Artikel Terbaru

Pater Jacques Maessen SMM: Imam Alam dan Budaya

Pater Jacques Maessen SMM.
[HIDUP/Edward Wirawan]
Pater Jacques Maessen SMM: Imam Alam dan Budaya
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comAlam milik Allah. Budaya merupakan warisan nenek moyang yang sarat nilai. Bagi Pater Jacques Maessen SMM, setiap manusia wajib menjaga alam dan budaya.

Keringat membasahi baju biru yang ia pakai. Tanpa melepas gunting rumput yang dipegang, ia bertanya, “Nuan, datang lagi?” dengan dialek bule yang cukup kental. Nuan artinya “kamu”, sapaan hormat dalam masyarakat Dayak Iban. Tak lama berselang, ia berjalan cepat menuju halaman belakang rumah berukuran sekitar 100 meter persegi itu. Ia adalah Pater Jacques Maessen SMM. Seorang pastor asal Belanda yang nyaris separuh hidupnya dihabiskan di Sintang, Kalimantan Barat.

“Mulai pagi tadi, ada beberapa Uskup datang,” katanya. Akhir Maret silam,
bertepatan dengan tahbisan Uskup Sintang Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap, Pater Maessen memang ketiban tamu spesial. Beberapa Uskup datang mengunjunginya, seperti Mgr Antonius Bunjamin Subianto OSC dan Mgr Anicetus Bongsu Sinaga OFMCap. Mgr Anicetus beberapa kali bercakap dalam bahasa Belanda dengan Pater Maessen sambil menikmati teh di teras belakang rumah yang dikelilingi pelbagai tanaman.

Perawat Budaya
Kedatangan para Uskup ini bukan tanpa sebab. Pater Maessen adalah penjaga budaya dan lingkungan hidup. Pada 1996, Pater Maessen mendirikan Kobus sebagai wadah kegiatan seni budaya. Kobus, jelas Pater Maessen, merupakan akronim dari “saya berkomunikasi dengan budaya dan seni”.

Kobus, lanjut Pater Maessen, berlatar pada menurunnya kecintaan anak muda terhadap seni dan budaya, terutama kain tenun Dayak yang ia sebut sangat indah dan bernilai. “Awal tiba di Sintang, saya begitu kagum dengan kain adat dan budaya di sini,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, ia melihat ada pergeseran selera. Anak muda menilai, pakaian berbahan tenun itu kuno dan tak bagus dipakai. Anak muda, lanjut Pater Maessen, merasa harus memakai T-shirt dan celana jeans produk luar negeri.

Pergeseran selera itu membuat Pater Maessen masygul. Cinta pada budaya dan seni menghanguskan hatinya. Melalui Kobus, ia menjaga warisan tenunan leluhur suku Dayak. Ia tahu cara terbaik mewariskan budaya. Kebudayaan, jelasnya, diwariskan kepada generasi muda melalui perempuan atau ibu-ibu.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*