Artikel Terbaru

Sastra Jawa Tidak Membuat Dapur Ngebul

Josep Fransiscus Xaverius Hoery.
[Sutriyono]
Sastra Jawa Tidak Membuat Dapur Ngebul
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Menulis sastra Jawa tidak menjanjikan asap dapur mengepul. Hoery memilih itu untuk menjaga bahasa Jawa yang mulai dilupakan generasi muda.

Karya sastra Josep Fransiscus Xaverius Hoery terdokumentasi dengan baik. Daftar judul-judul karya Hoery, tercetak menyatu dengan riwayat hidupnya. Tercatat ada 117 judul cerita yang semuanya berbahasa Jawa. Judul pertama “Anak Lanang Mbarep” dimuat di Majalah Mekar Sari Yogyakarta No. 22, 15 Januari 1977. Sementara judul terakhir “Ontran-ontran Lanjar Maibit” dimuat di Majalah Jaya Baya Surabaya No. 39, Minggu V, Mei 2016.

Selain itu, ada 400 lebih judul geguritan atau puisi berbahasa Jawa karyanya. Sebanyak 13 buku juga telah diterbitkan. Belum lagi buku karya bersama yang tercatat ada 18 judul. Hoery juga andil menjadi editor di beberapa buku lain. “Bukan hanya judul, tetapi fisiknya juga masih tersimpan dengan baik,” kata Hoery saat dijumpai di rumahnya, di kawasan Padangan, Bojonegoro, Jawa Timur.

Sanggar Sastra
Hoery mendapatkan penghargaan Rancage 2013. Rancage, sebuah yayasan yang dirintis Ajip Rosidi untuk memberikan penghargaan kepada insan penulis yang menggunakan bahasa ibu atau bahasa daerah. “Bahasa Jawa itu bahasa yang sangat indah. Dalam bahasa Jawa itu tertanam nilai-nilai luhur. Ada unggah-ungguh atau tata sopan santun,” ujarnya.

Penggunaan bahasa Jawa, jelas Hoery, masih relevan hingga saat ini. Ia menilai semakin rendahnya tata-krama dan sopan-santun di kalangan anak-anak muda terkait dengan semakin berkurangnya penggunaan bahasa Jawa di sekolah. Penghormatan anak-anak kepada mereka yang lebih tua semakin rendah. Bahasa Indonesia, lanjut Hoery, tidak mengenal tingkatan. Kalau anak menyapa atau bicara dengan orangtua itu juga sama dengan orangtua bicara dengan anak. “Bahasa Jawa itu bahasa ‘rasa’. Nilai bahasanya bisa kita rasakan,” kata ayah tiga anak ini.

Pada 6 Juli 1982, bersama dengan sejumlah penulis di Bojonengoro, Hoery mendirikan Sanggar Sastra; Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro. Hoery menjadi ketua hingga sekarang. Lewat sanggar ini, bersama teman-teman sastrawan Bojonegoro, Hoery mengembangkan bahasa Jawa melalui berbagai kursus dan pelatihan menulis. “Kami pernah mengadakan kursus bagi 14 mahasiswa asal Bojonegoro yang kuliah keguruan di Universitas Negeri Surabaya. Ketika mereka menjadi guru, mereka mendorong para siswa menulis buku dan diterbitkan.”

Sanggar ini juga memberikan kursus bagi guru dari kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Jawa. Para guru ini praktis tersebut menjadi salah satu kelompok yang selalu membeli buku-buku yang diterbitkan sanggar. “Benteng terakhir kita adalah dunia pendidikan. Kalau dunia pendidikan tidak lagi ada mata pelajaran bahasa Jawa, ya sudah. Sementara orangtua sekarang kurang memperhatikan pentingnya penggunaan bahasa Jawa ini,” tandas Hoery.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Balai Bahasa ikut mendukung upaya Hoery dan kawan-kawan dalam menjaga bahasa Jawa. Balai Bahasa mendorong para guru agar menerapkan ketentuan 15 menit sebelum pelajaran, para siswa diminta membaca karya sastra Jawa. “Waktu pelajaran yang dua jam itu sangat terbatas,” ujar Hoery.

Anak Desa
Putra Wiryorejo dan Sutinah ini melewatkan masa kecil di desa. Ia menyelesaikan pendidikan SD dan SMP di Pacitan dan STM di Cepu. Ketika SMP, Hoery rajin berkunjung ke kantor lembaga Pendidikan Masyarakat. Di kantor tersebut terdapat aneka buku yang bisa dipinjam. “Saya meminjam buku di situ. Dari situ muncul dorongan menulis,” kisah Hoery mengenang masa remajanya.

Melihat ketekunan Hoery, salah seorang karyawan lembaga Pendidikan Masyarakat mendorongnya untuk menulis di Teruna, majalah terbitan Balai Pustaka. Hoery mulai menulis pada 1962, ketika ia berusia 17 tahun. Lantas, tulisan Hoery tersebar di berbagai majalah dan surat kabar. Tulisannya dimuat di Majalah Taman Poetra, Panjebar Semangat, Arena Pelajar Jakarta, Kuncup Surabaya, hingga Buana Minggu Jakarta. Begitu juga tulisan dalam bahasa Jawa dimuat di pelbagai media, seperti Mekar Sari, Praba, dan Djaka Lodang di Yogyakarta, Panjebar Semangat Surabaya, hingga Parikesit dan Damarjati di Jakarta.

Di desa, Hoery menonton pergelaran wayang atau mendengarkan orang membaca tembang macapat pada saat kelahiran bayi. Pamannya adalah pemain wayang orang. Hoery sangat suka dengan wayang orang. Bahkan, ia bisa mengarang tembang, walaupun tak bisa nembang. “Tampaknya itulah yang membentuk saya sehingga memilih menulis dalam bahasa Jawa,” katanya.

Meskipun demikian, penerima penghargaan Sastrawan Berdedikasi dari Balai Bahasa Jawa Timur 2016 ini mengakui bahwa penulis tidak bisa mengharapkan “dompet tebal” dari karya sastra bahasa Jawa. Untuk asap dapur, Hoery menulis dalam bahasa Indonesia dengan menjadi wartawan. Ia tercatat pernah menjadi wartawan Kedaulatan Rakyat dan Bernas. Selain itu, Hoery juga pernah menjadi anggota DPRD II Bojonegoro periode 1999-2004. “Pedoman saya, seperti halnya yang saya katakan pada teman-teman, jangan mencari kehidupan dari menulis bahasa Jawa, tapi mari menghidupkan bahasa Jawa,” katanya.

Menggelar Panggung
Pada akhirnya Hoery merasakan bahwa menulis saja tidak cukup. Sejak 2009, Hoery menjadi pengisi siaran Radio Istana FM Bojonegoro. Acara yang ia asuh bersama dua teman lainnya adalah Istana Ngudi Kaweruh. Pada awal ia ditawari mengisi program radio tersebut, Hoery mengajukan syarat, “Saya mau, tapi harus dalam bahasa Jawa!”

Awalnya program tersebut berkisar pada sejarah lokal Bojonegoro, mitos dan
cerita rakyat. Seiring waktu, program ini menyasar ke berbagai permasalahan
sosial budaya. Siaran berlangsung setiap Senin malam. “Pendengarnya ribuan. TKI (Tenaga Kerja Indonesia-Red) yang bekerja di Malaysia dan Thailand juga ikut bertanya. Program siaran bisa diakses melalui radio streaming,” ungkapnya.

Pada Oktober 2014, Hoery bersama teman-teman sastrawan Bojonegoro merintis Purnama Sastra Bojonegoro (PSB). Kegiatan ini berupa pementasan karya seni budaya, seperti pembacaan puisi, geguritan, cerita, hingga pementasan teater. Pergelaran berlangsung setiap malam bulan purnama atau malam tanggal 15 pada kalender Jawa. “Pementasan bisa di mana saja. Bisa di bawah tiang listrik atau gardu pos ronda,” ujarnya.

Hoery menilai, keinginan dan kebutuhan berolah sastra di tengah masyarakat
Bojonegoro cukup tinggi. “Ternyata, banyak warga haus kesenian,” pungkasnya.

Josep Fransiscus Xaverius Hoery
TTL :
Pacitan, 7 Agustus 1945
Istri : Maria Theresia Sri Narjati
Anak : Hastuti Ari Setiyani, Fajar Ari Setiawan, Agustina Ari Setiyani.

Pendidikan:
• SD, SMP di Pacitan
• STM di Cepu

Kursus:
• Kursus Wartawan Anton Press Yogyakarta (1964)
• Kursus Mengetik dan Steno Mulia (1965)
• Kursus Administrasi Pancaran Cepu (1965)

Pekerjaan:
• Wartawan Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1980-1989)
• Wartawan Harian Bernas Yogyakarta (1990-2001)
• Anggota DPRD II Bojonegoro (1999-2004)
• Penulis lepas (2001-sekarang)
• Redaktur khusus Koran Prakarsa Cepu (2014-sekarang)
• Narasumber siaran radio Istana Ngudi Kaweruh (2009-sekarang)

Penghargaan Sastra Budaya:
• Penghargaan Rancage dari Yayasan Rancage (2013)
• Penghargaan sebagai penulis dan penggerak literasi dari Kadisdiknas Bojonegoro (2014)
• Penghargaan sebagai pemerhati sejarah dan sastra dari Bupati Bojonegoro (2014)
• Penghargaan sebagai penulis dan penggerak sastra Jawa dari Bupati Bojonegoro (2015)
• Penghargaan sebagai pelestari budaya dari Gubernur Jawa Timur (2015)
• Penghargaan sebagai sastrawan berdedikasi dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (2016)

Sutriyono

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*