Artikel Terbaru

Butuh Keteladanan

Butuh Keteladanan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – PILKADA DKI Jakarta telah usai, namun aura persaingan politik masih terasa hangat. Bahkan, tampaknya ada pihak-pihak tertentu yang ingin meneruskan model persaingan politik berbasis perbedaan agama tersebut untuk kepentingan kelompoknya dalam Pilkada 2018 maupun Pemilu 2019 nanti. Sungguh miris, jika suasana politik seperti ini terus dihembuskan, barangkali suasana tambah memanas dan bibit perpecahan bangsa menguat.

Sudah banyak negara di kawasan Timur Tengah yang hancur akibat konflik sipil dan perang saudara. Kita tak bisa membiarkan Indonesia mengalami kemelut seperti di Timur Tengah. Gereja tak bisa tinggal diam, tapi terus menerus menghembuskan nafas persatuan dan perdamaian di Bumi Pertiwi ini maupun di dunia seperti yang sudah didengungkan para Bapa Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes (GS). “Bermacam-macam orang yang berhimpun mewujudkan negara, dan dapat condong kepada pelbagai pendapat, supaya jangan sampai masing-masing mengikuti pandangannya sendiri dan membuat negara terpecah-belah diperlukan kewibawaan yang mengarah pada daya kemampuan semua warga kepada kesejahteraan umum” (GS art.74).

Gereja bisa bergerak menjadi pelopor persatuan dengan menggandeng para tokoh agama lain untuk terus menyerukan pentingnya persatuan bangsa seperti yang sudah dilakukan dalam Pertemuan Para Tokoh Agama Jelang Putaran Kedua Pilkada DKI Jakarta di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Senin, 17/4. Waktu itu, para tokoh dari perwakilan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu bertemu dan dapat menyejukkan suasana Pilkada putaran kedua DKI Jakarta. Ketika para tokoh agama itu bertemu, saling sapa dalam persatuan dan kedamaian, virus perdamaian dan persatuan itu bisa menular dengan cepat dalam masyarakat.

Kita tahu, pemerintah saat ini sudah mengeluarkan banyak anggaran dan tenaga hanya untuk mengamankan aneka demo yang dapat membahayakan stabilitas keamanan bangsa. Apabila gerakan demo itu bisa ditangkal lewat dialog para tokoh agama, mungkin biaya pengamanannya tidak terlalu menguras anggaran negara.

Khusus untuk bulan Mei ini, kita patut mengucap syukur atas tahbisan Uskup
Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko, yang berlangsung pada Jumat, 19/5. Dengan adanya Uskup Agung baru ini, semoga Gereja Keuskupan Agung Semarang (KAS) bisa lebih solid dan bersemangat mengatasi aneka tugas di KAS, juga tugas keluar dalam menjalin persatuan dan perdamaian di wilayahnya.

Tentu saja peran para tokoh agama dalam memberikan panutan gerakan persatuan dan perdamaian sungguh dibutuhkan pada saat ini. “Hendaklah mereka dengan tekun belajar meraih kecakapan sedemikian rupa, sehingga mampu memainkan peranan mereka dalam menjalin dialog dengan dunia serta orang-orang yang berpandangan macam-ragam. Hendaknya mereka juga menyingkirkan apa saja yang menimbulkan perpecahan, supaya segenap umat manusia dibawa dalam persatuan,” (GS art.43). Dan sebagai umat, kita juga bisa ikutserta bersama para tokoh agama menularkan virus persatuan dan perdamaian di masyarakat lewat tindakan, komunikasi sehari-hari, juga bisa lewat jejaring media sosial dengan membuat komentar yang menyejukkan dan mendamaikan demi keutuhan bangsa Indonesia.

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 21 Tanggal 21 Mei 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*