Artikel Terbaru

Seperti Apakah Pesan Rahasia Bunda Maria?

Romo Matheus Purwatma
[N [NN/Dok.Pribadi]
Seperti Apakah Pesan Rahasia Bunda Maria?
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Pesan pertobatan dan perdamaian bagi dunia menjadi inti pesan Maria kepada tiga anak. Merayakan seabad berarti percaya akan kehadiran Kristus di dunia.

Seratus tahun yang lalu, 13 Mei 1917, saat siang hari, di Cova da Iria, tiga anak gembala sederhana, Jacinta Marto, dan adiknya Francisco Marto, serta sepupunya Lucia dos Santos melihat seorang “Wanita yang amat cantik, pakaiannya putih berkilaun laksana matahari”, berdiri di atas pohon oak di padang itu. Wanita itu meminta anak-anak untuk menanggung derita sebagai silih atas banyak dosa yang dilakukan manusia terhadap Allah. Berdoa Rosario untuk pertobatan orang-orang berdosa dan berakhirnya perang. Wanita itu juga meminta mereka datang ke tempat itu setiap tanggal 13 pada waktu yang sama selama enam bulan berturut-turut.

Mulai tanggal 13 bulan Juni dan Juli, mereka kembali ke tempat itu. Sementara bulan Agustus mereka tak datang karena dilarang penguasa setempat. Meski begitu, mereka mendapatkan penampakan pada 19 Agustus ketika menggembalakan ternak di tempat lain. Pada 13 September, wanita itu meminta mereka berdoa Rosario setiap hari, demi pertobatan orang berdosa. Penampakan terakhir terjadi 13 Oktober 1917, disertai tanda-tanda istimewa, cuaca yang tadinya hujan lebat berubah menjadi terang benderang, dan matahari menari-nari di atas awan. Sementara itu, ketiga anak itu melihat keluarga kudus hadir bersama wanita itu. Saat itu, wanita ini memperkenalkan diri sebagai “Bunda Rosario”, dan meminta agar didirikan kapel di tempat itu, serta meminta berdoa Rosario setiap hari.

Dalam penampakan kedua, 13 Juni, wanita itu mengatakan bahwa Jacinta dan Fransisco akan lebih dulu ke surga, sementara Lucia masih tetap tinggal di dunia. Selama itu, terjadi penampakan-penampakan privat pada Sr Lucia. Ia menuliskan pesan-pesan itu dan menyampaikan kepada Bapa Suci di Roma, untuk pada saatnya dibuka kepada publik. Inilah rahasia-rahasia Fatima.

Pesan Pertobatan
Penampakan di Fatima resmi diakui pada 13 Oktober 1930, ketika Uskup Leiria mengijinkan devosi pada Maria Ratu Rosario di tempat itu. Selanjutnya, penampakan ini mendapatkan perhatian istimewa dari banyak Paus. Pada 31 Oktober 1942, melalui radio telegram kepada para peziarah yang berkumpul di Fatima, Paus Pius XII setelah mengundang para peziarah untuk bersyukur dan berdoa, menyerahkan seluruh dunia pada Hati Maria yang tak Bernoda. Pada 13 Mei 1967, peringatan 50 tahun penampakan Maria di Fatima, Paus Paulus VI mengunjungi Fatima dalam suatu peziarahan perdamaian. Dalam kesempatan itu, Paus Paulus VI mengeluarkan Anjuran Apostolik Signum Magnum (Tanda Agung), yang menegaskan kembali penyerahan Gereja dan seluruh dunia pada Hati Maria yang tak Bernoda. Paus juga mengundang seluruh umat untuk menyerahan diri pada perlindungan Hati Maria yang tak Bernoda.

Pada 12 Mei 1982, Paus Yohanes Paulus II berziarah ke Fatima. Sekali lagi, Paus menyerahkan seluruh dunia pada perlindungan Hati Maria yang tak Bernoda. Paus Yohanes Paulus II memohon pertolongan Bunda Maria agar dunia dibebaskan dari kelaparan, dosa terhadap kehidupan, ketidakadilan, serta perang. Paus Yohanes Paulus II sangat mencintai Hati Maria yang tak Bernoda, dan merasakan perlindungannya.

Pesan yang disampaikan di Fatima kurang lebih menggemakan kembali pesan Maria di Lourdes, yaitu mengundang umat beriman bertobat, berdoa Rosario, serta agar di tempat itu didirikan Kapel. Namun demikian, ada pesan khusus Bunda Maria yang disampaikan pada ketiga anak itu pada 13 Oktober 1917, yang tidak langsung disampaikan kepada publik. Inilah yang kemudian disebut sebagai rahasia Fatima.

Bagian pertama dan kedua dari rahasia ini dipublikasikan pada 1940 bersama publikasi Memoir Suster Lucia. Bagian ini menerangkan penampakan mengenai neraka serta permohonan menguduskan Rusia pada Hati Maria yang tak Bernoda. Bagian ketiga baru dibuka 26 Juni 2000, dengan disertai Komentar Teologis dari Kongregasi Iman, yang ditulis Kardinal Josef Ratzinger. Dalam komentar teologis ini disampaikan frase kunci dari bagian pertama dan kedua adalah “usaha menyelamatkan jiwa-jiwa”. Sementara bagian ketiga, disampaikan tiga kali seruan “Bertobat, Bertobat, dan Bertobat”, yang tidak lain menggemakan lagi yang dikatakan Yesus, “Bertobatlah dan Percayalah pada Injil” (Mrk 1:15).

Ini merupakan ajakan untuk selalu membarui diri menghadapi dunia yang penuh kekacauan. Maka arahnya adalah menolong orang tumbuh dalam iman dan harapan, menghadapi situasi dunia yang kacau. Gambaran-gambaran yang disampaikan haruslah dipandang sebagai gambaran simbolik mengenai kuasa jahat yang mengancam dunia. Kardinal Ratzinger memberikan makna pada ungkapan, “Hatiku yang tak bernoda akan menang”, yang juga menjadi ungkapan terkenal dari Fatima. Ungkapan ini harus dihubungkan dengan yang dikatakan Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:35). Karena Tuhan menjadi manusia, maka setan kehilangan kuasa, setan dikalahkan.

Percaya Penuh
Harus dikatakan, pesan-pesan dalam penampakan itu termasuk wahyu pribadi yang bobotnya tidak sama dengan wahyu yang definitif berpuncak pada Yesus Kristus. Wahyu pribadi tidak menambah atau melengkapi pewahyuan yang sudah ada, tetapi berperan membantu penghayatan iman akan Kristus menjadi lebih terang dalam masa tertentu. Gereja menerima pesan-pesan penampakan ini, karena menggemakan pesan Injil, yaitu untuk bertobat dan terus menyesuaikan hidup dengan Kristus.

Maka, pesan-pesan penampakan Maria di Fatima pun harus diletakkan dalam kerangka mengikuti Yesus di dunia ini. Tekanannya janganlah pada ketakutan akan macam-macam gambaran akan kekacauan yang diramalkan akan terjadi, meski apa yang dikatakan itu dapat saja sudah terlaksana sekarang ini. Yang harus ditekankan adalah keberanian manusia kembali mengikuti Yesus, bertobat, dan menyerahkan seluruh hidup pada Allah. Keberanian manusia menyerahkan dan menguduskan seluruh hidup, seluruh pekerjaan pada Tuhan.

Yang dimohon bukan hanya pembebasan dari api neraka, tapi jangan terjadi neraka di dunia ini, agar orang dapat menghadirkan damai sejahtera di dunia. Dalam hal ini, bersama Hati Maria yang tak Bernoda, semua umat beriman diundang mendengarkan Sabda Allah dan menghadirkan dalam hidup sehari-hari. Hati Maria yang tak Bernoda akan selalu menang.

Romo Matheus Purwatma
Dosen Teologi Fakultas Teologi Wedabhakti Kentungan, Yogyakarta

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*