Artikel Terbaru

Meretas Ketidakadilan

Romo Paulus C. Siswantoko.
[HIDUP/Maria Pertiwi]
Meretas Ketidakadilan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sekitar tiga tahun lalu, Forum Advokasi Hukum dan HAM dibentuk melalui Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau, Konferensi Waligereja Indonesia (KKP PMP KWI). “Awal terbentuknya forum ini karena melihat banyaknya umat yang menjadi korban ketidakadilan dan tidak ada yang mendampingi, tidak bisa menyewa advokat,” ungkap Sekretaris KKP PMP KWI, Romo Paulus C. Siswantoko.

Menurut Romo Koko, sapaannya, melalui forum advokasi itu, Gereja berusaha hadir di tengah umat dan masyarakat. “Lewat forum ini, Gereja ingin lebih nyata hadir di tengah masyarakat korban ketidakadilan.” Mereka yang melibati forum ini merupakan orang yang memiliki jiwa kemanusiaan. Bukan hanya mereka yang beragama Katolik, tetapi juga yang beragama Kristen.

Setiap Jumat keempat, anggota forum berkumpul di ruang KKP PMP KWI, Cikini, Jakarta untuk mengkritisi isu krusial dan bagaimana Gereja perlu bicara soal isu. Di sini juga dibahas kasus yang masuk ke KKP PMP KWI dan bagaimana membantu pengaduan yang masuk tersebut.

Pelatihan para legal menjadi salah satu kegiatan yang diusung Forum Advokasi Hukum dan HAM. Pelatihan ini mengajak umat, siapa pun untuk menjadi pejuang kemanusiaan. Tim pemberi pelatihan dari KKP PMP KWI, Forum Advokasi Hukum dan HAM, dan Komnas HAM. Dalam pelatihan, peserta diajak untuk menyadari persoalan ketidakadilan yang terjadi di sekitar. Ini adalah kesempatan untuk memilih persoalan, belajar membaca persoalan, mempelajari spiritualitas berbasis iman Katolik, bagaiamana membuat jaringan dan bergerak. Lewat pelatihan ini peserta diajarkan untuk melek HAM dan membuat surat pengaduan bila terjadi ketidakadilan.

Selain itu, Forum Advokasi Hukum dan HAM juga memberikan pendampingan kasus. Misalnya mendampingi terpidana mati, korban kerusakan lingkungan, kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan, perdagangan manusia, pelanggaran HAM, dan diskriminasi.

“Kita mau menjadi Gereja yang mencair demi keadilan. Meskipun ini pekerjaan panjang yang selama ini masih tertatih-tatih. Ini kami baru memulai untuk menghadirkan wajah Gereja yang lebih nyata, sehingga tiga tahun ke depan diharapkan masih berjuang untuk ini,” ujar Romo Koko.

Romo Koko bersyukur masih ada orang-orang yang punya hati, menyisihkan waktu, tenaga, dana, kemanusiaan untuk membawa wajah Gereja yang berkemanusiaan, adil, dan beradab. “Kita ingin membawa dan temukan harapan, keluar dari zona nyaman. Ini seperti yang dikatakan Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium no 49, bahwa ia lebih menginginkan ‘Gereja yang memar, terluka, dan kotor karena telah keluar ke jalan-jalan, dari pada Gereja yang sakit karena menutup diri dan nyaman pada rasa amannya sendiri’. Gereja harus berani memar, terluka, kotor, keluar. Kita mesti berani membawa suara kenabian, menyuarakan ketidakadilan,” tandasnya.

Maria Pertiwi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 16 Tanggal 16 April 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*