Artikel Terbaru

Fatima dan Mukjizat Rosario

Suasana doa di depan patung Bunda Maria Fatima di Susteran Gembala Baik Jatinegara, Jakarta Timur.
[NN/Dok.Pribadi]
Fatima dan Mukjizat Rosario
2 (40%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comPesan Bunda Maria dan kekuatan doa Rosario menjadi mukjizat bagi orang Katolik menyonsong seabad penampakan Bunda Maria Fatima.

Theresia Endang, tertunduk lesu. Ia tak bisa menahan kesedihan melihat buah hatinya Antonius Didit Soepartono hanya terbaring lemah di tempat tidur. Segala usaha telah ditempuh demi kesembuhan sang buah hati. Sayang, Didit tak lekas sembuh. Meski sembuh, kesehatan Didit tak bertahan lama.

Suatu hari, kenang Theresia, Didit mengalami sakit. Ia dan suami, Ignatius Soepartono sudah putus asa. Dokter pun sudah angkat tangan dengan penyakit Didit. Mereka tak bisa berbuat banyak selain berdoa. Saat itu, yang dipikirkan Theresia adalah berdoa Rosario.

Apa yang terjadi? Tak lama setelah itu, Didit disembuhkan oleh Sang Bunda Rosario. “Mukjizat terjadi! Didit sembuh dan bangun dari tempat tidurnya,” kisah ibu kelahiran 30 Agustus 1948 ini.

Ziarah Maria
Mukjizat Rosario yang dialami Didit mempertebal iman keluarga Soepartono. Jauh sebelum Didit lahir, Theresia dan Ignatius belum menjadi Katolik. Keduanya dibaptis setahun setelah Didit lahir. Maka sejak menjadi Katolik, pasutri ini dijauhi keluarga besar mereka, yang notabene non Katolik. Kata Didit, “Dulu orangtua menjalani kehidupan menjadi keluarga Katolik, masih hanya sebatas status di KTP. Masih jarang berdoa atau pergi ke gereja.”

Mereka mencoba menjalani hidup dengan wajar meski dijauhi keluarga. Tapi ada saja cobaan. Dua anak mereka meninggal secara berturut-turut. Kendati begitu, mereka tetap setia berdoa Rosario. Tuhan pun mengindahkan doa mereka. Theresia dikaruniai kehamilan lagi. Suatu kesempatan, Theresia bertemu seorang nenek dan keduanya pun saling bertegur sapa. “Ibu lagi hamil?” tanya nenek itu.

Saat ditanya demikian, Theresia spontan menjawab, “Ya.” Perjumpaan itu lalu berlanjut pada sebuah obrolan yang akrab antara keduanya. Nenek itu kemudian mengajak Theresia ke Gereja Gembala Baik di Jatinegara, Jakarta Timur.

Tanpa banyak kata, mereka lalu berjalan kaki ke kapel itu. Theresia menuturkan, waktu itu tepat tanggal 13 Mei. Pertemuan dengan nenek tersebut membuat pasutri ini rajin mengikuti Misa. “Dan betul saja, anak saya lahir dengan selamat. Dari situ, kami mulai setia berziarah dengan berjalan kaki setiap tanggal 13 dimulai pada 13 Mei hingga 13 Oktober.”

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*