Artikel Terbaru

Rm Hadi: “Saya Melamarnya….. dan diterima” (Kisah 210 KAJ)

Beberapa imam praja KAJ.
[NN/Dok. UNIO KAJ]
Rm Hadi: “Saya Melamarnya….. dan diterima” (Kisah 210 KAJ)
3.6 (71.43%) 7 votes

HIDUPKATOLIK.com – Tahun ini, Gereja Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) merayakan 210 tahun peziarahannya. Imam diosesan/praja menjadi salah satu laskar KAJ dalam mengembangkan iman umat. Imam praja diharapkan bisa mengumat, melebur dengan umat.

Hujan baru pulang mengunjungi malam, ketika Romo Lodewijk Bambang S. Wiryowardoyo tiba di pastoran Gereja St Laurensius Alam Sutera, Tangerang Selatan. Tak langsung istirahat, Romo Bambang menyediakan waktu untuk membagikan kisah panggilannya sebagai imam praja KAJ.

Romo Bambang menceritakan, keinginannya menjadi seorang imam muncul kala ia menjadi misdinar. “Dulu saya tinggali Purwokerto, saat menjadi misdinar dan melihat sosok imam yang memimpin Misa, saya ingin menjadi romo,” kenangnya. Namun keinginan itu berlalu begitu saja.

Menginjak usia seperempat abad, keinginan menjadi imam kembali menyentuh hati Bambang, yang sudah bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta. “Waktu itu tahun 1972, saya membaca di Majalah HIDUP, Mgr Soekoto (Mgr Leo Soekoto SJ, Uskup Agung Jakarta kala itu-Red) membuka pendaftaran untuk Seminari Tinggi di Jakarta. Saya mendaftar dan diterima,” ujarnya.

Ia pun mengikuti masa formasi di STF Driyarkara Jakarta pada 1973 dan lulus pada 1974. Kemudian, Fr Bambang melanjutkan pendidikan teologi di Seminari Tinggi St Paulus Kentungan, Yogyakarta selama empat tahun. Pada 25 Januari 1978, Diakon Bambang ditahbiskan menjadi imam KAJ oleh Mgr Leo Soekoto.

Tugas perutusan pertama yang diemban Romo Bambang adalah melayani umat Paroki Salvator Slipi selama setahun (1978-1979). Lalu ia melayani di Paroki St Perawan Maria Diangkat ke Surga Katedral, Paroki St Thomas Rasul Bojong Indah dan mempersiapkan berdirinya gereja dan pastoran Paroki Bojong Indah. Ia juga pernah melayani di Paroki St Aloysius Gonzaga Cijantung, St Gabriel Pulogebang, Keluarga Kudus Pasar Minggu, St Ignatius Loyola Jalan Malang, St Odilia Citra Raya, dan St Matias Rasul Kosambi.

Iman Mengakar
Dalam menghayati hidup panggilan sebagai imam praja, Romo Bambang mengaku imanlah yang menguatkan setiap langkahnya. “Kalau nggak ada Yesus, nggak ada iman, saya nggak kuat,” tandas imam kelahiran Yogyakarta, 26 Agustus 1946 ini. Penguatan iman ini ia hayati dalam hidup doa, misalnya berdoa Brevir lima waktu dan Rosario. Menurutnya, imam praja mesti memiliki iman yang mengakar. “Juga harus bisa bekerja sama dengan imam-imam yang muda. Kita harus memberi kesempatan yang muda untuk maju. Jangan dianggap sebagai saingan!” ujarnya.

Bagi Pastor Rekan Paroki St Laurensius Alam Sutera ini, spiritualitas imam praja adalah melayani di tengah umat. “Imam praja itu pastor umat, harus mengumat. Spiritualitasnya itu spiritualitas berdasarkan keadaan dan situasi umat. Di mana dia berada, di situ dia ada… ada di tengah-tengah umat,” tegasnya. Imam praja, lanjutnya, juga mesti menjadi imam praja sejati. “Dia harus menjadi hamba; hangat, andal, misioner, yakni melayani dengan baik, bahagia, dan adil”

Dalam peziarahan 210 tahun Gereja KAJ, Romo Bambang berharap para imam, khususnya imam praja KAJ, semakin melayani umat dan memiliki spiritualitas sesuai umat yang dilayani. “Kita mesti melebur dengan umat, dengan Gereja dimana ia berada. Juga mesti taat dan patuh dengan uskup; paroki itu bukan milik kita,” demikian Romo Bambang.

Mengolah Hidup Rohani
Imam praja KAJ yang lain, Romo Martinus Hadiwijoyo Suko Martoyo juga tertarik menjadi imam sejak masa anak-anak. Namun, keinginan itu seolah berlalu begitu saja. Lulus SMA, ia kembali ingin menjadi romo. Sang ayah setuju, tapi ibunya tidak.

Meski tak mengantongi izin dari sang ibu, tak menghentikan langkahnya mendaftar ke Seminari Menengah St Petrus Kanisius Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Awalnya, ia tidak diterima, lalu ia minta diterima dahulu, dengan janji tak akan ada nilai rapornya yang merah, seperti saat di SMA dulu. Jika ada nilai merah di rapor, ia bersedia tidak melanjutkan di Seminari Menengah.

Kala melanjutkan studi filsafat tingkat dua, tahun 1974, bapaknya meninggal. Sebagai anak sulung dari delapan bersaudara, Fr Hadi yang sempat menjalani masa formasi sebagai frater tarekat Misionaris Keluarga Kudus (Missionaris Sanctae Familae/MSF) mengalami kebimbangan. Ia ingin membantu sang ibu untuk menghidupi keluarga dan membiayai sekolah adik-adiknya. Usai menyelesaikan studi filsafat, Fr Hadi memilih mundur. Ia mencari pekerjaan di ibukota.

Delapan tahun bekerja, panggilan sebagai imam tak lekang dari ingatan dan kalbunya. Dengan dukungan ibu dan adik-adiknya, ia kembali menyusuri panggilan menjadi imam. “Ketika mengikuti retret di Girisonta, saya disarankan melamar menjadi imam praja daripada ngulang. Saya pun mencari keuskupan hingga disarankan untuk melamar sebagai imam praja KAJ. Saya diterima oleh Mgr Leo.”

Tahun 1982-1984, Fr Hadi melanjutkan pendidikan teologi di Seminari Kentungan. Pada 4 Juli 1984, ia menerima tahbisan imamat bersama Romo F.X. Pranataseputra, Romo Jacobus Tarigan, Romo A. Kunarwoko, Romo Petrus Eko Susanto. Usai tahbisan imam, Romo Hadi mendapat tugas perutusan sebagai pastor rekan di Paroki St Fransiskus Xaverius Tanjung Priok. Ia juga pernah melayani di Paroki St Bonaventura Pulomas dan Keluarga Kudus Pasar Minggu.

Berpastoral di tengah kota metropolitan, tantangan yang dihadapi para imam, menurut Romo Hadi, seputar penghayatan iman imam yang kurang kokoh. “Dari sisi panggilan imamat, godaannya materialistis, penugasaan kompromistis, bukan ketaatan. Seharusnya sebagai imam praja, apa yang menjadi kesulitan uskup, menjadi kesulitan kita; apa yang menjadi masalah keuskupan, menjadi keprihatinan kita. Selain itu, pengolahan hidup rohani juga mesti terus dilakukan,” ujarnya.

Di tengah tantangan yang ada, Romo Hadi kagum dengan imam muda yang memiliki kepedulian kepada umat dan masyarakat di pelosok negeri. Mereka menyediakan diri untuk bermisi ke sana. “Misi ini didukung oleh KAJ. Solidaritas dan kepedulian bagi saudara-saudari di pelosok ini nampak jelas dan bagi saya menginspirasi.” Romo Hadi berharap, Gereja memilih pastoral menguduskan negeri, bangsa, khususnya di Jakarta ini. “Salah satu yang saya coba buat dengan merintis ziarah para presiden dan pahlawan bangsa. Kita ingin membuat langkah nyata bagaimana kita bisa menjadi garam dan terang,” ungkap imam kelahiran Yogyakarta, 26 Februari 1947 ini.

Syukur 210 Tahun
Melihat dinamika imam praja KAJ saat ini, Ketua baru UNIO KAJ (2017-2019), Romo Romanus Heri Santoso bersyukur, jumlah imam praja KAJ terus bertambah. Salah satu tantangan yang dihadapi, menurutnya, adalah bagaimana bisa terus menjadi pelayan yang baik dan murah hati.

Dalam pelayanan dan pastoral di KAJ, dibutuhkan teladan pribadi-pribadi yang matang dan penuh kedalaman rohani. “Jika mempunyai kedalaman rohani, maka seorang imam yang mau melayani, akan hidup semakin inklusif, bisa masuk dan membaur dalam masyarakat, memberi teladan umat, melibatkan umat, menjadi sahabat bagi agama lain. Itulah peluang dan sekaligus tantangan bagi pelayan umat di Jakarta.”

Dalam peziarahan 210 tahun Gereja KAJ, ujar Romo Romanus, imam praja memiliki tanggung jawab mengembangkan pelayanan umat. “Kegembiraan umat adalah sukacita kami dan sedih-duka, perjuangan dan nestapa umat adalah juga kesedihan kami sebagai pelayan dan sahabat umat. Walau tantangan selalu ada, itu bukanlah penghalang untuk memberikan pelayanan total dan murah hati,” ujar imam kelahiran Belitang, 13 Oktober 1980 ini.

Sementara itu, Ketua Panitia Misa khusus biarawan-biarawati, Romo Steve Winarto mengungkapkan, selama ini pelayanan para imam praja semakin baik dan semakin membaur dengan umat. Merefleksikan 210 tahun Gereja KAJ, Romo Steve mengkaitkan dengan perkembangan Gereja. “Kita bertanggung jawab dengan perkembangan Gereja di masa yang akan datang. Jadi dalam penghayatan Ardas KAJ (makin adil, makin beradab), semua Gereja harus diperlakukan adil, umat merasakan keadilan, semua Gereja harus punya gereja. Kita bertanggung jawab untuk yang belum bisa punya gereja,” paparnya.

Merayakan syukur peziarahan 210 tahun Gereja KAJ, beberapa kegiatan diusung, seperti Misa khusus untuk biarawan-biarawati se-KAJ, Misa dan perayaan untuk para Dewan Paroki Harian se-KAJ, dan Misa khusus untuk keluarga. Sebelum Misa untuk biarawan-biarawati, akan diadakan sesi dengan Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo dan Ketua KOPTARI Romo Adrianus Sunarko OFM. Dalam sesi itu, tema yang dibahas mengenai keterlibatan para imam, biarawan-biarawati dengan kekhasan masing-masing, bagaimana semakin terlibat memberi perannya, memperkaya pelayanan di KAJ, khususnya dalam konteks Ardas 2016-2020.

Maria Pertiwi
Laporan: Karina Chrisyantia/Edward Wirawan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*