Artikel Terbaru

Gereja Hadir dalam Keluarga Buruh

Gereja Hadir dalam Keluarga Buruh
1 (20%) 1 vote

Menurut Kepala BPB-LDD, F.X. Yono Hascaryo Putro, dari hasil pengamatan, banyak anak para buruh yang dititipkan ke tetangga. Nah, yang jadi masalah adalah bagaimana kualitas pengasuhan terhadap anak ketika dititipkan ke tetangganya. Sedangkan tetangga yang dititipkan itu biasanya juga harus mengurusi beberapa anak. “Apa lagi tetangganya itu memang bukan ‘didesain’ untuk mendidik atau mengasuh anak,” kata Yono.

Keprihatinan itu diwujudkan dengan membentuk semacam daycare lewat Tempat Penitipan Anak (TPA). TPA ini bukan hanya sekadar menjadi tempat titipan si anak selama orangtuanya bekerja, namun juga berkurikulum. Jadi, selain anak yang dititipkan merasa nyaman, mereka juga dididik oleh para pendamping atau pengasuhnya. Para pengasuh ini di persiapkan secara khusus dengan pelatihan tentang parenting. Dengan bekal ini, mereka betul-betul berkompetensi melakukan pendampingan terhadap anak.

Dalam melakukan karya pelayanan ini, BPB-LDD tak sendirian. Ia bermitra dengan beberapa serikat pekerja, seperti Serikat Buruh Bangkit Tigaraksa, Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) Semper, dan Paguyuban Pekerja Muslim Indonesia.

Aksi Nyata
Sejak 1998 bergelut di dunia perburuhan, Ketua Umum FBLP Jumisih merasa memiliki keprihatinan yang sama terhadap problematika yang dihadapi kaum buruh perempuan, salah satunya persoalan tentang dampak yang terjadi terhadap anak buruh. “Begitu orangtuanya masuk dalam dunia kerja, tidak dibarengi dengan pemenuhan hak anak. Sehingga anak mereka kurang mendapat perhatian. Ada yang dikirim ke kampung, tapi kebanyakan dikasih ke pengasuh ala kadarnya,” imbuh Jumisih.

Dalam pandangan Jumisih, anak-anak buruh pada akhirnya tidak mendapatkan pengasuhan yang maksimal. Baik dari sisi gizi, pola makan, pola istirahat, lingkungan, perhatian keluarga, dan kadang masuk dalam pergaulan yang menyimpang. Hal ini pulalah yang akhirnya mempengaruhi konsentrasi orangtua dalam bekerja. Banyak yang resah memikirkan anak. Yang lebih memprihatinkan, bila anaknya sakit, para pekerja juga sulit mendapatkan izin tidak masuk kerja dari pabrik.

Rasa empati ini kemudian ditunjukkan Jumisih melalui FBLP dan BPB-LDD. Ia mengutarakan keinginan untuk mendirikan TPA. Berkat TPA ini, buruh perempuan dapat bekerja dengan tenang, sementara anak mendapatkan pola asuh yang layak. “Ini sebagai bentuk pertanggung jawaban serikat atas situasi anggota. Respon BPB-LDD juga positif dan sangat membantu,” jelas Jumisih.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*