Artikel Terbaru

Ikhlas Berkarya, Membela Kaum Papa

Aksi menolak hukuman mati.
[Dok. KKP PMP KWI]
Ikhlas Berkarya, Membela Kaum Papa
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPara advokat Katolik tak semata membela kebenaran dan memenangi perkara. Lebih dari itu, mereka memperjuangkan keadilan dengan berlandaskan spiritualitas kekatolikan.

Dinding setinggi tiga meter dengan panjang belasan meter berhiaskan warna pelangi. Tembok itu persis berada di bantaran Kalimalang. Ada sebuah jalan kecil yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua di antara tembok dan sungai. Itu merupakan pintu masuk ke Kampung Warna-warni Penas Tanggul, Jakarta Timur. Di ujung tembok, beberapa warga tampak sedang menyemen jalan yang retak. “Bang Tigor dan Mas Ari ada di aula,” kata seorang di antara mereka.

Nama Azas Tigor Nainggolan dan Paulus Ari Subagyo memang tak asing di Kampung Warna-warni. Aula yang dimaksud adalah sebuah ruangan berukuran sekitar enam kali tiga meter persegi. Sebuah tempat yang sebenarnya kurang cocok disebut aula. Di aula mini itu, Tigor dan Ari sedang berembuk dengan beberapa kawan mereka dari Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA). “Masuk saja,” kata Tigor sembari tersenyum ramah.

“Ini sedang rapat rutin FAKTA sekaligus menyiapkan penataan kampung ini,” Tigor menambahkan. Rapat itu juga membahas persiapan training pengacara-pengacara muda yang mau bekerja untuk melawan ketidakadilan terhadap orang-orang miskin. “Kami bikin tiap tahun; selama lima hari kami training mereka. Makan dan penginapan gratis, serta kasih ongkos naik pesawat untuk yang dari luar kota. Jadi kami punya konsep supaya ada regenerasi lawyer-lawyer muda, bukan hanya Katolik.”

Sejak Muda
Warga yang lewat di depan aula menyapa dan bersalaman dengan Tigor. Pria berdarah Batak itu menjabat erat setiap warga yang lewat. Ia rupanya mengenal setiap warga kampung itu. Kadang ia bertanya soal pekerjaan mereka. Sementara Ari berjalan beberapa langkah ke sebelah kiri aula. Ia tampak ngobrol dengan seseorang yang sibuk menyemen badan gang yang retak.

Kampung ini pernah terancam digusur, karena letaknya persis di tepi kali. Namun Tigor dan kawan-kawan menjadi penyelamat bagi kampung yang dihuni 144 Kepala Keluarga itu. Tigor, sejak menjadi mahasiswa di Universitas Kristen Indonesia, sudah getol menentang kebijakan pemerintah yang tidak adil.

Lulus kuliah, ia dibanjiri pelbagai tawaran untuk berkarier sebagai hakim dan jaksa. Namun ia mengikuti kata hatinya. Ia justru menempuh jalur yang tidak populer, menjadi pejuang bagi warga pinggiran yang menjadi korban ketidakadilan. Maka ketika Institut Sosial Jakarta (ISJ) meneleponnya, Tigor tak berpikir dua kali untuk terlibat di dunia aktivis. Melalui ISJ, ia membela kaum buruh pabrik. “Saat itu, jaminan sosial tenaga kerja sangat memprihatinkan. Buruh rentan menjadi korban,” kenang Tigor.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*