Artikel Terbaru

Tuhan Mengajari Saya Menulis

Theresia Emir.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Tuhan Mengajari Saya Menulis
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ia terus berkarya, meski usia telah senja. Lebih dari lima puluh judul buku telah ia hasilkan. Ia merasa, Tuhan memakai dirinya.

Theresia Emir baru saja menelurkan buku teranyar berjudul Penampakan Maria di Fatima (di Mata dan Hati Saya). Buku itu menambah satu lagi karyanya yang telah lebih dari lima puluh judul buku. “Buku itu sebagai peringatan 100 tahun penampakan di Fatima tahun ini,” ungkapnya, di kantor Marian Centre Indonesia (MCI), Tomang, Jakarta Barat, Jumat, 21/4.

Sebelumnya, Threes juga pernah menulis buku tentang Maria. Judul karya perdananya Mengapa Maria Ada di Hati Saya?. Ia pun berencana menulis lagi
tentang Maria. Rencana nenek dengan empat cucu ini menulis gelar-gelar Maria.

Threes begitu mencintai dan mengagumi Maria. Praktik devosi kepada Maria tertanam sejak ia belia. Orangtua, terutama sang ibu, Antoanete Sunarti, yang
pertama mengajarinya. Ia mengenang, ketika berusia delapan tahun, ia diberi
lembaran doa novena Maria oleh ibunya. Tradisi itu terus ia hidupi. Threes sadar, andil Maria amat besar dalam hidup dan keluarganya.

Berkat Bunda
Banyak perusahaan gulung tikar saat krisis ekonomi 1998, termasuk perusahaan Threes bekerja, yakni sebuah majalah fesyen anak muda. Posisi terakhirnya di sana sebagai salah satu wakil pemimpin umum. Sesaat sebelum berhenti terbit, para petinggi perusahaan pusing memikirkan bagaimana nasib karyawan.

Mati-matian, Threes menginginkan agar perusahaan bertanggung jawab terhadap nasib karyawan dan keluarganya. Sementara salah satu rekannya berseberangan dengan prinsipnya. “Ya udah, good bye begitu saja,” kata Threes meniru pendapat konconya. “Nggak bisa, itu kewajiban kita mencari pesangon,” desak Threes ketika itu.

Keputusan pimpinan yang masih menggantung, membuat Threes kepikiran. Beban nalar ia bawa hingga kediamannya. Ia pun sulit tidur karena itu. Tiap hari, ia memohon kepada Tuhan melalui perantaraan Maria agar ada solusi untuk masalah di perusahaannya. Sampai suatu hari ia terkejut, karena perusahaan sanggup memberi pesangon bagi karyawannya. “Yang pasti, itu di luar kemampuan manusia. Kami bisa memberikan pesangon untuk karyawan, dan mereka bisa melanjutkan pekerjaan di media lain,” kenangnya.

Bantuan lain yang Threes rasakan lewat Bunda Maria ketika anak-anaknya kuliah. Ibu dengan tiga anak itu mengaku khawatir dengan anak pertama dan keduanya saat berada di bangku kuliah. Ia berharap, jangan sampai putra dan putrinya mendapat pasangan yang beda keyakinan dengan mereka. Doa Threes pun terkabul.

Pengalaman lain ia alami bersama orangtuanya. Pertama tentang bapaknya. Salah satu permohonan yang ia sampaikan kepada Bunda Maria adalah jika hari-hari hidupnya akan segera berakhir, ia bisa mempersiapkan dirinya dengan baik.

Menjelang bapaknya meninggal, Threes melihat bapak memanggil ibu dan kakak pertamanya. Bapak menyampaikan pesan kepada mereka, setelah itu tutup usia. “Karena tahu kapan meninggal, bapak menyampaikan pesan dengan rinci,” ujar anak ketiga dari enam bersaudara ini.

Mengenai ibunya, Threes tahu ia meminta lewat Maria, jika meninggal ia tak ingin di rumah sakit, tapi di rumah. Permohonan ibunya pun terkabul. Usai operasi di rumah sakit, baru beberapa hari di rumah, ibunya meninggal dunia. “Saya ingat, menjelang ibu meninggal, jari-jarinya seperti memilin bulir-bulir Rosario. Ia meninggal di kamar saya,” paparnya.

Dari seluruh pengalaman yang dialami, Threes kian percaya, seluruh permohonan yang disampaikan dengan sungguh-sungguh dan tekun kepada Tuhan, melalui Bunda Maria bakal terkabul. “Saya banyak mengalaminya langsung,” tandas mantan Ketua Pelaksana Harian MCI 1999-2015 ini.

Dipakai Tuhan
Dari sang ibu, Threes mengenal doa kepada Maria, sementara dari bapaknya F.X. Suharto, perempuan kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 3 Agustus 1948 ini, mewarisi bakat menulis. Bapaknya, menurut pengakuan Threes, pandai menulis puisi. “Itu yang tak saya miliki,” kata istri R. Emirina Ilham ini.

Bakat menulisnya kian terasah ketika terjun ke dunia jurnalistik. Sekitar 21
tahun masa hidupnya, ia bergulat di ranah media, baik sebagai wartawan maupun duduk di bagian manajerial perusahaan. Bahkan, di MCI, ia mengurus buletin Ave Maria. Ia menjadi pemimpin redaksi buletin. Peran itu ia sandang sejak 1993 hingga Desember tahun lalu.

Threes meyakini, pengalaman yang ia rasakan merupakan berkat Tuhan, sebab bisa bekerja di dunia tulis-menulis, yang adalah hobinya. Begitu perusahaan medianya bubar, ia mendapat pinangan sejumlah pekerjaan dari para koleganya. Namun, ia justru memilih jalan hidup dan panggilan sebagai penulis buku.

Belum sampai setahun berhenti kerja, Threes bersama dua rekannya meluncurkan buku perdana. Karya perdana mereka tentang tanaman pun laris manis di pasaran. “Kami tahu, karena di Pasar Senen buku itu dibajak. Jika tak laris, tak mungkin mereka membajak buku itu,” ujarnya seraya tertawa.

Seiring usia bertambah, Threes semakin banyak menulis buku. Topik dan genre karyanya pun beragam, mulai dari tanaman, masakan, novel, busana, memoir, dan tentu rohani. Karya-karyanya dilirik penerbit besar dan nangkring di toko buku raksasa.

Dalam setahun, Threes bisa menghasilkan tiga sampai enam judul buku. “Semua harus ada kemauan, memaksakan diri, mulai menulis, dan jangan pernah takut,” pesan penyuka buku karya Marga T, Leila S. Chudori, dan Raditya Dika.

Menulis tak lepas dari membaca. Maka toko buku menjadi salah satu tempat
favoritnya untuk melihat buku-buku terbaru atau membaca. Tiap berkunjung
ke toko buku, Threes tak menampik, buku-buku Katolik kalah dari segi kualitas maupun kuantitas dari agama lain.

Di toko buku besar, kata Threes, buku-buku Katolik biasanya berada di rak
paling belakang. Sementara berada di rak terdepan dan lebih banyak jumlahnya adalah buku-buku agama Islam. Ia juga mendapat informasi dari rekannya di penerbit, buku-buku agama Islam lebih laris dibanding Katolik.

Mutu buku-buku Katolik, lanjut Threes, sebenarnya baik, hanya saja bahasanya terkadang “berat” bagi pembaca. Terutama buku yang ditulis kaum berjubah. Ia menyarankan, mutu buku Katolik yang sudah baik perlu diimbangi dengan penggunaan bahasa yang populer, agar para ibu rumah tangga dan anak-anak muda juga tertarik membaca. Situasi itu menggerakkan Threes untuk menulis buku-buku Katolik. Bukunya yang berjudul Mengapa Saya Tetap Katolik? terbit dari pergulatan ini.

Secangkir Cinta
Dari sekian banyak karya, Threes paling tersentuh dengan bukunya berjudul Secangkir Cinta dan Air mata. Buku yang terbit dua tahun lalu itu, mengangkat kisah seorang ibu penderita kanker, yang begitu gigih “berkawan” dengan penyakit mematikan. Bahkan, ibu itu menyemangati para pasien lain, membesarkan keempat anaknya, dan semua itu dilakukan tanpa suami. “Kisahnya sedih, tapi dia menghadapi dengan luar biasa,” ujar Threes.

Threes belajar banyak dari narasumbernya itu. Dari tokoh utama bernama Lisa, ia bercermin terhadap diri dan profesinya. Menurut Threes, Tuhan punya rencana dalam hidup setiap orang. “Mungkin saya dipakai Tuhan untuk memberitakan kisah lewat buku,” pungkasnya.

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*