Artikel Terbaru

Agustinus Adry Manengkey: Birokrat “Pala”, Pelayan Warga

Agustinus Adry Manengkey.
[HIDUP/Yusti H.Wuarmanuk]
Agustinus Adry Manengkey: Birokrat “Pala”, Pelayan Warga
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAdry, Sekda Kabupaten Sitaro menilai seorang birokrat adalah pelayan Tuhan dan bukan atasan. Tuhan itu terejawantah dalam diri masyarakat yang ia layani.

Paradoks. Kata ini pantas disematkan pada Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, populer dengan sebutan Sitaro, Sulawesi Utara (Sulut). Meski secara geografis kabupaten ini berbentuk kepulauan, komoditi terkenal bukan dari perikanan melainkan pertanian. Semburan material perut bumi Gunung Karangetan pada 1675 menjadi pupuk alami bagi pertanian terutama tanaman pala di Sitaro. Data statistik pertanian Kabupaten Sitaro 2007 menyebutkan, produksi pala Sitaro mencapai hampir 166 ton. Jumlah ini terus meningkat sejalan dengan perhatian pemerintah Sitaro.

Adry, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sitaro punya peranan penting dalam mengembangkan tanaman pala. Pria bernama lengkap Agustinus Adry Manengkey ini memiliki kepedulian besar terhadap sistem agribisnis tanaman pala yang kini dihidupi masyarakat Sitaro. Menurutnya, selain ke suburan tanah, faktor penggunaan bibit yang baik, menentukan keberhasilan usaha tani tanaman pala di Sitaro. Keberhasilan ini juga karena subsistem agribisnis produksi dari pemeliharaan sampai panen berjalan baik. “Para petani dan kelompok tani sangat rutin melakukan pengelolaan lahan dengan merawat dan memanen.”

Low Profile
Sumber daya alam Sitaro menjadi magnet bagi jebolan Universitas Sam Ratulangi Manado ini. Adry menyadari bahwa komoditi pertanian “multiguna” ini membuat Sitaro menjadi “surga” tersembunyi bagi pertanian Indonesia. Ketertarikannya pada program usaha tani masyarakat Sitaro bermula saat dia menyaksikan kondisi masyarakat Sitaro, terutama yang berada di kelas ekonomi menengah ke bawah. Faktor ekonomi, jelas Ardy, menjadi faktor penentu kualitas sumber daya manusia.

Masyarakat Sitaro, lanjut Ardy, belum terlalu paham memanfaatkan hasil alam agar lebih berdaya guna. Kesimpulan itu lahir ketika ia menjadi Pejabat Pelaksana Tugas (PLT) Sekda Kabupaten Sitaro pada 2013. Ia pun memendam cita untuk menjadikan tanaman pala sebagai tiang ekonomi petani Sitaro. Pada November 2014, ketika dilantik sebagai Sekda Kabupaten Sitaro, cita-cita Ardy membudidayakan tanaman pala secara profesional mulai berjalan.

Adry bercerita, dulu para petani menjual tanaman pala dengan “harga kekeluargaan”. Adry mengubah itu melalui sistem harga yang disepakati bersama, sehingga biji pala bisa dijual ke pedagang pengumpul di Pasar Ondong dengan harga yang memuaskan, baik bagi petani maupun pedagang. Adry juga membantu proses pemasaran ke Manado dan Surabaya yang kemudian diekspor ke luar negeri. Harga biji pala bervariasi, tergantung kualitas. “Semua ini untuk kesejahteraan masyarakat Sitaro,” ungkap sosok yang dikenal low profile oleh rekan sejawatnya ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*