Artikel Terbaru

Demokrasi Kebablasan

Demokrasi Kebablasan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Negara yang demokratis menjamin adanya hak tiap warganya untuk tidak hanya dipilih dan memilih, tetapi juga untuk berpendapat. Tidak ada alasan yang substantif untuk mempersoalkan rasa politik warga yang demikian ini. Ketika jendela demokrasi kita dibuka lebar dan setiap orang bebas berbicara dan melahirkan pendapat, orang mulai merasa bahwa fondasi demokrasi kita sudah mulai mapan. Ternyata penilaian yang demikian itu meleset. Kebebasan ternyata memerosokkan demokrasi kita ke dalam alam bawah sadar. Kita mempraktikkan demokrasi dalam kepalsuan.

Upaya demokrasi kita lalu menjadi sebuah letupan naluri alamiah yang tidak mampu mengambil jarak untuk berefleksi. Politik kita pun cenderung bergerak pada tataran refleks dan bukan reflektif. Akibatnya, kita kehilangan daya kritis. Sikap ini menjadi sumber kegalauan dan keributan yang hanya mempertontonkan keberanian kosong dan cenderung melahirkan kekerasan. Demokrasi bukanlah sebuah impian yang muskil digapai. Demokrasi adalah sebuah bangunan yang harus direkonstruksi terus-menerus.

Alam bawah sadar kita yang refleks itu memaksa kita untuk menjadi pribadi yang egois dan intoleran. Kita selalu ingin mereaksi, berargumen dan berpolemik karena percaya bahwa demokrasi menghendakinya. Sebuah logika demokrasi yang sesat yang hanya bisa memperdalam cengkeraman egoisme daripada memperluas cara berdemokrasi yang tenggang dan rasional. Demokrasi kita lalu meluncur bebas dan kehilangan kendali dalam kungkungan berbagai kepentingan dan politik busuk. Demokrasi yang egois adalah demokrasi yang lahir dari aduan dan pertentangan nalar egoisme, sehingga melupakan nurani santun demokrasi.

Inilah yang diresahkan oleh Presiden Joko Widodo dalam pidatonya pada acara pengukuhan pengurus Dewan Pimpinan Pusat Partai Hanura periode 2016-2020, pada Rabu 22 Februari 2017. Presiden Joko Widodo menilai bahwa demokrasi kita sekarang sudah kebablasan. Hal ini pada akhirnya melahirkan artikulasi politik ekstrem, seperti liberalisme, radikalisme, fundamentalisme, sektarianisme, terorisme. Selain itu juga melahirkan ajaran lain yang bertentangan dengan ideologi Pancasila. Untuk mengatasi demokrasi yang kebablasan ini, menurut Presiden Joko Widodo, kuncinya adalah penegakan hukum.

Fenomena yang diresahkan oleh Presiden Joko Widodo demikian ini sangat jelas kita lihat, tidak hanya pada pesta demokrasi di tingkat daerah maupun pusat. Tapi justru yang sering kita lihat, hal itu muncul dalam berbagai tingkat birokrasi dan lembaga yang tengah berbicara demi sebuah kebijakan publik. Sindirian bahwa wakil rakyat seperti anak Taman Kanak-kanak tidak selalu salah. Memang demikian adanya bahwa demokrasi kita sudah kebablasan. Dalam demokrasi yang demikian ini, orang sepertinya lupa akan tata krama dan sopan santun. Kata-kata dan bahasa yang pantas seringkali diapkir hanya karena letupan egoisme yang tak terbentung. Demonstrasi pun sering menjadi ajang pelampiasan egoisme yang berakhir dengan kekerasan. Lagi-lagi, semuanya itu atas nama kebebasan.

Kita dididik dalam demokrasi yang salah. Demokrasi yang kita agung-agungkan itu ternyata melahirkan gerakan-gerakan ekstrem, seperti yang diresahkan oleh Presiden Joko Widodo. Siapa yang salah? Kita semua salah. Kita tidak mampu mengontrol libido egoisme kita. Demokrasi yang santun telah menjadi obsesi (imagined democracy). Kalau demokrasi yang kita kembangkan itu ternyata salah, maka kita perlu memperbaikinya. Cara memperbaikinya tidak lain hanya melalui hegemoni politik. Hegemoni politik adalah the driving force yang bisa dijadikan referensi dalam membangun demokrasi yang santun. Acuannya adalah penegakan hukum sebagaimana yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo.

Demokrasi yang santun dan bermartabat membidik pada semakin diperluasnya lingkup kebebasan dan semakin terciptanya institusi-institusi yang lebih adil. Dengan demikian, demokrasi yang santun dan bermartabat selalu menjangkarkan dirinya pada aspek-aspek normatif (moral dan etika). Dalam demokrasi yang santun, gerakan-gerakan ekstrem menjadi hal yang tabu. Kesantunan dan yang bermartabat peduli pada nilai-nilai dan etika sosial yang enggan mencederai.

Dony Kleden

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 16 Tanggal 16 April 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*