Artikel Terbaru

Benediktus XVI 90 Tahun

Paus Benediktus XVI.
[cbsnews.com]
Benediktus XVI 90 Tahun
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pada 16 April 1927, pukul 04.15, di Marktl am Inn, Jerman Selatan, lahirlah Josef Aloisius Ratzinger. Hal itu berarti, tanggal 16 April 2017 ini, Paus Emeritus Benediktus XVI memperingati ulang tahun ke-90. Dia lahir saat Sabtu Sepi, kini ulang tahun ke-90 diperingati pada Hari Raya Paskah. Tentu, ulang tahun seseorang yang bukan orang biasa, apalagi ini ulang tahun ke-90, perlu disambut secara khusus.

Paus Emeritus Benediktus XVI lama memberikan sumbangan berarti bagi Gereja. Sejak usianya relatif masih muda, dia sudah terlibat dalam proses Konsili Vatikan II, sebagai penasihat teologi, terutama penasihat teologi bagi Kardinal Josef Frings, Uskup Agung Köln, Jerman kala itu. Kemudian, berbagai sumbangan bagi Gereja mengalir deras darinya, baik dalam bentuk tulisan, pemikiran, terlebih atas keterlibatannya langsung dalam Tubuh Gereja, sebagai teolog, Uskup Agung, Kardinal, Prefek Kongregasi Ajaran Iman, dan sebagai Paus, yang terpilih pada 19 April 2005, hingga pengunduran dirinya, pada 11 Februari 2013.

Gereja
Dikenal tulisan dari Josef Ratzinger pada tahun 1970, dikatakannya bahwa dia lebih ingin memandang Gereja yang kecil, bukan dalam ruang dan organisasi besar, tidak terlalu banyak birokrasi, namun walaupun kecil, tetap menemukan kembali peran dan keterlibatannya, serta cara hidup yang lebih rasuli dan profetis. Gereja bukan soal statistik, demikian diungkapkan Paus Benediktus XVI, melainkan lebih soal iman. Identitas Gereja tidak ditentukan oleh jumlah dan kuantitas, tetapi terlebih oleh kesetiaannya akan iman dan komitmennya akan kehidupan serta pewartaan Injil. Kesetiaan akan kebenaran iman, itulah prinsip hidup yang dia pegang.

Memang dia menyaksikan Gereja paska Konsili Vatikan II sebagai Gereja yang sedang berada dalam arus perubahan. Dalam wawancara dengan Jacques Servais SJ pada Maret 2016, Paus Emeritus Benediktus XVI mengatakan bahwa Gereja menghadapi krisis ganda, motivasi misioner dan pemahaman akan iman. Iman bukanlah hasil refleksi atau sekadar keikutsertaan dalam suatu kelompok. Iman adalah buah perjumpaan personal dengan Allah. Memang baginya, iman bukanlah perkara rumusan, norma ataupun aturan, namun relasi pribadi dengan Kristus. Iman tersebut haruslah diwartakan, sebab memang Gereja dipanggil sebagai Gereja pewarta Kabar Gembira, Gereja diutus untuk menyatakan kasih penyelamatan Allah.

Saat ditanya oleh Peter Seewald, dalam wawancara terakhir, Letzte Gespräche, Benediktus XVI mengakui bahwa selama masa kepausannya, dia mencoba, di satu sisi, menyesuaikan dengan situasi perubahan zaman, dalam arus modernistas. Namun di sisi lain, tetap menjaga berjalannya kontinuitas
perjalanan tradisi Gereja. Kehidupan Gereja ditapaki dalam hermeneutika kontinuitas, demikian dikatakannya tentang penafsiran atas Gereja Vatikan II. Semuanya itu berawal serta berdasar pada iman. Oleh karena itu, Paus lalu
menetapkan Tahun Iman, untuk menggerakkan kehidupan menggereja dengan meneguhkan kembali akan kehidupan beriman, kehidupan dari tengah, bukan dari ekstrem satu ke ekstrem lain, berangkat dari suatu dinamisme iman, sehingga Allah kembali menjadi pusat, menjadi bahan pertimbangan dasar dalam kebijakan dan kehidupan publik. Hidup yang berpusat pada iman, itulah harapannya akan kehidupan Gereja dan semua umat beriman.

Baginya yang menjadi ciri dasar adalah belas kasihan. Kemurahan hati Allah adalah sesuatu yang sentral dalam pesan Injil, sebab hal itu adalah pantulan serta perwujudan dari kerahiman Ilahi. Paus Benediktus XVI menempatkan hal itu dalam arus perjalanan Gereja Vatikan II, di mana kemudian Bapa Suci Yohanes Paulus II meneruskannya dengan pewartaan akan wajah belas kasih Allah. Paus Benediktus XVI karenanya mensyukuri bahwa Paus Fransiskus meletakkannya sebagai ciri dasar penggembalaannya. Allah yang bertindak menyelamatkan merupakan Allah, yang adalah Kasih. Ensiklik pertamanya,
Deus Caritas est dan ensiklik sosialnya, Caritas in Veritate, ataupun suratnya tentang Ekaristi, Sacramentum Caritatis, menegaskan hakikat dasar hidup menggereja adalah untuk menyatakan wajah kasih Allah, yang dalam kemurahan hati-Nya memulihkan kehidupan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*