Artikel Terbaru

Kabar Baik vs Kabar Buruk

Kabar Baik vs Kabar Buruk
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Di tengah masifnya serbuan kabar bohong (hoax) yang mengisi ruang pikiran kita, menarik mencermati pesan Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-51 tahun ini. Bapa Suci mengingatkan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi komunikasi, menjadikan semua orang mampu “memproduksi” kabar, berita, dan informasi. Terhadap serapan arus informasi yang mengisi benak kita, maka otak atau pikiran akan mengolah layaknya mesin giling. Pengolahan bahan (informasi) itu dan bagaimana hasilnya akan kita sebarkan kepada orang lain, ada dalam kendali kita.

“Kacamata” persepsi orang menentukan jenis dan kualitas informasi. Hasil olah pikir atas serapan informasi dan yang kemudian kita sebarkan kepada orang lain itu bisa berupa kabar baik, kabar buruk, dan bahkan kabar bohong. Di sinilah Paus mengingatkan, nurani oranglah yang memberi warna terhadap informasi yang akan kita “produksi” dari olah pikir dan kemudian kita bagikan ke orang lain melalui media sosial (medsos), media massa, atau blog pribadi.

Semua itu mungkin, berkat perkembangan teknologi komunikasi yang memudahkan siapapun bisa “melahirkan” informasi, berita baik, kabar bagus, dan juga kabar bohong. Sekarang ini, setiap orang pada dasarnya telah dimampukan oleh teknologi komunikasi bisa menjadi “wartawan”. Ia memproduksi informasi yang dia lihat, dengar, temukan, saksikan, lalu mengolah sebagai “berita baru” untuk kemudian disebarkan kepada orang lain secara cepat, gampang, dan murah (citizen journalism).

Kita mesti bagaimana? Pertanyaan ini penting, ketika kita melakoni keseharian yang “diserbu” sebaran informasi yang malah sering mendatangkan kegaduhan dan kecemasan, daripada ketenangan hidup. Ingatlah akan adagium bad news are good news. Yang laris dan suka didengarkan, dilihat, dan dicermati oleh hampir kebanyakan orang melalui radio, televisi, internet, dan sekarang medsos, justru berita atau informasi tentang perang, kekacauan politik, konflik masyarakat, kegaduhan di masyarakat, dan berita bohong. Berita-berita “negatif” itu telah sedemikan rupa dikemas sehingga menjadi semacam tontonan yang menghibur.

Alih-alih menyebarkan informasi yang melahirkan kecemasan, Paus mengajak kita fokus pada berita-berita yang mampu melahirkan adab perjumpaan antarpribadi yang memotivasi orang bisa saling percaya. Setiap peristiwa apapun itu tidaklah “bebas nilai”. Tergantung pikiran dan hati orang menilai peristiwa itu dan kemudian memaknainya. Pikiran selalu memasang “lensa” dengan apa kita akan menyikapi realitas. Karena itu, peristiwa sama akan punya nilai berbeda bagi setiap orang dan itu tergantung dari sudut pandang mana ia “memahami” peristiwa kehidupan.

Sebagai umat Kristiani, marilah memandang sejarah Keselamatan. Yesus adalah Anak Allah yang hadir dan masuk dalam sejarah riil umat manusia. Yesus adalah Kabar Gembira yang telah “dihadiahkan” Allah kepada umat manusia (Mrk 1:1).

Meski Yesus sudah “tidak ada” lagi karena telah bangkit dan naik ke surga, namun ia tetap ada di hati setiap orang beriman melalui kehadiran Roh Kudus. Hal ini dinubuatkan Yesaya, “Janganlah takut, sebab Aku ini menyertaimu” (Yes 43:5), dan oleh Yesus sendiri yang mengatakan, “Aku senantiasa menyertai kamu.”

Paus mengajak kita bersikap layaknya orang beriman ketika menyikapi penderitaan, kegundahan dengan menaruh harapan kepada Tuhan. Itulah bukti Roh Kudus yang menerangi hati dan pikiran setiap orang beriman menuju keyakinan dan harapan.

Kepercayaan ini memungkinkan kita mampu melaksanakan kegiatan melalui cara komunikasi manapun. Kita diyakinkan, bahwa ada “kabar baik” di balik setiap cerita dan wajah setiap orang. Pengalaman iman akan kehadiran Tuhan dalam segala sesuatu dan keyakinan bahwa Roh Kudus itu selalu menjadi “cahaya hati” setiap orang seharusnya menjadi modal dalam berkomunikasi. Adab berkomunikasi inilah yang akhirnya memotivasi orang beriman dalam berkomunikasi atau berproses memproduksi informasi dengan mengutamakan “kabar baik” daripada “kabar buruk”, apalagi kabar bohong.

Mathias Hariyadi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 15 Tanggal 9 April 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*