Artikel Terbaru

Perjuangan Perempuan Buruh

Sr Sebastiana HK.
[NN/Dok.Pribadi]
Perjuangan Perempuan Buruh
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDalam berbagai kesempatan, Gereja selalu menyuarakan agar kita peduli pada kaum buruh. Kepedulian ini berdasar pada semangat penghargaan atas hak-hak dasar sebagai manusia.

Setiap 1 Mei, dunia merayakan Hari Buruh Internasional atau May-day. Setiap perayaan “kelas pekerja” ini, saya teringat seorang sahabat buruh perempuan, Jumisih. Saya mengenal perempuan berjilbab, bertubuh mungil dengan paras cantik tersebut sejak tiga tahun silam. Jumisih, sosok perempuan pejuang buruh cerdas dan kreatif. Idenya segar dan selalu mengalir. Ia mudah bergaul dan selalu ceria. Itu sebab dia dipercaya menjadi ketua umum salah satu serikat buruh di Jakarta Utara.

Sejak pertama kali bertemu, ia sudah berani menceritakan kondisi hidup para
perempuan buruh yang tak dapat menikmati gaji yang layak. Gaji yang mereka terima dari kerja keras, hanya cukup untuk makan sederhana, bahkan sering tidak cukup. Lalu, ke mana gaji mereka? Jumisih berkisah, “Gaji kecil, di bawah UMP. Itu pun cuma lewat untuk membayar utang.” Ternyata gaji mereka digadaikan ke rentenir untuk membayar utang. Para rentenir yang banyak berkeliaran di sekitar pabrik dengan leluasa bisa mengambil uang dari para buruh perempuan. “Yah, kartu ATM para buruh dikuasai rentenir!”

Pengeluaran yang besar disebabkan karena bunga pinjaman yang tinggi. Dampaknya, para buruh harus bekerja ektra keras lagi, kalau perlu mengejar jam kerja lembur agar bisa mendapatkan upah yang lebih banyak untuk keperluan lain. Dampak selanjutnya, mereka tak lagi memiliki waktu untuk mengembangkan diri, baik untuk berorganisasi, bersosialisasi, bahkan waktu untuk keluarga. Bila memiliki anak, pengasuhan anak juga akan bermasalah. Keniscayaan terjadinya kemiskinan berantai terus terwariskan ke generasi selanjutnya.

Pesan Kemanusiaan
Kondisi miris ini diingatkan para Bapa Gereja melalui Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes (GS). Dalam GS art. 67, “…bila menyangkut para ibu rumah tangga, hendaknya mereka semua mendapat istirahat dan mempunyai waktu terluang secukupnya, untuk menghayati kehidupan keluarga, budaya, sosial dan keagamaan”. Senada dengan GS, Paus Fransiskus dalam Himbauan Apostolik Evangelii Gaudium (EG) juga berbicara tentang sistem ekonomi yang mengucilkan. Paus mengingatkan kita untuk tetap memiliki compassion terhadap jeritan kaum miskin. Kita dilanda “globalisasi ketidakpedulian” (EG, 54). Maka semangat generous solidarity, “Solidaritas dan Berkemurahan hati” dan sistem ekonomi yang mengutamakan manusia jauh lebih etis (EG. 58).

Berkaca dari pesan Paus Fransiskus, apa yang bisa kita tawarkan sebagai alternatif terwujudnya harapan akan perubahan? Beberapa kali saya bersama tim pelayanan buruh dari Lembaga Daya Dharma (LDD) Keuskupan Agung Jakarta menawarkan gerakan alternatif memperkuat ekonomi dengan membangun Credit Union. Jumisih dan kawan-kawannya menanggapi usulan gerakan ini dengan antusias. Kami mulai memfasilitasi mereka mendirikan koperasi simpan pinjam sendiri.

Koperasi ini bukan hanya melayani simpan pinjam, tetapi sudah mulai mengembangkan pendidikan bagi para anggota. Mereka diajarkan pelbagai pengetahuan tentang keterampilan pengelolaan keuangan rumah tangga, hak-hak dasar buruh, sampai pengasuhan anak-anak. Pendampingan ini sesuai visi koperasi, yakni menjadi wadah gerakan solidaritas dan pemberdayaan buruh di bidang sosial ekonomi secara partisipatif dan terpercaya untuk kemandirian dan kesejahteraan.

Sudah 14 tahun saya berkecimpung dalam pastoral kaum buruh. Perjuangan mereka tak lain adalah memperjuangkan perlindungan sosial dan perlakuan yang adil di tempat kerja. Sehingga dengan ini hak-hak normatif, seperti hak reproduksi dan perlindungan dari pelecehan seksual di tempat kerja bisa terwujud.

Mereka juga masih berjuang agar bisa melakukan kewajiban sebagai perempuan buruh yang mampu melaksanakan peran sebagai ibu bagi anak-anak yang membutuhkan air susu ibu (ASI) dan pengasuhan yang baik. Mereka menuntut kesempatan dan fasilitas dari tempat kerja untuk bisa mengambil ASI-nya (breastfeeding) di kamar yang layak (pojok laktasi) dan menyimpan di tempat yang aman (freezer). Saya bersyukur telah menjadi saksi kegigihan mereka selama 14 tahun.

Sr Sebastiana HK
Utusan Kongregasi Suster Hati Kudus Teluk Betung untuk berkarya bagi buruh bersama LDD KAJ.

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 17 Tanggal 23 April 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*