Artikel Terbaru

Tubuh Mulia Yesus

Tubuh Mulia Yesus
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDikatakan bahwa Yesus dibangkitkan dengan tubuh yang mulia. Berarti Yesus masih mempunyai tubuh? Apa beda tubuh mulia itu dengan tubuh kita di dunia ini?

M. Hendrika Lili Cahyadi, Malang

Pertama, kebangkitan Yesus tidak sama dengan kebangkitan Lazarus, putri Yairus dan putra janda di Nain. Karena setelah bangkit, Yesus tidak akan mati lagi, sedangkan yang lain itu akan mengalami kematian lagi. Pada Yesus, kematian tidak berkuasa lagi atas tubuh-Nya (Rm 6:9). Tubuh mulia Yesus berbeda dengan tubuh jasmani kita, karena tubuh mulia itu bisa menembus tembok dan bisa memasuki ruangan yang terkunci (bdk. Yoh 20:19.26).

Perbedaan itu ditunjukkan secara jelas oleh Rasul Paulus, yaitu untuk badan sebelum kebangkitan digunakan kata “daging” (sarx, Yun) (bdk. 1 Kor 15: 39). Sedangkan untuk badan Yesus yang bangkit digunakan kata “tubuh” (soma, Yun) yang dikaitkan dengan “kemuliaan” (bdk. 1 Kor 15: 40-44). “Perubahan” ini diungkapkan Paulus sebagai transfigurasi dari tubuh yang “duniawi” menjadi tubuh “surgawi”.

Dari berbagai penampakan Yesus, kita bisa menyimpulkan bahwa tubuh mulia Yesus itu mempunyai sifat yang bisa ditangkap indera manusia. Tuhan yang bangkit bisa dilihat, didengar, diraba, dan dipeluk (Mat 28:9-10; Luk 24:39-40; Yoh 20:27). Magdalena mengenali Yesus ketika Yesus memanggil dia dengan namanya (Yoh 20:16).

Penginjil Lukas mau menekankan bahwa Yesus yang bangkit itu bukan hanya roh, tetapi juga mempunyai tubuh, meskipun berbeda dengan tubuh jasmani. Lukas mengisahkan bahwa Yesus meminta “sepotong ikan goreng” dan kemudian memakannya (Luk 24:41-43). Sulit menjelaskan bagaimana ikan goreng itu masuk dalam tubuh mulia Yesus. Penekanan yang sedemikian ini kiranya hendak melawan kecenderungan yang mengatakan bahwa tubuh Yesus itu hanyalah pura-pura atau nampaknya saja seperti badan.

Kedua, sifat mulia dari tubuh Yesus menyebabkan tubuh itu tidak sama dengan tubuh jasmani, mengatasi dunia fisik. Sifat mulia tubuh Yesus yang demikian itu mengatasi kemampuan manusia biasa untuk mencerapnya. Itulah sebab kedua murid yang pergi ke Emmaus itu pada awal tidak bisa mengenali Yesus (Luk 24:13-35). Demikian pula para murid lain mengira bahwa Yesus itu hantu (Luk 24:36-49). Ungkapan ini mau menekankan sifat mulia dari tubuh Yesus bangkit. Di Laut Tiberias, dari antara tujuh orang yang berada di perahu, hanya “murid yang dikasihi Yesus” (Yoh 21:7) yang mengenali Yesus.

Pengalaman inderawi melulu tidak memadai untuk mengenal Yesus dengan tubuh yang mulia. Seperti “murid yang dikasihi Yesus”, dibutuhkan iman, kasih, dan rahmat Allah untuk mengenal Yesus. Dibutuhkan rahmat Allah yang mengobarkan hati dan membuka pikiran sehingga kita bisa mengenali kehadiran-Nya (Luk 24:31-32).

Pengenalan akan Yesus dalam iman tidak dipaksakan pada para murid. Mereka bebas mempercayai atau meragukan kehadiran-Nya (bdk. Mat 28:17). Kepada mereka yang mempunyai iman awal untuk mengenali Yesus, rahmat Allah akan membantu dia mengenali-Nya secara lebih penuh seperti yang terjadi pada Tomas. Pengakuan Tomas “Ya, Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28) merupakan lompatan pengakuan iman akan jati diri Yesus sesudah bangkit.

Ketiga, ada kesinambungan dalam tubuh mulia yang bangkit dengan tubuh jasmani. Kesinambungan ini hendak mengatakan bahwa Yesus yang bangkit mulia adalah sama dengan Yesus, putra Maria. Untuk itu, penginjil menekankan bahwa ciri-ciri yang dimiliki Yesus yang disalib adalah sama dengan Yesus yang bangkit, yaitu tanda paku dan tombak (Yoh 20:17). Cara Yesus yang bangkit memecah roti sama dengan cara Yesus guru mereka memecah roti (Luk 23:30-31). Jadi, ada kesinambungan jati diri Yesus yang dinyatakan dalam tubuh mulia itu, tetapi ada ketidaksinambungan yang membedakan tubuh mulia dari tubuh jasmani.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 17 Tanggal 23 April 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*