Artikel Terbaru

Seminari St Petrus Canisius Mertoyudan: Seminari Mertoyudan Terus Berbenah

Para seminaris mengakses internet di perpustakaan.
[NN/Dok.Seminari Mertoyudan]
Seminari St Petrus Canisius Mertoyudan: Seminari Mertoyudan Terus Berbenah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSeminari Mertoyudan terus berbenah untuk menjadi lembaga pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Koleksi buku bacaan dan akses internet membantu para seminaris untuk meluaskan wawasan.

Generasi 1990an-2000an awal pasti familiar dengan sosok abah dalam film “Keluarga Cemara” yang ditayangkan salah satu stasiun televisi Swasta Indonesia. Kesederhanaan dan kebijaksanaan sangat kental pada tokoh pemainnya. Tokoh itu bernama asli Agustinus Adi Kurdi.

Tahun 2012 diterbitkan buku, Para Pelukis Cakrawala, Persembahan 100th Seminari Mertoyudan untuk mengenang usia 100 tahun Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Dalam buku itu Adi Kurdi menegaskan tiga pilar yang menjadi semboyan Seminari Mertoyudan, yakni SSS: Sanctitas (kesucian), Sanitas (kesehatan), dan Scientia (pengetahuan) dalam pembentukan karakter seminaris menjadi kuat.

Pendapat serupa juga dilontarkan pendiri surat kabar Kompas, Jacob Oetomo, yang juga alumnus Seminari Mertoyudan 1945-1952. Jacob mensyukuri pengalaman pernah mencicipi tempaan Seminari Mertoyudan dalam hidupnya. Menurut Jacob, semboyan SSS tetap relevan sampai sekarang. “Buat saya, semboyan itu benarbenar memegang peran penting dalam pembentukan karakter diri saya, sehingga saya, ya bisa seperti yang sekarang ini dengan perjalanan hidup yang berlikuliku,” tulis Jacob dalam buku tersebut.

Tahun ini, Seminari Mertoyudan berusia 105 tahun. Dalam ziarah panjang itu,
Seminari Mertoyudan sudah banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional Katolik, baik dari kalangan awam maupun kalangan imam. Direktur (Kepala Sekolah) Seminari Mertoyudan, Romo Yohanes Alis Windu Prasetya SJ mengatakan, keberhasilan seminari dalam menempa para peserta didiknya tidak lepas dari kesadaran Seminari Mertoyudan dalam memberikan materi pendidikan guna menyikapi perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang terus bergulir.

Romo Alis menjelaskan, selain berpacu dengan perubahan zaman, salah satu cara yang digunakan ialah lebih selektif dalam menerima calon seminaris. Sedikitnya ada empat tahap seleksi masuk yang harus dilewati para calon seminaris. Empat tahap itu adalah tes akademis, psikologi, kesehatan, dan wawancara. Rangkaian tes ini dilakukan guna memastikan para calon imam memiliki mental dan kesehatan yang prima. “Terkait dengan pelayanan, masak seorang calon imam memiliki mental serta fisik yang lemah. Maka sejak masuk seminari, kesehatan mental dan fisik sudah kami prioritaskan,” ujar Romo Alis.

Fasilitas Seminari
Rektor Seminari Mertoyudan Romo Gandhi Hartono SJ mengatakan, selain selektif di awal, hal lain yang tidak kalah penting untuk jadi fokus perhatian selama pembinaan di seminari ini adalah menjaga mutu lulusan. Karena itu, selama dalam proses pendidikan, lembaga menyediakan sarana dan prasarana guna menunjang pendidikan para seminaris. Sarana dan prasarana itu antara lain laboratorium Fisika, Kimia, Biologi, Komputer dan Bahasa. Saat ini sedang dikembangkan juga laboratorium sosial.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*