Artikel Terbaru

Rumah Anak Keluarga Buruh

Anak-anak TPA Indriasana saat menyantap snack sore.
[HIDUP/Christophorus Marimin]
Rumah Anak Keluarga Buruh
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comTempat penitipan anak (TPA) jadi solusi bagi buruh perempuan. Mereka bisa bekerja tanpa khawatir anaknya tak terurus. Melalui TPA, WKRI memperpanjang tangan Gereja untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Rumah yang beralamat di Jalan Bermis III, Desa Kuta Jaya, Pasar Kemis, Tangerang itu sepi. Hanya pintu pagar dan pintu utama yang sedikit terbuka. Di dalam rumah tak berkamar itu berjejer ranjang boks berukuran kurang lebih 1×1,5 meter. Di tiap ranjang boks itu, anak-anak usia empat sampai sepuluh tahun sedang tidur pulas. Sementara di ruang sebelah, anak-anak yang lain juga tertidur pulas di atas kasur yang dijejer di sekiling ruangan. “Ini baru mau makan. Pas anak-anak tidur siang gini baru bisa makan,” ujar seorang ibu sembari menyantap makan siangnya, Senin dua pekan lalu.

Rumah tersebut adalah Tempat Penitipan Anak (TPA) Indriasana. TPA ini menjadi tempat “numpang sementara” anak-anak dari keluarga buruh yang tinggal di sekitar Desa Kuta Jaya. Saat orangtuanya berangkat kerja, anak-anak ini dititipkan di TPA Indriasana. Di sana anak-anak bisa istirahat siang, makan, bermain, dan mengerjakan tugas sekolah.

Sehari-hari, sekitar delapan pengasuh menemani 75 anak di TPA Idriasana. Mulai dari pagi hari, sekitar pukul 06.30 sampai sore, pukul 17.00. Para pengasuh inilah yang bertugas mengantarkan mereka ke sekolah. Mereka juga yang menjemput anak-anak itu saat jam pulang sekolah. Selain itu, makan siang dan snack sore juga disiapkan para pendamping ini.

Tak hanya itu, para pendamping ini juga mengajari mereka baca-tulis. Bagi anak-anak Muslim, setelah mandi ada pengasuh yang mengantar mereka ke masjid untuk mengaji. Si pengasuh akan menunggu mereka sampai selesai mengaji dan membawa mereka pulang ke TPA.

Setiap pagi, saat anak-anak ini diantar, orangtuanya wajib mengisi daftar hadir pada buku yang tersedia di sisi kiri pintu masuk ruangan. Begitu pula, saat menjemput, orangtua harus mengisi paraf di buku jam jemput. Para orangtua yang datang menjemput anaknya sore itu rupanya sudah terbiasa dengan aturan main di TPA. Saat orangtua masuk pintu gerbang, pengasuh akan memanggil nama anak yang mau dijemput, sementara orangtua langsung menuju buku untuk menulis jam jemput.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*