Artikel Terbaru

Homili Bukan Pesan Moralitas yang Murahan

Homili Bukan Pesan Moralitas yang Murahan
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Homili berbeda dari khotbah. Homili merupakan “bagian dari kegiatan liturgis dan dimaksudkan memacu pemahaman yang lebih mendalam tentang Sabda Allah, sehingga dapat menghasilkan buah dalam kehidupan kaum beriman” (Sacramentum Caritatis, no. 46). Khotbah boleh disampaikan dalam ibadah rohani di luar perayaan liturgis. Homili adalah bagian integral dari perayaan liturgis, khususnya Ekaristi. Maka itu, relevansi sebuah homili ditentukan pada makna dan Ekaristi yang memperhitungkan keterpaduan perayaan liturgis itu sendiri dan pelaksanaan setiap bagiannya sesuai dengan ciri-ciri khasnya (Instruksi Musicam Sacram, No. 1).

Cara seorang lektor membaca dengan baik bacaan pertama dan kedua, bagaimana membawakan mazmur tanggapan dan aklamasi (alleluia) sebelum bacaan Injil, sangat mendukung pemaknaan sebuah homili. Demikian juga Doa Umat dapat lebih mempertegas makna homili. Pemilihan syair lagu-lagu ketika Misa pun turut memberi suasana batin untuk memaknai homili. Bahkan permainan instrumental dari seorang organis pun turut mempengaruhi suasana batin untuk memaknai homili. Jelaslah, keberhasilan homili bukan hanya ditentukan semata oleh imam, pemimpin perayaan Ekaristi. Yang utama tidak boleh dilupakan adalah ketika Firman-Nya dibacakan, Tuhan sendiri yang berbicara kepada umat-Nya, dan Dia hadir dalam dan di tengah-tengah umat-Nya ketika “dua tiga orang berkumpul atas nama-Nya” (Mat 18:20).

Homili merupakan penjelasan dari bacaan-bacaan Kitab Suci atau pun penjelasan teks lain yang diambil dari ordinarium atau proprium Misa hari itu, yang berkaitan dengan misteri yang dirayakan atau yang bersangkutan dengan keperluan khusus umat yang hadir (PUMR, no. 65). Tentu saja penafsiran Alkitab tidak menjauhkan Kitab Suci dari habitat aslinya dalam Gereja. Karena bagaimana pun juga, iman umat dan Gerejalah yang memberi relevansi makna Kitab Suci.

Moralitas tak dapat dipisahkan dari homili. Moralitas merupakan perwujudan iman dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja dalam homili tidak disampaikan nasihat-nasihat moralitas murahan. Namun homili tak boleh mengabaikan pesan moral. Tentu saja pesan moral disampaikan dengan bahasa yang tepat dan baik.

Dalam hal ini bentuk sastra boleh dipakai. Terdapat banyak jenis sastra yang lahir dari kearifan lokal: perumpamaan, peribahasa, humor, puisi, cerita rakyat, bahkan cerita dongeng untuk anak-anak. Pesan Alkitab diramu dalam bentuk sastra yang lahir dari kearifan lokal. Dengan demikian homili tidak hanya intersan tapi menjadi inkulturatif dan relevan.

Sayangnya, banyak tulisan tentang homiletika kurang membahas peranan sastra dalam homili. Padahal, Kitab Suci sendiri ditulis dalam bentuk sastra. Penjelasan tentang homili lebih menekankan intelektualrasional dan kurang memperhatikan unsur rasa-batiniah. Jangan meremehkan sebuah humor dalam homili, asal saja disampaikan secara tepat dan baik.

Nah, akhirnya homili harus disiapkan dalam suasana doa. Tanpa pengalaman pribadi akan Allah, terlebih dalam doa, setiap homili hanya menjadi kata-kata kering tanpa daya pewartaan. Boleh jadi, umat menuntut homili yang membumi bagaikan pesawat turun mendarat di lapangan pacu. Jika itu terjadi, maka homili dipikirkan top-down. Padahal secara etimologis, homilia adalah sebuah pembicaraan persaudaraan. Itu berarti terjadi dialog. Ketika persiapan homili, imam berdialog batin dengan kehidupan umat. Ketika mendengarkan homili, umat berdialog batin dengan Sabda Allah dalam keheningan. Imam dan umat peraya liturgi tidak saling menggurui. Maka terjadilah homili inkulturatif dan bukan homili yang membumi. Itu berarti homili mampu mengadakan “tranformasi mendalam dari nilai-nilai budaya asli yang diintegrasikan ke dalam kristianitas dan penanaman kristianitas ke dalam aneka budaya manusia yang berbeda-beda” (De Liturgia Romana et Incultururatione, No. 4).

Jacobus Tarigan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*