Artikel Terbaru

Bocah Pengkhotbah yang Dianggap Murtad

St Laurentius dari Brindisi bersama pasukan Kristen dalam peperang melawan tentara Turki Ottoman.
[catholicireland.com]
Bocah Pengkhotbah yang Dianggap Murtad
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Talentanya menguasai banyak bahasa membuat dia bermisi di tengah orang Yahudi. Ia menghabiskan hidup dalam kekaguman akan Sabda Allah.

Konon, ada kebiasaan pada masa lalu. Seorang anak bisa berkhotbah dalam suatu Misa. Tradisi ini hidup di Gereja-gereja di Italia pada perayaan Natal. Dasar refleksinya dari tradisi ini, sebab anak-anak menjadi perpanjangan tangan pesan dari bayi Yesus di palungan. Saat mereka berkhotbah, diharapkan bisa memberi inspirasi kepada para orangtua dalam mendidik dan membesarkan anak-anak.

Tradisi ini juga berkembang di Keuskupan Agung Metropolit Brindisi (kini Keuskupan Agung Brindisi-Ostuni, sufragan Keuskupan Agung Metropolitan Lecce) di bagian tenggara Italia. Di Gereja Katedral St Giovanni Battista, kesempatan berkhotbah menjadi momen penting bagi anak-anak. Mereka ingin menunjukkan diri sebagai anak saleh yang mulai meniti awal kedewasaan. Menjelang Natal, anak-anak akan bersaing mendapat kepercayaan Pastor Paroki.

Pada 1565, kekaguman dialami seorang bocah enam tahun, Giulio Caesare Russo (Guglielmo de Rossi). Ia dipilih menjadi pengkhotbah karena kesalehan hidup dan kecintaannya pada Sabda Allah. Saat berkhotbah, banyak orang terkesan akan kecerdasannya. Cara dia menafsir Kitab Suci dan menelaah pesan Tuhan, seolah memberi spirit baru bagi umat yang hadir. Mereka percaya, Giulio akan menjadi imam yang taat pada Sabda Allah.

Kesempurnaan
Sejak kecil, Giulio dididik dalam lingkungan Katolik. Sejak umur 10 tahun, ia diasuh oleh Pastor Lorenzo, pamannya, di Kolose St Markus Venesia. Tak bisa dipungkiri, kehidupan asrama membentuk kesalehan dan disiplin hidup Giulio. Saban hari, ia menghabiskan waktu dengan membaca Kitab Suci. Scrittura passeggiata, ‘Kitab Suci Berjalan’ menjadi panggilan akrab dari kawan-kawannya.

Selain itu, Giulio dikenal sebagai anak yang berwawasan luas. Ia pandai dalam Bahasa Italia, Perancis, Latin, Yunani, bahkan bahasa-bahasa Semit. Kanon-kanon Kitab Suci berbahasa Aram menjadi bacaan wajibnya. Meski begitu, ia tidak sombong dan tidak pelit berbagi ilmu kepada teman-temannya. Kecerdasan dan kerendahan hati bocah kelahiran Brindisi, 22 Juli 1559 ini mendatangkan decak kagum para formator.

Pada usia 12 tahun, Giulio semakin menunjukkan bakat luar biasa. Cintanya kepada Sabda Tuhan kian tulus dan mendalam. Orangtuanya, William Russo dan Elisabetta Masella hanyut dalam kekaguman akan kharisma si buah hati. Mereka berharap, Giulio kelak menjadi imam dan melayani Tuhan.

Harapan William dan Elisabetta akhirnya menjadi nyata. Kala genap berusia 16 tahun, Giulio tertarik dengan kehidupan para biarawan Fransiskan. Dalam pemahamannya, St Fransiskus Assisi adalah model kesempurnaan hidup. Kemurnian dan kesucian kosmik patron para Fransiskan ini menginspirasi Giulio.

Giulio yakin, St Fransiskus Assisi mencari Allah dalam kehidupan nyata di dunia dan di tengah alam ciptaan. Idolanya itu telah mengkontemplasikan kehadiran, keindahan, dan kebesaran Allah dalam alam ciptaan. Alam ciptaan menjadi Sakramen Allah dan Kristus. Ia membuat satu spiritualitas baru yang tidak lagi dicirikan oleh hidup menyendiri di padang gurun, melainkan suatu spiritualitas yang hidup, konkret, manusiawi, dan memiliki hati. “Spiritualitas ini yang terangkum dalam Kitab Suci,” tulis Giulio dalam buku refleksi hariannya.

Penafsir Kitab
Corak hidup “Santo Keindahan” ini membuat Giulio memutuskan bergabung dengan Ordo Fransiskan Kapusin (Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum/ OFMCap) di Biara Verona, Italia Utara. Cinta yang memberi diri, bebas dari egoisme dan nafsu untuk memiliki model St Fransiskus Assisi mematangkan niat Giulio menjadi imam Kapusin. Di Biara Kapusin Verona, dekat Sungai Adige, Giulio menjadi model kesalehan hidup bagi para koleganya. Ia selalu tepat waktu dalam menghadiri acara-acara komunitas, sempurna dalam tabiat, respek dan berbelas kasih terhadap para saudara Kapusin.

Frater Giulio menyelesaikan studi filsafat dan teologi di Universitas Padua (Università degli Studi di Padova/UNIPD) dan ditahbiskan imam pada usia 23 tahun. Sejak saat itu, ia memakai nama Laurentius sebagai nama biaranya. Dengan bekal yang ia miliki, Pastor Laurentius memulai kehidupan misionernya. Ia mulai melayani sebagai pastor di beberapa paroki sekitar Italia, seperti Venisia, Pavia, Verona, Padua, dan Napoli. Karya-karyanya sukses dan dicintai banyak umat.

Lambat laun, karya-karyanya mulai tercium Takhta Suci. Paus Klemens VIII
(1536-1605) kemudian mengutusnya secara khusus untuk mempertobatkan orang-orang Yahudi. Dengan kemampuannya berbahasa Ibrani, Pastor Laurentius menerima tugas berat itu. Ketika berhadapan dengan para Rabi Yahudi, ia bertindak layaknya orang Yahudi. Banyak Rabi percaya, Laurentius adalah imam Katolik yang menjadi murtad. Kelemahlembutannya membuat banyak orang Yahudi memutuskan menjadi Kristen.

Misinya sukses karena Pastor Laurentius memiliki sensitivitas terhadap kebutuhan umat Yahudi. Sewaktu-waktu ia bisa duduk makan bersama mereka, sambil tetap mengajarkan Kitab Suci kepada mereka. Konsep persaudaraan agama-agama Abrahamistik yang ia usung membuatnya terpilih sebagai pimpinan Ordo Fransiskan Kapusin Provinsi Tuscany saat berusia 31 tahun. Ia mampu memadukan belarasa manusiawi dan keterampilan administratif dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.

Membawa Damai
Tahun 1598, Pastor Laurentius diutus ke Jerman bersama enam saudara Kapusin. Saat itu, ia menghadapi arus reformasi Martin Luther yang mulai menancapkan kaki di Austria. Selain itu, Kaisar Rudolf II mempercayakan kepadanya tugas untuk mengorganisasikan gerakan perlawanan terhadap tentara Turki Ottoman. Untuk tugas ini, Pastor Laurentius berfungsi sebagai diplomat, mengunjungi kota-kota utama di Jerman. Ia mahir bernegosiasi dan berhasil menggalang persatuan untuk melawan kekuatan Turki Ottoman.

Selain itu, ia menjadi bapa rohani bagi Jenderal Mathias yang tahun 1601 bertempur di Hungaria untuk melawan Ottoman. Meski sakit rematiknya cukup serius, Pastor Laurentius tetap berkuda dengan salib Kristus selalu di tangan dan menyemangati para prajurit menuju medan laga. Ia menjanjikan kemenangan dalam nama Tuhan. Dalam pertempuran itu, pihak Turki Ottoman hancur berantakan.

Usai perang tahun 1602, Pastor Laurentius kembali ke Italia. Ia terpilih menjadi Minister Jenderal Ordo Fransiskan Kapusin. Ia bertanggungjawab terhadap karya misi para Kapusin di seluruh dunia. Atas jasa ini, ia diangkat
menjadi delegatus dan duta damai dari Takhta Suci ke sejumlah negara. Kabarnya, ia pergi ke Spanyol untuk bertemu Raja Philip III (1578-1671). Tapi karena saat itu raja sedang di Portugal, Pastor Laurentius hanya bertemu para pejabat Spanyol. Meski demikian, hasilnya mengagumkan. Misinya di daratan Spanyol menuai sukses.

Sayang, karya diplomatiknya harus berhenti. Maut menjemputnya di Lisabon, Portugal, tahun 1619. Kesucian hidup dan kecintaan Pastor Laurentius pada Sabda Allah serta kepekaannya terhadap kebutuhan sesama menjadi pintu masuk proses penggelaran kudus baginya. Tahun 1956, Ordo Kapusin berhasil menyelesaikan penyusunan warisan tulisan-tulisannya yang dimuat dalam 15 volume. Salah satu tulisannya berisi doktrin dan devosi kepada Bunda Maria. Pastor Laurentius dibeatifikasi pada 1 Juni 1783 oleh Paus Pius VI (1717-1799) dan dikanonisasi oleh Paus Leo XIII (1810-1903) pada 8 Desember 1881. Tahun 1959, Paus Yohanes XXIII (1881-1963) mengangkatnya menjadi Pujangga Gereja. St Laurentius dari Brindisi dikenang Gereja tiap 21 Juli.

Yusti H. Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*