Artikel Terbaru

Maria Katarina Sumarsih: “Lilin Paskah” Sumarsih

Maria Katarina Sumarsih.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Maria Katarina Sumarsih: “Lilin Paskah” Sumarsih
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPutranya tewas ditembak. Aksi Kamisan merupakan transformasi cintanya untuk menegakkan hak asasi manusia, agar tak ada lagi korban kekerasan oleh negara.

Maria Katarina Sumarsih masih ingat betul masakan yang ia buat pada Jumat pagi, 13 November 1998. Istri Antonius Maria Jamari Arief Priyadi memasak empal dan sayur asem untuk keluarganya. “Wawan suka sayur asem, pasangannya dengan empal,” kata perempuan kelahiran Rogomulyo-Susukan, Semarang, Jawa Tengah ini.

Ternyata, Wawan tak sempat mencicipi masakan ibunya. Bukannya ia tak mau atau melewatkan kesempatan itu. Pria bernama lengkap Bernardinus Realino Norma Irmawan ambruk di pelataran kampus. Sebutir timah panas menembus dada kirinya. Ia menjadi korban dalam tragedi yang dikenal sebagai peristiwa Semanggi I.

Perjamuan Terakhir
Sejak awal, Sumarsih ingin putranya fokus kuliah dan merampungkan dengan lekas. Kelak jika sudah bekerja, Wawan bisa membagi penghasilan untuk membantu masyarakat. Semula Wawan menolak. Ia mengatakan, sang ibu suka mengatur dirinya. Lambat laun, Wawan memahami latar belakang permintaan ibundanya yang kala itu bekerja di Sekretariat Jenderal DPR RI.

Wawan tak ikut aksi turun ke jalan. Ia hanya meminta agar sang ibu memberikan lampu hijau baginya untuk bergabung dalam organisasi dan kegiatan kemahasiswaan. Sumarsih mengiyakan permintaan buah hatinya itu. Salah satu organisasi yang ia ikuti adalah Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK).

Di TRuK, mahasiswa Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi Unika Atma Jaya Jakarta ini, menangani bidang logistik. Bahkan, saat tragedi yang merenggut nyawanya, Wawan sedang menjalankan misi sebagai anggota TRuK.

Alkisah, sebelum ditembak, Wawan ingin menyelamatkan seseorang yang juga ditembak di halaman kampus. Saat itu, ada seorang aparat berada di dalam kampus. Wawan meminta izin menyelamatkan orang yang cedera itu. Begitu izin didapat, sambil mengibarkan bendera putih, Wawan mendatangi korban. Tapi naas, justru ia yang menjadi korban.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*