Artikel Terbaru

Bijak dengan Medsos

Bijak dengan Medsos
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Belakangan ini, bangsa Indonesia sibuk dengan aneka isu keretakan. Republik ini seolah terhanyut dalam riak-riak berbau SARA. Politik identitas dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta lalu juga terasa menguat. Muncul kekhawatiran bagi sebagian masyarakat karena banjir informasi yang belum tentu jelas kebenarannya. Sebagian orang latah menyebut saudaranya “kafir”. Ujaran kebencian pun banyak menghiasi media sosial (medsos). Meski sebagian cenderung apatis dengan hiruk-pikuk itu, pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia, Minggu, 28/5, layaklah kita merefleksikan fenomena ini.

Penggunaan medsos mengemuka beberapa tahun ini. Siapa sangka bahwa peran medsos begitu besar dalam arena Pilpres 2014. Saat itu, di jagad maya muncul polarisasi dua kubu anak bangsa. Dalam Pilkada DKI Jakarta lalu, fenomena ini kembali muncul. Medsos digunakan untuk identifikasi diri dan pihak lain sebagai dua kelompok berbeda. Tiap kubu merumuskan isu-isu sama, tapi dikemas secara berbeda sesuai karakteristik demografi pendukung. Masalahnya, masing-masing pendukung hingga ke akar rumput mulai fanatik. Tak jarang persahabatan rusak gara-gara beda pilihan, kawan di-unfriend, kolega diblok, bahkan left grup keluarga hingga debat kusir di meja makan.

Relasi antarkelompok ini harus dipahami dalam beberapa aspek, antara lain diskriminasi individu dalam kelompok, orientasi pada etnosentrisme terkait identitas sosial ingroup dan outgroup (Tajfel & Turner, 1979). Tiap orang punya kebutuhan mendapat identitas sosial positif dengan menetapkan perbedaan nilai secara positif dalam kelompoknya dibandingkan kelompok lain. Tak heran muncul favoritisme, bahkan fanatisme kelompok. Identitas kelompok menjadi identitas personal, maka perbedaan nilai dalam kelompok lain dianggap musuh. Pandangan pada kelompok lain ini pun menimbulkan stereotype, baik verbal maupun nonverbal. Eskalasi terjadi jika banyak individu terlibat dan massif, serta ada provokasi. Kuatnya identifikasi kelompok ini dengan mudah membuat relasi persahabatan menjadi relatif; pun karena lemahnya literasi. Di sinilah medsos menjadi cermin identifikasi kelompok dan pertentangan dua kubu.

Maka, de-eskalasi dibutuhkan sebagai antisipasi konflik horizontal. Budaya literasi harus diperkuat agar kebenaran informasi punya landasan rasional, daripada sekadar klaim belaka. Medsos sungguh menjadi strategis untuk memobilisasi massa, melakukan diseminasi opini, propaganda nilai, dan penyebaran informasi secara cepat. Di sinilah Gereja–kita semua–dipanggil menjadi garam dan terang. Para penggiat Komsos di paroki dan keuskupan mestinya tanggap dengan situasi ini. Kita harus bermain dengan konten bermutu, menyejukkan, dan bernuansa positif; bukan justru ikut terlibat dalam polarisasi yang ada. Gemakan rekonsiliasi, tanpa terus mengorek masa lalu, memelihara dendam dengan aksi balas-membalas! Medsos mestinya menjadi sarana pewartaan Kabar Baik, membangun budaya literasi di kalangan orang muda.

Gerak rekonsiliasi itu butuh kesetiaan berjuang, seperti Nelson Mandela kala memutus rantai politik apartheid di Afrika Selatan, tak ada dendam masa lalu dan bergandeng tangan untuk maju bersama. Inilah teknik transformasi konflik. Maka, gunakanlah medsos untuk menebar kasih. “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44).

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 22 Tanggal 28 Mei 2017

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*