Artikel Terbaru

Baca Perjuangan Papua Ini! Kalau Hati Anda Tidak Tergugah Sungguh Keterlaluan

Mgr Suharyo, Romo Lucky (kiri-kanan), beberapa imam KAJ, serta umat di depan Gereja Maria Menerima Kabar Gembira Bomomani.
[NN/Dok.KAJ]
Baca Perjuangan Papua Ini! Kalau Hati Anda Tidak Tergugah Sungguh Keterlaluan
3.7 (73.33%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.com – Keuskupan Agung Jakarta melebarkan sayap misi ke beberapa Keuskupan sejak milenium kedua. Tak hanya berbicara soal iman, tapi juga menyentuh pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan.

Gereja Stasi St Veronika Amaikebo terletak di ketinggian sekitar 1773 di atas permukaan laut. Stasi itu merupakan satu dari tujuh stasi yang berada di bawah teritori pelayanan Paroki Maria Menerima Kabar Gembira Bomomani, Keuskupan Timika, Kabupaten Dogiyai, Papua. Sejak 2004, misi di Bumi Cenderawasih itu dikelola Keuskupan Agung Jakarta (KAJ).

Beberapa literatur menyebut Amaikebo merupakan stasi terjauh dari pusat paroki. Jarak kedua wilayah itu sekitar 15 kilometer. Padahal masih ada stasi terjauh, yakni St Maria Della Strada di Pouto sekitar 22 kilometer. Lantas mengapa Amaikebo disebut sebagai stasi terjauh? “Di peta begitu. Tapi kalau ke Pouto bisa sambil merem. Medan ke Amaikebo itu berat sekali, mendaki dan curam,” tulis imam pertama KAJ yang bertugas di Bomomani, Romo Johan Ferdinand Wijshijer, melalui pesan singkat, Jumat, 5/5.

Amaikebo juga masuk dalam daftar destinasi turne Mgr Ignatius Suharyo. Uskup Agung Jakarta itu tiap tahun mengunjungi imam yang bertugas di wilayah paling timur Indonesia. Tiba awal Mei lalu, Mgr Suharyo langsung tancap gas mengunjungi kring-kring, kata Romo Reynaldo Antoni Haryanto. “Rencananya sampai 9 Mei, Bapa Uskup di sini,” tambah Romo Aldo, sapaannya, lewat WhatsApp, Kamis, 4/5.

Banyak Bersolek
Stasi Amaikebo, pun Paroki Bomomani, telah banyak bersolek saat ini. Berkat perbaikan infrastruktur jalan, wilayah Amaikebo bisa diterabas dengan kendaraan. Waktu tempuh sekitar dua hingga tiga jam dari paroki. Sementara pada 13 tahun silam, ketika pertama kali menjejakkan kaki di sana, kenang Romo Fe, sapaannya, butuh waktu tujuh hingga delapan jam.

Ketika Bomomani masih menginduk ke Kabupaten Nabire, moda transportasi andalan ke ibukota kapubaten adalah pesawat misi jenis Cesna 180 atau Pilatus PC-7. Memang ada angkutan darat, tapi butuh nyali hebat dan tahan banting. Sebab dengan bentang jarak 180 kilometer butuh dua hari hingga dua minggu perjalanan.

Tak pelak, lanjut imam yang kini menjadi Kepala Paroki Kalvari Lubang Buaya, harga barang atau kebutuhan pokok di pedalaman, seperti Bomomani, bisa meroket hingga tiga kali lipat dibandingkan di kota. “Harga bensin, solar, minyak tanah minimal Rp15.000, sementara di Nabire harganya Rp 5000,” ujarnya, mencontohkan.

Harga barang yang begitu membubung tinggi, tak sebanding dengan daya beli masyarakat yang pada umumnya sebagai peramu. Di sana, jamak terlihat laki-laki berusia 40 tahun ke atas mengenakan koteka. Penguasaan aksara juga amat minim, dari sekitar 5800 jiwa yang mendiami wilayah paroki seluas 4000 kilometer persegi, tak lebih dari sepuluh persen warga yang sanggup membaca dan menulis.

Situasi yang serba memprihatinkan itu, Romo Fe harus putar otak. Ia harus bisa memberdayakan umatnya, serta menghadirkan sarana penunjang, agar napas misi perdana KAJ di Bomomani bisa berumur panjang. Imam yang ditahbiskan pada 27 November 2002 ini lantas mengirim sejumlah aktifitas paroki ke Nabire. Romo Fe meminta mereka untuk mengamati cara produksi tahu. “Mengajari orang Papua untuk pertama kalinya membuat tahu adalah hal yang tidak bisa dilupakan,” ungkapnya.

Peluh berbuah nikmat. Umat akhirnya bisa membuat tahu sendiri, dan masih berproduksi hingga kini. Ada juga pemuda-pemuda yang dikirim ke Salatiga, Jawa Tengah untuk mengampu ilmu peternakan dan perkebunan. Hasilnya pun mocer. Paroki bisa memanen kedelai, dan beternak babi serta ayam pedaging. Anugerah itu untuk perbaikan gizi, dan menopang karya misi.

Imam yang pernah mengikuti pertemuan para peneliti Hak Asasi Manusia Asia-Pasific di Osaka, Jepang ini juga menginstalansi air bersih serta memasok listrik dari diesel berkekuatan 5000 watt. Listrik ini terutama diperuntukkan bagi kompleks guru Sekolah Inpres dan Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik. Romo Fe juga mendirikan kios-kios di tiap stasi.

Tujuh tahun berada di Bomomani, Romo Fe kembali ke Jakarta. Geliat karya misi terus bergerak. Romo Michael Wisnu Agung Pribadi melanjutkan karya yang telah diretas pendahulunya. Tiga tahun, imam asal Paroki St Paskalis Cempaka Putih, Jakarta Pusat berkarya di sana.

Romo Yustinus Kesaryanto meneruskan karya dua koleganya, Romo Fe dan Romi (Romo Michael, -Red). Romo Kesar, sapaannya, sempat setahun tinggal dan berkarya bersama Romi. Usaha memantik penerangan untuk masyarakat luas mulai terwujud pada April 2013. Pembangkit listrik tenaga air yang berasal dari Sungai Mapia mulai beroperasi.

Target Utama
Empat tahun berada di Bomomani, target utama yang dibidik Romo Kesar adalah pendidikan. “Ini modal utama bagi umat dan masyarakat di pedalaman untuk masa depan dan pelita untuk ‘kegelapan’ mereka,” kata imam yang sejak Mei 2015 menjadi Kepala Paroki St Albertus Agung Harapan Indah, Bekasi.

Model pendidikan yang dirintisnya adalah bimbingan belajar, terutama membaca dan menulis. Para peserta didiknya mulai dari anak-anak hingga orang tua. Selain itu, Romo Kesar juga mengajarkan matematika dan bahasa Inggris. Ia mengaku tak mudah men didik mereka.

Persoalan pertama adalah waktu. Mereka hanya bisa malam hari, sebab pagi sampai sore di kebun. Sementara malam kendalanya adalah penerangan. “Jika listrik mati karena kincir tersumbat sampah, atau air sungai mengering, mereka pakai lilin. Satu batang lilin sekitar Rp 5000,” ke luh nya.

Persoalan kedua adalah tempat. Mereka tak punya ruangan khusus untuk belajar. Beruntung, meski kadang di alam terbuka, atau hujan lebat, anak-anak tetap bersemangat belajar. Kegiatan belajar-mengajar juga mendapat sokongan tenaga dari para guru lokal, rekan imam, dan frater. Sejak 2011, KAJ juga mengirim frater ke Bomo mani, selain imam dan diakon.

Tak hanya keterampilan membaca dan menulis, serta kemampuan berhitung serta berbahasa Inggris, para pendidik juga mengajari anak-anak mandi memakai sabun, makan bersama, membuang sampah di tempatnya, dan mengobati luka. “Mereka mau sabun yang busanya banyak. Mereka tak mau sabun batang, mereka mau sabun bubuk, sayangnya sabun itu adalah rinso,” kenang Romo Kesar. Setelah Romo Kesar, berturut-turut imam KAJ yang pernah dan sedang berkarya di sana adalah Romo F. X. Suherman, Romo Aldo, Romo Paulus Dwi Hardianto, dan Romo Kristoforus Lucky Nikasius.

Sementara itu, misi lintas Keuskupan lain KAJ terdapat di Keuskupan Sintang. Ada Romo Antonius Adji Prabowo di Paroki St Maria Monfortan Badau dan Romo Benediktus Ari Dharmawan. “Selain Papua dan Kalimantan; Yogyakarta, dengan kehadiran dan pelayanan Romo Yus Bintoro di kompleks AURI, merupakan misi domestik KAJ juga,” ungkap Romo Adji saat ditemui di Wisma Unio KAJ, Samadi Klender, Jakarta Timur, Kamis, 4/5.

Pendidikan masih menjadi primadona bagi Romo Adji dan Romo Ari. Romo Adji misalkan, mengajar agama, matematika, bahasa Inggris, dan akuntansi di SMA 1 Badau. Imam yang mulai berkarya di Badau sejak 2005 mengungkapkan, dalam sepekan 20 jam waktunya ia curahkan di sekolah.

Imam yang seluruh rambutnya telah memutih itu juga memberikan katekese untuk umat. Ia mengakui, masih banyak umatnya yang pengetahuan sensus catholicus-nya kurang. “Ada yang nggak kenal Musa, Adam, dan Paulus. Tapi jangan ragukan religiusitas mereka. Jika terjadi sesuatu, tak segan mereka langsung mencari kami,” ujarnya sembari tersenyum.

Romo Ari di Paroki St Maria Immaculata di Merakai, juga mengajar di SD 04 dan SMP-SMA Karya Kasih. Bahkan tiap kali turne ke stasi-stasi, imam yang mulai berkarya di sana sejak 2013, tak abai memberikan pendidikan dan pembinaan khusus kepada anak-anak dan remaja. Ia melatih pemimpin ibadat, motivasi belajar, dan pen didikan pengenalan diri.

Buah Misionaris
Sebelas tahun di Badau, Romo Adji terpaksa kembali ke Jakarta, lantaran stroke yang menderanya pada 2016. Rona wajahnya terlihat sedih mengingat umatnya di sana. Mungkin Tuhan punya rencana lain lewat sakit saya ini, katanya lirih. “Ini buah menjadi misionaris. Seandainya misionaris kembali dengan penampilan putih, bersih, dan mulus, dia belum menjadi misionaris,” ujarnya sambil mengelus bekas codetan di tangannya, serta jejak knalpot panas di kakinya.

Memang, jatuh, terjungkal, atau bahkan terguling-guling biasa terjadi di ladang misi menantang seperti di Kalimantan. Romo Ari juga sempat mengalami kejadian nahas ketika akan memberi kursus persiapan dan memberkati pernikahan di Semareh, Merakai. Ia jatuh dari motor karena ban belakang slip. Saat itu hujan deras. Ia pun terpaksa bermalam di stasi terdekat.

Ada beragam kisah kesuksesan-kegagalan, jatuh-bangun yang tak dapat dimuat seluruhnya di lembaran ini. Mereka tak hanya hadir, tapi juga memberi diri untuk kebaikan sesama, sekaligus membentuk pribadi mereka. “Walaupun imam diosesan, perlu memiliki keterbukaan terhadap karya misionaris domestik. Pengalaman berkarya di pinggiran negeri amat berbeda dengan di ibukota. Sangat memperkaya cara berpikir, merasa, dan menghayati hidup. Sebuah transformasi hidup bagi saya,” demi kian Romo Ari.

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*