkatan ke-15 ini, terserang kanker kelenjar getah bening stadium empat. “Cukup saya dan Tuhan yang tahu,” ujarnya.

Dua Berkat
Dulu, Lita umat Gereja Kristen Indonesia. Tiga tahun setelah menikah dengan
Stephanus Satrijadi Budiman, ibu tiga anak ini menjadi Katolik. Meski demikian, ia mengakui jarang pergi ke gereja. Waktu hidupnya lebih banyak tersita untuk urusan pekerjaan. Bahkan, sejak kuliah hingga pacaran, Lita jauh dari Tuhan.

Kanker yang bersarang di tubuhnya, menyadarkan Lita bahwa Tuhan selalu dekat dan menyertai. Karena itu, saat tak sedikit orang menganggap sakit sebagai ganjaran atau hukuman Yang Kuasa, Lita justru menganggap sebagai berkat.

Pada 23 Juli 2008, berkat pertama menghampiri dirinya. Dokter memvonis dia mengindap kanker payudara stadium 2B. Sel-sel kanker pun tersebar di sekitar payudaranya, lima di kiri dan satu di kanan. Sebelum sel itu mengganas, semula Lita menganggap bincul di payudaranya hanya benjolan biasa. Sebab, ia masih menyusui buah hatinya. “Saya kira air susu yang menggumpal,” kenangnya.

Semakin lama, benjolan itu membuat ia tak nyaman. “Sakit,” katanya. Saban kali habis menyusui, Lita merasa nyut-nyutan di payudaranya. Ia pun memeriksakan diri ke Singapura. Berdasarkan diagnosa dokter, sel-sel kanker Lita ganas dan cepat membelah. Dokter memintanya buru-buru operasi.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*