Artikel Terbaru

Duh, Pacarku Posesif

Duh, Pacarku Posesif
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comPengasuh, pacar saya begitu posesif. Dia sangat membenci mantan pacar saya. Padahal, saya dan mantan sudah tak berhubungan lagi. Foto-foto lama saya dan mantan di akun media sosial, dia hapus. Padahal saya pribadi sudah tak memikirkan, bahkan melupakan masa lalu dengan mantan. Sementara saya tahu dia juga punya kekasih sebelum kami menjalin hubungan baru. Tapi sikap saya kepada mantannya, jauh berbeda dengan sikap dia kepada mantan saya. Saya kadang marah dan tertekan karenanya. Kami berpacaran sudah dua tahun. Bagaimana langkah yang harus saya ambil?

Margaretha Isyana, Makassar

Isyana, cinta bagi remaja identik dengan pacaran. Masa ini sesungguhnya menjadi kesempatan belajar saling mengenal keunikan, kelebihan, dan kelemahan dari masing-masing individu. Harapannya terjadi saling pengertian dan toleransi.

Faktanya, pacaran tak selalu indah, bahkan tak jarang terjadi “kekerasan”, pemaksaan kehendak yang memunculkan penderitaan bagi korban, baik secara fisik maupun mental. Data menunjukkan, fenomena kekerasan dalam pacaran menduduki peringkat kedua setelah kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Cemburu merupakan emosi yang wajar. Namun, cemburu yang berlebihan akan memunculkan sikap posesif. Sikap itu bisa merusak keharmonisan hubungan. Pada satu sisi, ada pihak yang dominan, mengatur, menjadi acuan dalam menetapkan benar-salah, dan mengambil keputusan. Di sisi lain, ada pihak yang dikalahkan kepentingannya, dipersalahkan, dan dituntut untuk bisa menerima. Akibatnya terjadi ketimpangan dalam berelasi yang disebut relasi kuasa.

Sifat posesif kadang muncul bukan karena pasangan tak bisa dipercaya, namun karena ia merasa tak aman dengan diri sendiri dan kurang percaya diri. Untuk itu, pasangan harus bisa saling mengisi, belajar, memberikan energi dan berpikir positif, serta saling memaafkan jika ingin tetap mempertahankan hubungan.

Orang yang posesif akan berupaya untuk “menguasai” pasangannya dalam beragam bentuk, seperti selalu ingin mengetahui di mana keberadaannya, mengharuskan untuk meminta izin, persetujuan jika akan melakukan sesuatu, dan mengambil keputusan. Pasangan biasanya berdalih karena rasa sayang yang besar, namun faktanya tidak sesederhana itu.

Pacaran melibatkan interaksi dua individu. Sebuah reaksi muncul karena ada stimulus. Secara teoritis, ada beberapa kemungkinan pasangan menjadi posesif. Pertama, mencintai berlebihan dan takut kehilangan sehingga membatasi pergaulan dengan tak mengizinkan pasangan memiliki sahabat lelaki.

Kedua, trauma karena pernah kehilangan seorang yang dicintai, mungkin karena selingkuh atau meninggalkan dengan tiba-tiba. Ketiga, pasangan sering berbohong, katanya sudah tak cinta kepada mantan pacar, namun foto-foto kenangan masih terpampang jelas. Keempat, hadir orang ketiga atau pasangan mulai khawatir kekasihnya balikan dengan sang mantan.

Kelima, kurang percaya diri sehingga memiliki ketergantungan yang tinggi kepada pasangan dan tak ingin kehilangan pasangannya. Ketakutan akan ditinggalkan mengakibatkan ia juga takut kehilangan kendali atas pasangannya.

Relasi masa lalu yang begitu romantis dapat memunculkan kecemburuan yang berlebihan, apalagi bila tak ada niat darimu untuk menghapus kenangan lama, sementara pasangan barumu tipikal orang yang mudah cemburu. Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh. Pertama, menjalin komunikasi yang didasarkan rasa saling percaya dan niat baik. Ada kesediaan belajar saling mendengarkan. Kedua, sadar bahwa masing-masing individu butuh ruang privasi yang tak bisa diintervensi, kelak sekalipun sudah berkeluarga. Ketiga, saling mengenalkan teman untuk mengurangi perasaan curiga. Keempat, meluangkan waktu bersama, dalam suasana yang rileks, menyenangkan, dan pemikiran yang positif. Kelima, mengevaluasi kembali hubungan kalian. Keenam, tetap lanjut atau memilih untuk mengakhiri hubungan bila dirasa sudah tidak ada kecocokan.

Praharesti Eriany

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 17 Tanggal 23 April 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*