Artikel Terbaru

Menjawab Kebutuhan Zaman

Sr Carolina Nuryati CB.
[NN/Dok. Pribadi]
Menjawab Kebutuhan Zaman
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPara suster CB berusaha hadir dan peka pada kebutuhan zaman dalam karya pendidikan, kesehatan, dan sosial pastoral.

Kongregasi Carolus Borromeus (CB) merayakan syukur 180 tahun berkarya di dunia pada Sabtu, 29/4 dan tahun depan seabad di Indonesia (7 Oktober 2018). Mereka melayani masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial-pastoral, serta punya karya alternatif, lingkungan hidup.

Pelayanan CB ini dijiwai nilai-nilai dan spirtitualitas pendiri mereka, Elisabeth Gruyters. Melalui aneka pelayanan, para suster CB ingin hadir, menyapa, mengulurkan tangan bagi mereka yang berkesesakan hidup. Berikut petikan wawancara dengan Provinsial CB (Oktober 2011-2017), Sr Carolina Nuryati CB:

Bagaimana dinamika karya pelayanan CB?

Dinamika karya pelayanan CB selalu mulai dengan kepekaan kongregasi atas
kebutuhan zaman, yang dikenali sebagai panggilan Allah dari keprihatinan-Nya akan keselamatan jiwa manusia dan mereka yang berkesesakan hidup karena ada dalam bahaya, tak dihargai martabatnya sebagai manusia dan anak Allah. Menanggapi kebutuhan itu, kami melanjutkan semangat Bunda Elisabeth, pendiri kongregasi kami yang memulai kongregasi dan karya-karyanya dengan tidak mempunyai apa-apa dan seadanya, karena yang diandalkan adalah Penyelenggaraan Ilahi (Elisabeth Gruyters, EG.23).

Keterbukaan bekerjasama dengan mitra karya juga merupakan dinamika dan
kekhasan pelayanan dan karya CB. Harapannya, karya-karya akan terus berkembang seiring tuntutan zaman.

Bagaimana spiritualitas pendiri diterjemahkan dalam karya?

Kami butuh waktu cukup panjang untuk menemukan cara/metode implementasi spiritualitas dalam karya. Kami menemukan bahwa pedoman dibutuhkan sebagai sarana kami untuk mewariskan nilai-nilai kepada mitra karya dengan istilah yang lebih mudah dipahami. Kami merumuskan Guidance Principle Carolus Borromeus (GPCB) untuk masing-masing karya.

Spiritualitas pendiri menjiwai karya kesehatan melalui sikap hormat terhadap
martabat pasien yang dilayani sebagai Tamu Ilahi, Tubuh Mistik Kristus yang
menderita (EG.108). Spiritualitas pendiri yang menyemangati karya pendidikan adalah “membangun dasar hidup yang baik” (EG.51). Sedangkan spiritualitas pendiri yang menjiwai karya sosial adalah menjaga keselamatan, baik jasmani maupun rohani anak-anak yatim-piatu (EG.152).

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*