Artikel Terbaru

Laurentius Sugiri Willim: Rindu Giri pada Seni

Giri dengan latar mural yang sedang ia kerjakan di Rumah Misi RGS Jatinegara.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Laurentius Sugiri Willim: Rindu Giri pada Seni
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comLewat sapuan kuas, ia tak hanya memanjakan mata. Lebih dari itu, ia ingin seni bisa menarik umat untuk datang dan berinteraksi dengan Dia.

Tangan Laurentius Sugiri Willim menari-nari di permukaan dinding berkelir putih. Sebatang pensil dalam genggaman tangannya meliuk-liuk membentuk sketsa-sketsa. Draf itu kemudian ia poles dengan cat tembok beraneka warna. Perlahan-lahan, sapuan kuas Giri mulai memperlihatkan bentuk.

Di dinding berukuran 7 x 4 meter itu, Giri menggambarkan perjuangan dan pelayanan Sr Mary Euphrasia Pelletier. Setidaknya ada tiga bagian dalam mural itu. Pertama, Sr Euphrasia bertemu dan meminta izin kepada Uskup Angers waktu itu, Mgr Charles Montault des Isles (1755-1839). Di bagian ini muncul juga gambar Sr Euphrasia mendekap batu.

Kedua, terowongan St Nicholas yang menghubungkan antara biara Gembala Baik dengan penjara. Terowongan ini dibuat Sr Euphrasia bersama para susternya agar tiap saat bisa bertemu dengan anak-anak di penjara. Ketiga, Sr Euphrasia mengunjungi dan bercengkerama dengan anak-anak. “Pak Giri bisa menerjemahkan lebih dari yang saya bayangkan,” ungkap penanggung jawab rumah misi RGS Sr M. Veronica Endah Lestari RGS, di Jakarta Timur, Sabtu, 8/4.

Melukis Spiritualitas
Sr Endah mengakui, ide awal hanya akan ada gambar terowongan di bagian sentral rumah misi RGS itu. Namun konsep ini berkembang setelah mendapat saran dari Giri. Ia menambahkan beberapa elemen dalam mural itu. Giri, kata Sr Endah, berharap para pengunjung mendapatkan narasi utuh soal latar belakang dan tujuan munculnya terowongan itu.

Bagi biarawati asal Semarang itu, Giri tak sekadar mumpuni melukis suatu obyek, tapi ia berhasil mengangkat spiritualitas Gembala Baik, sehingga mampu diindrai oleh tiap orang yang melihat karyanya. Hal itu bisa terlihat dari mural lain karyanya di taman doa Biara Gembala Baik di Jatinegara.

Di mural yang didominasi warna hijau terdapat banyak labirin. Di antara sekat-sekat itu terdapat perempuan hamil dan memegang piring kosong, ibu yang menggendong balita, dan seorang anak bertubuh kurus. “Lukisan itu mengisahkan pelayanan RGS yang fokus kepada perempuan dan anak yang terpinggirkan,” tambah Sr Endah.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*