Artikel Terbaru

St Riccardo Pampuri OH (1897-1930): Dokter Muda yang Murah Hati

Ilustrasi St Riccardo Pampuri OH bersama para pasiennya.
[sanriccardopampuri.altervista.org]
St Riccardo Pampuri OH (1897-1930): Dokter Muda yang Murah Hati
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comHidupnya begitu singkat. Walaupun begitu, ia dikenang sebagai dokter muda yang murah hati serta sangat dicintai para pasien dan koleganya.

Setelah Perang Dunia I (1914-1918), keadaan Italia belum sepenuhnya pulih. Biarpun Italia bisa dikatakan sebagai salah satu pemenang, namun banyak kota hancur, kemelaratan, serta pengangguran merajalela. Dalam keadaan seperti itu, muncul juga partai fasis pimpinan Benito Mussolini (1883-1945) tahun 1922, yang menjalankan kekuasaan secara diktator.

Akibat perang, salah satu kota di Italia, Morimondo hancur. Warganya juga mengalami kemiskinan dan banyak orang sakit. Di kota ini, ada seorang dokter muda yang bernama Dokter Pampuri. Ia dikenal rajin, profesional, murah hati, dan memiliki keprihatinan kepada para pasiennya. Saat praktik, ia tak segan-segan mengunjungi pasien siang atau malam, tak peduli di mana pun mereka tinggal, bahkan di tempat-tempat yang sulit ditemukan. Karena yang dilayani sebagian besar pasien miskin, ia pun memberikan obat gratis, uang, makanan, pakaian, juga selimut. Kadang, uangnya sendiri habis.

Kegiatan amal ini juga diperluas di beberapa kota yang tak jauh dari tempat
tinggalnya. “Saya selalu melihat Yesus pada pasien saya. Karena Dialah, saya peduli untuk menyembuhkan, juga menghibur Dia yang telah menderita dan mati menebus dosa-dosa kita,” tulis Dokter Pampuri kepada adiknya yang menjadi biarawati di Mesir.

Yatim Piatu
Dokter Pampuri lahir pada 2 Agustus 1897 di Trivolzio, Pavia, Italia, dengan nama kecil Erminio Filippo Pampuri. Ia anak kesepuluh dari sebelas bersaudara, pasangan Innocenzo Pampuri dan Angela Campari. Sehari setelah dilahirkan, ia dibaptis. Ketika berumur tiga tahun, ibunya meninggal akibat tuberkulosis. Pampuri kemudian dirawat dan dididik dengan iman Kristiani yang taat oleh saudari ibunya, Bibi Maria, istri Dokter Carlo. Mereka tinggal di Torrino, dekat kota Trivolzio. Tujuh tahun kemudian, pada 1907, Pampuri kembali berduka. Ayahnya wafat karena kecelakaan di kota Milan.

Menginjak sekolah dasar, Pampuri mengenyam pendidikan di Trovo dan Casorate. Karena kesehatan fisiknya kurang baik, ia kadang dilarang bepergian apabila cuaca sedang tidak baik. Memasuki sekolah menengah, Pampuri melanjutkan pendidikan ke kota Milan. Setelah lulus, ia meneruskan ke sekolah berasrama di Agustinus College, Pavia dan masuk Fakultas Kedokteran. Sewaktu kuliah, Pampuri dikenal tenang dan unggul dalam studi sehingga disukai teman-temannya. Di kampus, ia juga aktif berorganisasi. Meskipun lingkungan kampus kurang simpati dengan kegiatan rohani, Pampuri tetap rajin Misa Harian. Pampuri juga bergabung dalam kegiatan kerohanian di Pavia University Severino Boezio Club.

Tahun 1914-1918, Perang Dunia I berkecamuk. Pampuri pun harus menjalani wajib militer dan bergabung dengan korps medis. Setelah mendapat kursus singkat, ia dikirim ke garis depan. Walaupun telah beberapa kali berinteraksi dengan orang sakit, Pampuri sangat terkejut dengan kebrutalan perang. “Perbuatan bodoh yang tidak menghargai kehidupan manusia. Begitu banyak yang terluka, banyak tubuh rusak!” tulisnya dalam sebuah catatan. Di medan perang, ia melayani dengan total sampai mengalahkan kepentingan dirinya sendiri. Seorang teman Pampuri berkata, “Dia selalu baik kepada tentara yang terluka, terutama yang terluka parah. Ia juga selalu menghibur dan merasa khawatir jika ada yang belum menerima sakramen.” Saat perang, Pampuri selalu membawa Injil dan buku The Imitation of Christ di sakunya untuk dibaca saat ada waktu senggang. Di awal tugasnya, Pampuri berpangkat Sersan. Setelah perang berakhir, pangkatnya menjadi Letnan Dua.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*