Artikel Terbaru

Ke Bali jangan hanya Berlibur ke Tempat Wisata, tapi Kunjungi juga Tempat ini ya..

Anak-anak PA Sidhi Astu sedang bermain bersama di sore hari yang indah.
[HIDUP/Antonius E. Sugiyanto]
Ke Bali jangan hanya Berlibur ke Tempat Wisata, tapi Kunjungi juga Tempat ini ya..
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Meski tinggal di panti asuhan, anak-anak bisa saling berbagi kebahagiaan. Melalui panti asuhan ini, para Suster OSF menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak.

Matahari masih belum menampakkan batang hidungnya. Udara di wilayah Tuka, Bali pun masih terasa dingin. Namun, kesibukan sudah mulai terlihat di dapur Panti Asuhan (PA) Sidhi Astu. Seorang gadis remaja terlihat sibuk menyiangi aneka sayur-mayur. Tak berselang lama, aroma sedap masakan tercium di setiap sudut panti, membangunkan beberapa anak yang belum terjaga.

Minggu itu, Novita beserta beberapa temannya mendapat tugas menyiapkan sarapan. Mereka menyiapkan makanan untuk anak-anak yang tinggal di panti. Namun, anak-anak yang tinggal di PA Sidhi Astu tampak telah terbiasa dengan rutinitas ini. Kehidupan panti mendidik mereka menjadi dewasa dan mandiri. “Hari Minggu, ibu yang bekerja di dapur libur, sehingga anak-anak yang bertugas menyiapkan makanan,” ungkap Kepala PA Sidhi Astu, Sr Maria Xaverine OSF.

Rumah Panti
Perjalanan PA Sidhi Astu dimulai tepat pada peringatan 100 tahun meninggalnya Magdaleda Daemen, pendiri Ordo Sancti Francisci (OSF). Ketika itu, 16 Juli 1958, para Suster OSF membuka biara kedua di Bali. Biara ini terletak di Tuka, Kabupaten Badung.

Pada masa awal ini, Sr Martini Greymans OSF, Sr Consolata Kalimah OSF, Sr Corona Murtati OSF, dan Sr Eveline Soekilah OSF bekerja membantu karya Perfektur Apostolik Denpasar dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Pada saat itu, ada 10 anak yang tinggal di susteran. Untuk biaya hidup dan pendidikan, anak-anak itu dibantu para Suster OSF.

Seiring waktu, jumlah anak-anak ini semakin bertambah. Pada 1970, sekitar 70 anak dibantu para suster. Saat itu, ada 30 anak yang tinggal di susteran, sedangkan yang lain tinggal bersama keluarga. Meski begitu, seluruh biaya
pendidikan ditanggung para Suster OSF.

Ketiadaan gedung khusus untuk menampung anak-anak ini menjadi tantangan tersendiri. Usaha untuk membangun sebuah rumah untuk menampung mereka pun dilakukan. Sampai akhirnya, pada 15 Maret 1988 diresmikan sebuah gedung untuk menampung anak-anak. Ini juga menjadi tonggak pendirian PA Sidhi Astu.

“Sidhi Astu” berarti ‘semoga bahagia’. Maka, setiap anak yang tinggal di PA Sidhi Astu diharapkan menjadi pribadi-pribadi yang kelak dapat meraih kebahagiaan. Sr Xaverine mengungkapkan, setiap program di PA Sidhi Astu bertujuan menyiapkan anak-anak menjadi manusia yang berhasil. “Saat mereka berhasil, itu tidak hanya membahagiakan diri mereka sendiri, namun juga keluarga mereka,” kata Sr Xaverine.

Saling Menghibur
Kini, puluhan anak putra dan putri usia TK sampai SMA tinggal di PA Sidhi Astu. Di tempat ini, mereka berbagi suka dan duka sebagai keluarga. Servian Titian misalnya. Ia merasakan suasana kekeluargaan justru saat bersama teman-temannya dimarahi suster karena melakukan suatu kesalahan. “Saat dimarahi bersama, saya malah merasakan suasana kekeluargaan,” kenang anak asal Bajawa, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.

Sebagai manusia yang sedang berkembang menuju kedewasaan, anak-anak di PA Sidhi Astu pun kadang merasa sedih atau kengen dengan keluarga yang ditinggalkan. Bagi Fransiska Irmawati, saat merasakan suasana semacam ini, ia tahu selalu ada teman-teman yang akan menghibur. “Kalau sedang bersedih, ada saja teman yang menghibur. Aku pun merasa tidak sendirian.”

Victoria Oshin merasakan, teman-teman dipanti adalah keluarganya saat ia tinggal jauh dari orangtua. Victoria menyadari, memang mereka bukanlah saudara kandung, namun kebersamaan yang telah terjalin lama, menjadikan mereka memiliki ikatan layaknya seorang saudara. Anak gadis asal Labuan Bajo, NTT ini mengakui, dalam kebersamaan inilah ia bersama temannya yang lain bisa saling menguatkan. “Meskipun jauh dari orangtua, namun banyak teman yang menghibur kalau saya sedih,” kata Victoria.

Demikian juga dengan Yosefa Sarna. Sejak tinggal di panti asuhan, siswi kelas sembilan ini merasa punya banyak keluarga. Keluarganya adalah semua penghuni PA Sidhi Astu. Hal senada dialami Maria Albrecia. “Di sini ramai. Beda kalau di rumah, sepi,” kata Maria.

Sebagian penghuni PA Sidhi Astu berasal dari Bali. I Putu Desta Arya Wiguna misalnya. Ia tinggal di panti karena kedua orangtuanya telah meninggal. Desta merasa senang tinggal di panti, karena semakin banyak mengenal orang dari beragam latar belakang. “Selama tinggal di panti, saya berkesempatan bertemu orang dari berbagai negara.”

Semoga Bahagia
Ada banyak kisah yang mengantar mereka ke tempat ini. Sr Xaverine mengungkapkan, kebanyakan anak-anak yang tinggal di panti ini berasal dari keluarga yang kurang mampu dan keluarga yang broken home. Kehadiran PA Sidhi Astu menjadi asa bagi anak-anak ini untuk meraih kehidupan yang lebih baik. “Mereka kami bantu, karena keluarga menginginkan pendidikan yang baik bagi anak-anak ini,” ujar Sr Xaverine. Sr Xaverine berkata, selama tinggal di panti, anak-anak disiapkan agar memiliki wawasan global dan keterampilan sebagai bekal kehidupan mereka kelak. Selain pendidikan formal, anak-anak panti yang tengah duduk di bangku sekolah menengah juga diikutkan beragam pelatihan, seperti bahasa Inggris dan keterampilan terkait dengan dunia pariwisata. Harapannya, setelah lulus, mereka bisa langsung bekerja di Bali. “Karena Bali daerah tujuan wisata, maka mereka diarahkan memiliki keterampilan di bidang pariwisata, sehingga saat lulus, mereka bisa memilih bekerja di bidang ini.”

Meskipun dikelola para Suster OSF, PA Sidhi Astu tidak hanya untuk kalangan Katolik saja. Sr Xaverine mengatakan, di panti ini anak-anak diajarkan agar saling menghormati meskipun berbeda keyakinan. “Kami ingin membentuk anak Indonesia yang berasal dari berbagai agama agar dapat hidup bersama dan saling menghormati.”

Sr Xaverine menyadari, sebagai anak-anak yang tinggal di panti, kadang mereka merasa kecil dan kurang percaya diri. Untuk itu, anak-anak diajarkan untuk memiliki rasa syukur dan menghargai segala pemberian.

“Di sini, mereka bukan dibuang. Namun, orangtua menginginkan anak-anak ini pintar,” katanya.

Sr Xaverine juga mengungkapkan bahwa keterlantaran tidak selalu karena seseorang dilupakan orangtua, keluarga, atau pemerintah. “Saat anak tidak mendapatkan akses pada ekonomi dan pendidikan yang baik, itu juga sebuah keterlantaran.”

Pulau Dewata memang selalu memberi kebahagiaan bagi setiap orang yang datang. Kebahagiaan itu juga nampak di setiap wajah anak penghuni PA Sidhi Astu. Senyum dan tawa mereka menjadi tanda kebahagiaan mulai mereka raih.

Antonius E. Sugiyanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*